Pengakuan Gelandangan yang Nyaris Tewas Gara-Gara Hoax

Oleh Fajar Eko Nugroho pada 08 Mar 2017, 20:04 WIB
Diperbarui 08 Mar 2017, 20:04 WIB
Hoax penculikan anak
Perbesar
Pria paruh baya yang menjadi korban amukan masa yang termakan berita bohong atau hoax itu masih tergolek lemah di RSUD Brebes. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Liputan6.com, Brebes - Seorang gelandangan pria paruh baya yang menjadi korban amukan masa yang termakan berita bohong atau hoax masih tergolek lemah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Brebes, Jawa Tengah sejak Selasa malam, 7 Maret 2017. Kabar hoax yang membuat warga termakan itu soal adanya informasi penculikan anak yang dilakukan oleh orang-orang yang berpura-pura gila.

Korban dirujuk ke RSUD Brebes setelah sebelumnya mendapat perawatan medis di RS Dera Asyifa Banjarharjo. Dia dirawat dalam keadaan babak belur usai diamuk massa warga setempat dengan cara yang keji.

Korban ditangkap dan dianiaya oleh puluhan warga. Kekejian warga dilakukan dengan menggantung korban seperti hewan yang hendak disembelih, dengan posisi kedua kakinya diikat sebatang bambu dan kepala berada di bawah.

Setelah digantung di sebilah bambu, sejumlah warga memikul tubuh pria paruh baya berpenampilan kumal itu diarak keliling desa. Semua gara-gara informasi hoax yang beredar tak terbendung di media sosial.

Informasi yang diterima Liputan6.com, pria paruh baya itu bernama Toyo dan berusia 45 tahun. Dia warga Kuningan, Jawa Barat. Toyo merupakan gelandangan yang hidupnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan berjalan kaki.

Tak ada bukti bahwa Toyo penculik anak yang dituduhkan oleh sejumlah masyarakat setempat. Menurut petugas medis yang merawatnya, ia tidak mengalami gangguan jiwa dan mental.

"Bapak Toyo ini bisa diajak komunikasi. Ditanya namanya siapa, dari mana, punya keluarga apa tidak, juga nyambung kok," ucap seorang petugas medis yang namanya enggan disebut di RSUD Brebes, Rabu (8/3/2017).

Gara-gara disangka penculik anak, seorang gelandangan penderita gangguan jiwa nyaris tewas karena disiksa dan diarak keliling kampung di Kecamatan Banjarharjo, Brebes, Jateng. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Berdasarkan pemeriksaan dokter RSUD Brebes, korban mengalami luka-luka di bagian kepala dengan diagnosis mengalami gegar otak ringan, lalu luka di bagian badan dan kaki akibat kekerasan benda tumpul.

"Ini dari hasil pemeriksaan visit dokter pagi tadi, Pak Toyo mengalami luka-luka di bagian kepala, lebam di badan, kakinya juga luka dan harus diperban," ujar petugas medis itu.

Toyo sendiri sempat mau berkomunikasi. Dia mengaku tidak tahu-menahu perihal penculikan anak yang dituduhkan kepadanya.

"Demi Allah Swt saya tidak melakukan itu (penculikan anak), saya berani bersumpah," ucap Toyo sembari menitikkan air mata.

Menurut dia, tuduhan sebagai pelaku penculikan anak kepada dirinya merupakan fitnah yang keji dan tidak beralasan.

"Saya ini memang gelandangan tidak punya rumah. Keluarga saya sudah enggak ada semua, istri sudah meninggal dan enggak punya anak, tapi (tuduhan penculik anak) itu fitnah," kata dia.

Perihal dia menggelandang juga bukan berarti dia mengalami gangguan jiwa. Dia juga tidak ada niat untuk mengganggu warga desa, apalagi sampai mau menculik anak sebagaimana informasi hoax yang beredar.

"Bingung mau ke mana, memang hidup saya jalan-jalan ke mana-mana. Keluarga juga sudah enggak ada semua," ujar Toyo.