Banjir Bandang Terjang Gununghalu Bandung Barat Surut 1,5 Jam

Oleh Dinny Mutiah pada 24 Feb 2017, 09:04 WIB
Diperbarui 24 Feb 2017, 09:04 WIB

Liputan6.com, Bandung - Banjir bandang menerjang warga Kampung Pasanggrahan, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, tak pernah diduga sebelumnya. Pasalnya, kawasan tersebut terakhir kali mengalami banjir pada sekitar 1960-an.

"Ini sangat mendadak. Di luar perkiraan. Informasinya, banjir terakhir kali terjadi pada tahun 60an," kata Sekretaris BPBD Kabupaten Bandung Barat Hari Mustika kepada Liputan6.com, Jumat (24/2/2017).

Menurut Hari, banjir bandang yang melintasi wilayah sekitar pukul 15.30 WIB itu surut dalam 1,5 jam. Ia menduga banjir bandang itu disebabkan intensitas curah hujan yang tinggi sehingga hulu Sungai Cidadap tidak kuat menampung, serta ada sesuatu yang menyumbat aliran sungai.

"Kalau banyak sampah sih enggak ya. Kemungkinan besar karena di hulu sungai itu intensitas curah hujan sangat besar," kata Hari.

Akibat banjir bandang itu, sebanyak 19 kepala keluarga yang meliputi 58 jiwa mengungsi karena rumah mereka terendam banjir setinggi 1 - 2 meter. Mereka kebanyakan mengungsi ke rumah saudara mereka, tidak menempati tempat evakuasi yang berada di mess dan aula pabrik teh Montaya.

"Kemarin mereka sempat ke pengungsian, tapi sekarang kebanyakan sudah meninggalkan tempat pengungsian dan pindah ke rumah saudara," ujar dia.

Selain pengungsi, banjir bandang juga menyebabkan sebuah jembatan penghubung antara Desa Gununghalu dan Desa Mekarwangi di Kampung Tonjong rusak berat. Begitu pula dengan sawah warga yang kebanyakan berprofesi sebagai petani seluas 42 hektare terendam.

"Kerugian akibat kejadian adalah rusaknya barang-barang elektronik, furniture dan beberapa barang terbawa hanyut, dan rusaknya lahan pertanian yang ditaksir sebesar Rp 120 juta," kata Hari.

Ia berharap banjir bandang tersebut tidak terulang. Kini, pihaknya mengintensifkan penyisiran lokasi terdampak banjir bandang sekaligus penyerahan logistik kepada korban banjir.

"Kita mau menyisir. Kita takut masih ada lokasi lain yang belum tercover. Ini untuk antisipasi," ujar Hari.