Menyesap Kopi Pagi di Gubuk Tengah Hamparan Sawah

Oleh Mohamad Fahrul pada 21 Feb 2017, 06:03 WIB
Diperbarui 21 Feb 2017, 06:03 WIB
Menyesap Kopi Pagi dari Tengah Hamparan Hijau Sawah
Perbesar
Sambil mengusir burung yang mengincar bulir padi, membuka pagi di tengah hamparan sawah sangat menyejukkan. (Liputan6.com/Mohamad Fahrul)

Liputan6.com, Sumenep - Selepas salat subuh pagi itu, Hariyanto sudah bersiap ke luar rumah. Sambil mengalungkan ketapel, ia bergegas menuju gubuk di lahan sawah miliknya di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Ketapel yang dibawanya berfungsi untuk mengusir burung-burung yang mengincar bulir padi yang mulai menggendut. Meski sibuk, hatinya tetap sejuk sedingin embun yang menyelip di rerumputan.

Di kala musim tanam padi, kebanyakan warga setempat memanfaatkan waktu pagi dengan berjalan-jalan ke areal persawahan yang sekitar sebulan lagi akan panen. Bahkan, warga yang bukan petani tampak asyik menyempatkan diri memandangi kesibukan para petani dari kejauhan.

"Sebelum terbit matahari, biasanya petani banyak yang sudah berada di sawah. Biasanya kalau musim tanaman padi seperti ini mereka sibuk mengusir burung yang hendak makan bulir padi," kata Hariyanto ditemui Liputan6.com, Minggu, 19 Februari 2017.

Menurut dia, membuka pagi di persawahan sangat menyenangkan. Tak hanya untuk melindungi sawahnya, ia juga bisa memanfaatkan waktu untuk berolahraga guna menjaga kebugaran tubuh.

Sambil mengusir burung yang mengincar bulir padi, membuka pagi di tengah hamparan sawah sangat menyejukkan. (Liputan6.com/Mohamad Fahrul)

"Bagi saya, berjalan-jalan ke sawah sambil mengusir burung yang akan memakan bulir padi memang sangat menyenangkan. Karena selain menikmati dinginnya embun pagi, menikmati hangatnya kopi di persawahan memang sangat menyenangkan," tutur dia.

Hariyanto menjelaskan, aktivitas warga yang memanfaatkan pagi hari di areal persawahan tidak hanya dilakukan oleh petani saja, tetapi warga yang tidak memiliki lahan biasa meluangkan waktunya untuk berkumpul dengan petani di sawah.

Dengan tetesan embun yang belum kering di rerumputan, mereka merasa nyaman berjalan di persawahan tanpa alas kaki. Kegiatan pembuka hari itu juga bisa menghilangkan rasa jenuh dibandingkan hanya berdiam di rumah.

"Ini sudah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan, karena meski secara sepintas di sawah itu tidak indah, namun ketika beraktivitas rasanya cukup nyaman. Apalagi ditambah dengan suara kicauan burung yang semakin membuat betah menikmati indahnya pagi hari," ucap Hariyanto.

Warga yang menikmati pagi di hamparan sawah biasanya baru balik ke rumahnya ketika matahari sudah mulai terbit. Mereka berjalan pulang sambil menghangatkan tubuh di bawah sinar matahari pagi.

"Teriknya sinar matahari di pagi hari tersebut dapat menyegarkan tubuh untuk memulai aktivitas kegiatan pekerjaannya masing-masing," ujar Hariyanto.