Begini Penjelasan Larangan Perayaan Valentine di Semarang

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 13 Feb 2017, 18:30 WIB
Diperbarui 13 Feb 2017, 18:30 WIB
Valentine
Perbesar
Valentine

Liputan6.com, Semarang Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin, menegaskan larangan perayaan Hari Valentine oleh pelajar tidak bersifat kaku.  Larangan itu hanya berlaku untuk kegiatan negatif. Dinas Pendidikan mengijinkan perayaan Valentine Day dengan kegiatan yang positif.

“Jika kegiatan dalam rangka Valentine Day sifatnya positif, misalnya bakti sosial ya, tentu tidak ada larangan. Sekali pun itu diselenggarakan di lingkungan sekolah,” kata Bunyamin di Semarang, Senin (13/2/2017).

Sebelumnya dinas mengeluarkan Surat Edaran (SE) tertanggal 10 Februari dengan nomor 003/816 tentang larangan perayaan Hari Valentine. Namun edaran itu justru mengejutkan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi karena belum ada koordinasi.

Bunyamin menyebutkan penerbitan Surat Edaran (SE) tertanggal 10 Februari 2017 dengan nomor 003/816 itu, dimaksudkan untuk menghindari keterlibatan siswa didik baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah pada hal-hal yang bertentangan dengan agama dan budaya.

“Kalau perayaannya diadakan dengan melanggar norma budaya dan agama ya jelas kami larang,” katanya. 

Menurutnya, pelarangan itu untuk membangun karakter peserta didik yang berakhlak mulia dan terhindar dari kegiatan yang bertentangan dengan norma agama, sosial, dan budaya Indonesia. Edaran yang ditujukan kepada semua Kepala Sekolah SMP ini agar meneruskan ke orang tua dan meminta mengawasi putra-putrinya.

Menanggapi hal ini, Witono, salah seorang wali murid menyebutkan bahwa itu adalah kebijakan aneh. Untuk hal negatif, tanpa dilarang sekalipun, tentu penyelenggaranya akan sembunyi-sembunyi. 

2 dari 2 halaman

Asal Usul Valentine

Valentine
Perbesar
Valentine

Dari asal usul namanya, Gereja Katolik mengakui ada tiga santo atau orang suci bernama Valentine atau Valentinus. "Dan ketiganya adalah martir," demikian seperti dikutip dari situs Guardian, Jumat 13 Februari 2015. Ketiga pria dari masa 200-an Masehi tersebut tewas secara mengenaskan.



Salah satu kisah menyebut, alkisah Kaisar Romawi Claudius II melarang para tentara muda menikah, agar mereka tak 'melempem' di medan tempur. Namun,"Uskup Valentine melanggar perintah itu dan menikahkan salah satu pasangan secara diam-diam. Ia dieksekusi mati saat sang penguasa mengetahui pernikahan rahasia itu." 



Saat ia dipenjara, pria asal Genoa itu lantas jatuh cinta dengan putri orang yang memenjarakannya. Sebelum dieksekusi secara sadis, ia membuat surat cinta pada sang kekasih. Yang ditutup dengan kata, 'Dari Valentine-mu'. 



Valentine yang lain adalah seorang pemuka agama di Kekaisaran Romawi yang membantu orang-orang Kristen yang dianiaya pada masa pemerintahan Claudius II. Saat dipenjara, ia mengembalikan penglihatan seorang gadis yang buta -- yang kemudian jatuh cinta padanya. Valentine ini dieksekusi penggal pada 14 Februari. 



Valentine ketiga adalah uskup yang saleh dari Terni, yang juga disiksa dan diekselusi selama pemerintahan Claudius II, juga tanggal 14 Februari -- di tahun yang berbeda.

Lepas dari legenda, keterkaitan Santo Valentine dan cinta baru muncul lama kemudian. Dalam puisi Geoffrey Chaucer, penyair Inggris dan penulis buku terkenal, 'The Canterbury Tales'.  

Menurut Andy Kelly, seorang ahli bahasa Inggris  dari University of California, Los Angeles, yang menulis buku 'Chaucer dan Cult of St Valentine', 

Chaucer, menulis sebuah puisi berjudulParliament of Fowls (1382), untuk merayakan pertunangan Raja Richard II.

Dalam puisi itu, Hari Valentine dirayakan pada 3 Mei, bukan 14 Februari . "Itu adalah hari di mana semua burung memilih pasangannya dalam setahun," kata Kelly. "Tak lama setelahnya, dalam satu generasi, orang-orang mengambil ide untuk merayakan Valentine sebagai hari kasih sayang."



Valentine yang menjadi referensi Chaucer mungkin adalah Santo Valentine dari Genoa yang meninggal pada 3 Mei. Tetapi orang-orang pada saat itu tidak begitu akrab dengan sosok itu. Mereka lebih akrab dengan kisah Valentine dari Roma dan Terni yang dieksekusi pada 14 Februari -- yang lantas dikaitkan dengan cinta.



Kisah Hari Valentine juga bisa ditelusuri dari era Romawi Kuno, terkait kepercayaan paganisme. Tiap tanggal 13-15 Februari, warga Romawi kuno merayakan Lupercalia. Upacara dimulai dengan pengorbanan dua ekor kambing jantan dan seekor anjing.



Kemudian, pria setengah telanjang berlarian di jalanan, mencambuk para gadis muda dengan tali yang terbuat dari kulit kambing yang baru dikorbankan. Walaupun mungkin terdengar seperti semacam ritual sesat sadomasokis, itu dilakukan orang-orang Romawi lakukan sampai tahun 496 Masehi.

Sebagai ritus pemurnian dan kesuburan.

"Upacara diyakini bisa membuat perempuan lebih subur," kata  Noel Lenski, sejawaran dari University of Colorado, Boulder, seperti dimuat USA Today.



Puncak Lupercalia pada 15 Februari, di kaki Bukit Palatine, di samping gua -- yang diyakini menjadi tempat serigala betina menyusui Romulus and Remus -- pendiri kota Roma dalam mitologi Romawi.
Pada tahun 496, Paus Gelasius I melarang Lupercalia dan menyatakan 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine.

 

Lanjutkan Membaca ↓