Petani Jambi Tolak Duit Rp 2 Miliar demi Sepetak Sawah

Oleh Bangun Santoso pada 07 Feb 2017, 10:02 WIB
Diperbarui 07 Feb 2017, 10:02 WIB
Sawah eks penambangan emas
Perbesar
Sawah di Merangin kembali dihidupkan usai rusak dijadikan lokasi penambangan emas liar. (Bangun Santoso/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jambi - Kabupaten Merangin dikenal sebagai lumbung emas di Provinsi Jambi. Tak ayal, banyak warga berlomba-lomba mencari lokasi penambangan emas.

Banyak lokasi yang awalnya merupakan lahan pertanian kini berubah menjadi hamparan batu. Belum lagi air sungai yang terlihat kental dan keruh akibat aktivitas penambangan emas liar.

Tak sedikit warga yang rela menjual lahan sawahnya untuk dijadikan lokasi penambangan. Harganya bervariasi, mulai dari puluhan juta hingga miliaran rupiah. Namun dari sekian banyak warga, ada satu orang bernama Mutarudin yang berani menolak iming-iming duit Rp 2 miliar untuk melepas sawah miliknya.

Mutarudin merupakan salah seorang petani di Desa Bukit Perentak, Kecamatan Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin. Oleh warga sekitar dan khususnya para penambang emas liar, Pangkalan Jambu merupakan kecamatan yang diklaim banyak mengandung emas.

"Di sini (Kecamatan Panglakan Jambu) sudah puluhan hektare sawah berubah jadi ladang penambangan emas," ujar Mutarudin di Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin, Senin, 6 Februari 2017.

Pria 50 tahun itu menuturkan ada seorang tauke atau juragan yang menawar sepetak sawah miliknya Rp 2 miliar yang ditolaknya dengan tegas. Menurut dia, sawah miliknya sudah menjadi warisan nenek moyang dan sudah menghidupi garis keluarganya.

"Duit Rp 2 miliar itu akan habis cuma di saya. Saya tidak mau keturunan saya nanti tidak punya sawah. Saya sudah lihat banyak sawah menjadi rusak dan mati karena penambangan," tutur Mutarudin.

Hal itu juga dibenarkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Merangin, Rumusdar. Ia mengaku sangat bangga dan mengapresiasi sikap dari Mutarudin.

Menurut dia, tak banyak petani yang menolak uang banyak di tengah himpitan ekonomi maupun kondisi pertanian yang kadang tak menentu.

"Luas sawahnya sekitar satu hektare. Ini bisa menjadi contoh untuk warga lain," ucap Rumusdar.

Menurut dia, sudah banyak contoh kawasan eks penambangan emas yang rusak. Bahkan, sebagian warga yang sebelumnya beralih menjadi penambang kini ingin kembali pada kehidupan semula sebagai petani.

"Di daerah Pangkalan Jambi sudah sekitar 60 hektare sawah yang sebelumnya ditambang, mulai difungsikan lagi," tutur Rumusdar.

Menyasar Pinggiran Kota

Sementara itu, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Merangin, Badri Husin menyatakan, aktivitas penambangan emas di Merangin semakin meluas. Bahkan, pengusaha tambang menyasar hingga pinggiran Kota Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin.

"Yakni di sepanjang Sungai Murak di Kelurahan Dusun Bangko. Banyak aktivitas penambangan emas liar di situ," ucap Badri.

Aktivitas penambangan emas liar di sungai itu menggunakan peralatan khusus, yakni perahu dompeng atau perahu yang dimodifikasi untuk menambang emas. Akibatnya, air sungai kini terlihat keruh kecoklatan.

"Jumlah dompeng sudah banyak, ini mengkhawatirkan. Kami harap aparat terkait segera turun tangan," kata Badri mengakhiri.