Kata Psikolog soal Wanita Nekat Naik Motor Tanpa Busana

Oleh Aceng Mukaram pada 17 Jan 2017, 06:32 WIB
Diperbarui 17 Jan 2017, 06:32 WIB

Liputan6.com, Pontianak - R alias D nekat tanpa busana atau bugil saat mengendarai sepeda motor menuju Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Mendadak sontak, aksi nekat ini menggemparkan warga Pontianak dan media sosial atau medsos.

Aksi R tanpa busana atau bugil di depan umum itu pun mendapat perhatian psikolog Fitri Sukmawati. Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kalbar itu menilai aksi heboh R tersebut dinamakan proses psikologi tidak instan.

"Apalagi perubahan perilaku orang. Tidak mungkin orang gila itu langsung gila, pasti ada penyebab-penyebab sebelumnya, ada indikasi-indikasi sebelumnya," ucap Fitri Sukmawati saat ditemui Liputan6.com di Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Kalbar, Senin, 16 Januari 2017.

Fitri pun menilai, orang stres tidak bisa langsung stres berat. Dengan kata lain, ada indikasi masalah kecil yang dibiarkan, sehingga menjadi stres ringan.

"Lama-lama stres sedang, stres berat dan sehingga menjadi depresi," ujar Fitri yang juga dosen di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Pontianak.

Fitri menyebut, depresi ujung-ujungnya orang menjadi bunuh diri, itu salah satunya. Menurut dia, bentuk orang depresi itu banyak, bisa tidak mau makan, perilakunya aneh, dan adaptif.

"Jadi perilaku tidak sesuai dengan kondisi, ini salah satunya saking stresnya yang tinggi," kata Fitri.

Aksi nekat R boleh dikatakan tidak umum. Sebab, membuat sensasi di luar akal sehat. "Kasus yang kemarin itu stresnya dia, membuat perilaku dari umumnya, melanggar norma agama, norma sosial, sehingga membuka pakaiannya yang itu ditontonkan kepada semua orang," ia menambahkan.

Dalam psikologi, menurut Fitri, ada orang yang mengalami perilaku penyimpangan seksual, namanya ekshibisionis yang menunjukkan alat kelamin dan merasa bangga.

"Dan itu lain lagi ceritanya. Ini kan, seluruh tubuhnya. Tapi ketika suatu saat dihubungi dia sadar, bukan berarti dia gila. Ada yang membuat dia tertekan, stres itu pasti ada," Fitri memaparkan.

Ia berharap, kondisi yang menimpa R harus segera ditangani dan menjadi perhatian serius semua pihak. "Artinya bagaimana kita menolong orang ini, mengembalikan ke jalan yang benar. Jangan sampai dia menjadi depresi berat. Banyak faktor, apalagi dia jauh dari keluarga dan sebagainya."

Soal Video Beredar di Medsos

Fitri pun menyinggung terkait viralnya foto dan sebuah video yang menunjukkan sosok R alias D. Untuk itulah, ia meminta semua pihak bijak dalam membaca sebuah informasi maupun media sosial atau medsos saat ini.

"Untuk ini bagaimana kita bisa menyikapi sebuah berita, dari media mana pun, menyikapi dengan bijak. Kalau kita melihat sekarang memang gampang sekali mendapat informasi, mau dari mana pun itu cepat sekali," Fitri mengingatkan.

"Tidak boleh kita mencaci-maki orang tersebut. Atau kita malah mem-forwad ke lain-lain lagi, foto atau video yang aneh-aneh itu," ia menambahkan.

Media sosial, lanjut Fitri, tidak hanya dipakai remaja dan orang dewasa. Ada anak-anak yang juga mengaksesnya.

"Sehingga jangan sampai anak-anak bisa mengakses sesuatu yang tidak layak. Kalau bisa dibuang saja (foto/video), kita saling menjaga, dan gunakanlah media sosial menjadi hal yang positif," kata Fitri.

Lebih lanjut Fitri mengatakan, terkait pemanfaatan media sosial secara ramah, caranya dengan menyebarkan informasi-informasi yang positif, kemudian pembelajaran, menjadi hal yang positif.

"Bukan menjadikan orang menjadi emosi berlebihan, memicu dendam, memicu amarah," Fitri menegaskan.

Secara umum, Fitri menilai orang stres dilihat dari perilaku kejiwaan dan fisik. Secara fisik itu misalnya tidak mau makan, mudah berkeringat, dan gampang deg-degan. Kemudian dari psikologis, mulai menarik diri, blocking dalam berpikir.

"Stres itu bisa menjadi peringatan untuk kita, bisa menjadi positif dan menjadi negatif. Stres itu suatu ketegangan secara psikologis," ujar Fitri.

Dalam kehidupan, menurut Fitri, setiap orang pasti punya masalah. "Jadi, orang yang bermasalah itu bagaimana menyelesaikan masalah itu dengan baik. Ada masalah itu yang bisa segera diselesaikan, ada yang mungkin dia perlu bantuan orang lain."

Dengan menghadapi masalah, imbuh dia, menjadikan orang lebih dewasa. Sebab, masalah itu harus dihadapi, diselesaikan, dan dinikmati.

"Karena, kalau kita tidak menikmati hidup, kita akan menjadi stres sendiri. Selain itu, fondasi agama itu penting. Karakter dalam psikologi itu bisa berubah, artinya kepribadian itu dinamis," psikolog itu memungkasi penjelasan mengenai perempuan nekat bugil dan kemungkinan faktor psikologis yang mendasarinya.

Lanjutkan Membaca ↓