Harmoni Keberagaman Semesta dalam Tarian Agraris

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 23 Des 2016, 20:00 WIB
Diperbarui 23 Des 2016, 20:00 WIB
Jathilan muntilan
Perbesar
Pertunjukan Jathilan Muntilan ternyata sarat pesan toleransi.

Liputan6.com, Semarang - Sriyanto (36), sudah bangun pagi-pagi. Biasanya, usai menjalankan salat subuh, ia tetap ke sawahnya yang kali ini dia tanami cabai rawit. Namun kali ini ada yang berbeda. Ia menyiapkan sejumlah kostum serba berwarna putih.

Selesai semua, ia baru menengok sawahnya. Namun di sana ia juga tak betah berlama-lama. Hanya dus jam ia melihat-lihat tanaman cabainya. Dengan buru-buru ia pulang.

"Hooh je. Ngko main neng Keron dadine mulih gasik. Nonton orang Lik? (Iya. Nanti main di dusun
Keron, jadi pulang lebih awal. Mau nonton enggak, paman?)," kata Sriyanto menjawab pertanyaan
seseorang yang berjumpa di sawah.

Sriyanto adalah seorang petani dari Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sedayu adalah sebuah desa yang memiliki tradisi muslim yang kuat dan taat. Di desa itu terdapat sebuah kelompok seni jathilan bernama Rukun Agawe Santosa. Meskipun bertradisi muslim sangat kuat, namun kehidupan kesenian Jathilan juga sudah mendarah daging.

Menurut Suhadi, Ketua Kelompok Seni Jathilan Rukun Agawe Santosa (RAS), ia hanya meneruskan dan menjaga denyut seni tari yang sangat identik dengan kondisi trance.

“Sebenarnya ada dua jenis. Pertama Jathilan, kedua adalah seni Jathilan Campur. Kenapa semua
dijaga, karena bentuk seni pertunjukan satu ini sudah menggambarkan harmoni dan keseimbangan semesta,” kata Suhadi, Jumat (23/12/2016).

Karakter Imajinatif

jathilan muntilan2
Perbesar
Gerak karakter Buto Abang (raksasa merah) yang dinamis, tak menggangu karakter lain yang lebih halus, meski musiknya sama

Menurut Suhadi, dalam kesenian Jathilan maupun Campur, sejatinya menyampaikan pesan harmoni keberagaman semesta. Disebutkan dalam sebuah Jathilan selalu berisi banyak karakter. Misalnya, pasukan berkuda, buto (raksasa), tokoh pewayangan, karakter binatang dan karakter lain yang imajinatif. Karakter-karakter imajinatif itu mewakili adanya kehidupan di luar kehidupan manusia awam.

Perbedaan-perbedaan itu ternyata tetap bisa disatukan oleh musik pengiring atau musik illustrasi. Jathilan masa kini memang berbeda dengan Jathilan klasik, ilustrasi musik di beberapa kelompok ditambah dengan alat musik diatonis dan perkusi modern seperti keyboard dan juga drum.

"Tapi lihatlah, karakter-karakter yang berbeda watak itu bisa menyatukan gerak mereka mengikuti ritme musik," kata Suhadi.

Suhadi sendiri sempat mengeluhkan banyaknya sikap intoleran yang belakangan menonjol di Indonesia. Ia berani memastikan bahwa kelompok intoleran itu lebih disebabkan karena tak memiliki akar budayanya sendiri.

Dalam sebuah pertunjukan Jatilan, ada babak yang bernama kiprah. Babak ini adalah tarian bebas menyesuaikan dengan karakter yang ada. Sosok buto (raksasa) akan menari dengan berangasan, karakter binatang akan menyesuaikan dengan gerak gerik binatang.

"Meski memiliki ciri gerak berbeda, namun mereka disatukan oleh ilustrasi musik, sehingga mereka tidak saling mengganggu. Memang ada semacam drama. Misalnya karakter binatang macan akan selalu mengejar karakter binatang yang menjadi mangsanya, namun karena ada kesadaran ruang, mereka malah membentuk suatu harmoni yang bisa menghibur penontonnya," kata Suhadi.

Dalam pertunjukan jathilan Muntilan ini, babak yang ditunggu penonton memang babak kiprah di mana puncaknya adalah para pemain akan mengalami trance. Meskipun demikian, dalam kondisi tidak sadar dan hanyut terbawa alunan musik pengiring, para pemain ini masih mampu menari dengan membentuk sebuah harmoni. Bukan hanya harmoni gerak, namun juga harmoni bunyi yang dihasilkan dari bunyi giring-giring yang diikat di kaki mereka, juga harmoni warna yang ditunjukkan melalui pakaian dan make up mereka.

Yang menarik, jathilan Muntilan ini selalu tampil kolosal. Minimal membawa 80 pemain, tak satu pun mereka memiliki tukang rias. Para pemain ini akan merias dirinya sendiri sesuai karakternya dan selera mereka.

"Anehnya, hasil riasan mereka ternyata membentuk sebuah harmoni berbeda lagi dengan pemain lain. Dan itu dicapai tanpa komunikasi," kata Suhadi.

Sriyanto, petani yang disebut di awal tulisan ini, selalu memerankan karakter Hanoman. Meskipun tak ada karakter Rahwana yang menjada lawan Hanoman, namun ia selalu mampu membentuk keselarasan dengan riasan maupun gerak penari lain, tanpa harus kehilangan ciri karakter geraknya sebagai Hanoman.

Kontemplatif

jatilan muntilan3
Perbesar
Karakter Buto (raksasa) yang berwajah menyeramkan tetap diakhiri dengan kontemplasi hakekat hidup adalah membentuk harmoni dari perbedaan

"Yang paling penting, dengan menjadi pemain Jathilan, sikap-sikap toleran otomatis akan menyatu dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Desa kami memiliki tradisi muslim yang kuat, tapi kami mampu menyatu dengan tradisi di luar muslim yang hidup di sekitar kami," kata Suhadi.

Semua karakter yang ditarikan secara skenario memang dibuat bermusuhan. Misalnya pasukan berkuda dibuat dua kelompok yang bermusuhan. Namun sebagai bahan kontemplasi, dalam sebuah peperangan mereka akan bergantian mengalami kekalahan.

"Yang menang tak boleh jumawa dan merasa hebat, yang kalah tak perlu malu dan rendah diri. Hidup itu berputar. Baik dan jahat itu ada di benak masing-masing orang. Sejauh mana mampu mengelola dan mengubahnya menjadi baik sangka, itu inti sari hidup," kata Suhadi.

Perbedaan yang terjadi akhir-akhir ini lebih berlatar belakan beda agama, keyakinan, atau etnis. Namun dalam sebuah seni jathilan, ternyata perbedaan justru lebih kompleks. Bukan hanya isi kepala, namun juga berbeda wujud, berbeda dunia.

"Perbedaan sekarang itu sebatas kulitnya saja karena masih sama-sama manusia. Belajarlah bermain jathilan, maka akan mengerti bagaimana perbedaan wujud, karakter, keyakinan, isi kepala, makanan bukanlah halangan membentuk suatu harmoni," kata Suhadi.

Begitulah. Ketika gamelan pengiring sudah memasuki fase tembang Macapat Megatruh, semua akan berkontemplasi. Sriyanto yang memainkan karakter Hanoman, Ardi yang membawakan karakter Buto Ijo (Raksasa Hijau), Mbah Sarno yang memerankan Penthul (sosok manusia kebanyakan) semua memang masih trance dan tidak sadar.

Banyak yang menyebut mereka kerasukan. Namun kerasukan kali ini tak ada anarkisme, tak ada sifat destruktif. Justru di akhir babak mereka diajak berkontemplasi melalui tembang.

Penonton bubar dengan puas. Pemain lemas namun juga puas.

 

Lanjutkan Membaca ↓