Panen Raya Durian, Petugas Kebersihan Pontang-Panting di Jalan

Oleh Yuliardi Hardjo Putro pada 21 Des 2016, 08:02 WIB
Diperbarui 21 Des 2016, 08:02 WIB
Puncak Musim Panen Pedagang Durian Bengkulu Banting Harga

Liputan6.com, Bengkulu - Berita gembira bagi penggemar buah durian. Memasuki puncak musim panen durian pada akhir Desember, pedagang durian di Bengkulu mulai banting harga.

Dharmawan (43), pedagang asal Kabupaten Seluma mengaku buah durian saat ini sudah mulai membanjiri Kota Bengkulu sejak sepuluh hari terakhir. Tidak hanya dari Kabupaten Seluma saja, hampir seluruh kabupaten di Provinsi Bengkulu mengalami panen serentak.

Akibatnya, hampir di setiap sudut kota terlihat pedagang menggelar dagangan buah yang mengeluarkan bau khas tersebut. Bahkan, lokasi yang biasanya bersih dari orang berdagang, saat ini sudah dipenuhi buah durian dengan sampah kulit yang berserakan.

"Biasa kami jual satu buah ukuran sedang hingga besar Rp 30.000. Kondisi banjir durian sekarang, kami terpaksa menjual setengah harga," ujar Dharmawan di depan Gedung Balai Buntar Bengkulu, Selasa, 20 Desember 2016.

Untuk durian ukuran kecil, dia menjual secara borongan. Tiga buah hanya dijual dengan harga Rp 20.000 saja.Jika dibeli dalam partai besar, bisa saja satu buah hanya dihargai Rp 5.000 saja.

Yulianto, salah seorang pemilik kebun durian di Kabupaten Bengkulu Tengah mengaku terpaksa menjual sendiri hasil kebunnya. Sebab setiap hari puluhan hingga ratusan butir buah durian jatuh dan harus segera dijual. Jika tidak, dikhawatirkan akan membusuk.

"Tahun lalu, ada pedagang pengumpul yang memborong durian kami yang masih ada di pohon. Sekarang sudah sulit karena hampir semua wilayah panen, tentu saja harganya anjlok," keluh Yulianto.

Syaiful Bahri, petugas kebersihan yang setiap hari harus memunguti sampah kulit durian dan membawanya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mengaku, tugas yang diembannya semakin berat karena tumpukan kulit durian yang berserakan harus diangkut.

Biasanya, dalam satu hari dia bersama timnya mengangkut kontainer sebanyak lima kali. Sekarang bisa delapan hingga sepuluh kali angkut dalam satu hari.

"Kami terpaksa mengutip ongkos angkut kepada pedagang durian, karena operasional kantor tidak mencukupi jika kami mengangkut sampah kulit durian ini setiap hari," kat Syaiful.