Kisah Ayah dan Anak Balita Terbenam Longsor di Manado

Oleh Yoseph Ikanubun pada 16 Des 2016, 15:17 WIB
Diperbarui 16 Des 2016, 15:17 WIB
Longsor di Manado Tewaskan Ayah dan Anak Balitanya

Liputan6.com, Manado - Hujan deras yang mengguyur kota Manado dan sekitarnya pada, Kamis 15 Desember 2016 sore hingga malam menyebabkan sejumlah kawasan di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara itu digenangi banjir hingga setinggi paha orang dewasa.

Tidak hanya itu, bencana susulan berupa tanah longsor juga ikut menerjang yang mengakibatkan dua warga, ayah dan anak balitanya tertimbun di Kelurahan Paal 4.

"Yang menjadi korban adalah Miton Abdulah berumur 24 tahun, dan anaknya Gio Abdulah bocah berumur 2,5 tahun," ungkap Lily Piri, warga kelurahan Paal 4, Kecamatan Tikala, Manado.

Lily menambahkan, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 23.30 Wita, saat penghuni rumah keluarga Abdulah-Limude itu tengah terlelap. "Rumah itu rata tanah, bahkan terperosok ke dalam longsoran," ujar dia.

Ribka Limude, sang istri menuturkan, dia kaget dan terbangun dari tidurnya saat tanah dari tebing yang ada di belakang rumah runtuh dan menimpa rumah yang dindingnya hanya terbuat dari triplek tersebut.

Ribka yang sudah dalam keadaan tertimbun masih bisa menyelamatkan diri, sementara anak dan suaminya tertimbun tanah. "Saya berusaha selamatkan diri dan cari bantuan," ujar dia.

Miton suaminya akhirnya ditemukan Jumat pagi (16/12/2016) sekitar pukul 05.00 Wita dalam keadaan sudah tak bernyawa. Sedangkan, upaya pencarian masih terus dilakukan untuk menemukan Gio anaknya.

Pantauan di lokasi kejadian, alat berat berita ekskavator dikerahkan untuk mencari Gio. Puluhan personel dari aparat kepolisian hingga tim SAR masih mencari korban.

Selain ayah dan anak ini, terdapat juga korban yang jatuh ke sungai bernama Idrus Mangantar (20), warga Kombos Timur Lingkungan V, Singkil.

Intensitas hujan yang meningkat di wilayah Sulawesi Utara termasuk Manado mengakibatkan beberapa titik terjadi banjir dan tanah longsor sejak Kamis malam. Di sejumlah kecamatan seperti Sario, Wenang, Tikala, dan Paal 2, tinggi air bahkan mencapai hingga paha orang dewasa. Genangan air ini tidak berlangsung lama karena kemudian surut kembali.