Kronologi Tabrakan Perahu Nelayan Versi Serikat Nelayan Cirebon

Oleh Panji Prayitno pada 07 Des 2016, 16:05 WIB
Diperbarui 07 Des 2016, 16:05 WIB
Sulit Cari Ikan, Nelayan Filipina Mencuri di Perairan Indonesia
Perbesar
Kapal nelayan.

Liputan6.com, Cirebon - Serikat Nelayan Indonesia (SNI) Cirebon membenarkan telah terjadi insiden tabrakan perahu nelayan dengan kapal tongkang pada Sabtu, 3 Desember 2016. Dalam tabrakan tersebut, tujuh nelayan pencari cumi-cumi asal Cirebon menjadi korban.

Ketua Serikat Nelayan Indonesia (SNI) Cirebon, Ribut Bachtiar, menyebut seluruh nelayan tersebut berasal dari Desa Gagasari, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon.

"Benar, mereka warga Desa Gagasari, Kecamatan Gebang," kata Ribut, saat dihubungi, Rabu (7/12/2016).

Ribut pun menuturkan asal mula kejadian ditabraknya perahu nelayan oleh kapal tongkang saat sedang beristirahat. Menurut dia, perahu nelayan tidak ditabrak badan kapal tongkangnya, melainkan gandengan kapal yang biasa digunakan untuk mengangkut barang.

"Jadi, ditabraknya sama gandengannya, bukan langsung tongkangnya," kata Ribut.

Dia menyebutkan ada dua kemungkinan penyebab kecelakaan itu. Pertama, kecelakaan bisa karena nakhoda kapal tidak mengetahui ada perahu nelayan yang sedang istirahat. Kedua, nakhoda memang sengaja menabrak kapal nelayan itu.

Perkiraan ini disampaikan Ribut berdasarkan pada cukup seringnya kapal nelayan menjadi korban tabrakan dengan tongkang. "Mereka itu sering berlayar mendekati kita. Seperti sengaja mau menabrakkan diri," kata Ribut.

Untuk saat ini, empat korban selamat yang sudah ditemukan sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Hingga saat ini masih ada tiga nelayan yang masih dalam pencarian tim Basarnas dan pihak kepolisian.

"Semoga saja mereka ditemukan dengan selamat. Satu korban selamat yang ditemukan kemarin juga ternyata diselamatkan oleh nelayan asal Indramayu," kata Ribut.

Berdasarkan data Tim SAR, Rabu (7/12/2016) yang disampaikan Humas dan Protokoler Basarnas Bandung, Joshua Banjarnahor, korban yang masih dalam pencarian adalah Rasidi (35), Thomas (30), dan Sarka (20).

Joshua menyampaikan tim SAR Gabungan yang melibatkan Kansar Bandung, Polair Karawang, Pokmas Karawang, SAR Unpad, dan nelayan setempat kembali melanjutkan proses pencarian korban dengan penyisiran melalui darat dari Ciparage sampai Cilamaya.