Berkah Tersembunyi dari Bau Busuk Kotoran Babi

Oleh Yoseph Ikanubun pada 30 Nov 2016, 16:31 WIB
Diperbarui 30 Nov 2016, 16:31 WIB

Liputan6.com, Airmadidi – Krisis listrik yang melanda Sulawesi Utara dan kelangkaan tabung gas untuk keperluan rumah tangga tak membuat warga di Desa Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, susah hati. Mereka mampu mendapatkan sumber energi dari kotoran babi.

"Ide pembuatan energi alternatif ini berawal dari keluhan warga terkait bau menyengat dari kotoran hewan babi yang dipelihara, tak jauh dari permukiman penduduk," kata Konsultan Pertanian Terpadu, Herry Rumimper, Rabu (30/11/2016).

Setelah dikaji dan disosialisasikan, masyarakat Desa Tumaluntung setuju dengan ide pemanfaatan limbah ternak menjadi biogas. Ia bersama rekannya, Youdi Taroreh, lalu membentuk kelompok tani dan membangun reaktor yang memproduksi biogas pada 2013.

"Kemudian, biogas baik gas kompor dan gas listrik bisa dimanfaatkan mulai awal tahun 2014," ujar Herry.

Awalnya, kata dia, setiap kotoran ternak dikumpulkan secara manual kemudian ditampung di reaktor sehingga memang cukup repot pekerjaannya. "Namun, saat ini sudah dibangun pipa sambungan dari kandang ke reaktor sehingga kotoran ternak bisa disiram dan mengalir langsung ke reaktor kemudian diproses," ujar dia.

Herry menerangkan, 50 kg kotoran yang dihasilkan dari 70 ekor ternak setiap harinya bisa menghasilkan 10 kubik gas. Gas yang dihasilkan itu bisa menyala 5-6 jam per hari.

"Baik gas kompor maupun gas listrik oleh lima rumah tangga," ujar dia.

Youdi menambahkan, semakin banyak kotoran ternak yang diolah, makin banyak gas yang dihasilkan. Keunggulan biogas dalam bentuk gas ini, kata dia, memiliki tekanan yang rendah serta cepat menguap sehingga tidak berisiko meledak.

"Ini berbeda dengan risiko dari gas elpiji berbentuk cair dengan daya ledak kuat. Karena relatif aman, penyaluran gas pun hanya menggunakan pipa PVC 2 inci," kata Youdi.

Hemat Uang Dapur

Ketua Kelompok Tani Karioka, Charles Karamoy, mengatakan, saat ini baru lima keluarga yang memasang instalasi langsung dari reaktor. Jumlah tersebut akan ditambah tahun ini setelah masyarakat mengakui manfaat biogas bagi rumah tangga.

"Kami tidak memungut biaya untuk gas yang digunakan. Sehingga dengan hadirnya biogas, masyarakat di sini bisa menghemat biaya rumah tangga hingga ratusan ribu rupiah dalam satu bulan. Ke depan, juga kami akan mengganti pipa instalasi yang lebih besar dan menjangkau lebih banyak rumah penduduk," tutur Charles.

Tak jauh dari instalasi biogas yang terpasang, berdiri sekretariat Kelompok Tani Karioka. Sejumlah ibu sibuk menyiapkan sejumlah jajanan yang digoreng.

"Semenjak bergabung di kelompok, ekonomi keluarga kami bisa terbantu. Ini karena dengan adanya biogas yang kami manfaatkan untuk memasak, membuat kue untuk dijual. Selain itu juga listrik tetap menyala meski ada pemadaman dari pihak PLN," ujar Anny Dompas, salah satu anggota kelompok Karioka.

Belum semua warga desa memanfaatkan biogas itu karena memang membutuhkan biaya untuk pengadaan instalasi reaktornya. Terhitung, baru lima rumah yang bisa menikmatinya, dari ratusan rumah yang ada di Desa Tumaluntung. Meski demikian, aparat desa optimistis untuk mengembangkan pemanfaatan biogas itu guna memenuhi kebutuhan penduduk.

"Nanti dalam Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Desa tahun 2017, kita mohon warga untuk memasukkan program ke kami apa yang mereka butuhkan. Termasuk memang pengembangan biogas ini," kata Sekretaris Desa Tumaluntung Frangky Dotulong.

Frangky mengatakan, pemerintah desa sangat bersyukur ada pihak ketiga membantu masyarakat dalam hal pemanfaatan kotoran babi menjadi biogas. "Untuk peningkatan kesejahteraan warga, kami akan topang melalui bantuan anggaran desa," ujar Frangky.