Lumba-Lumba Tanpa Sirip Muncul di Perairan Kubu Raya

Oleh Aceng Mukaram pada 08 Nov 2016, 15:30 WIB
Diperbarui 08 Nov 2016, 15:30 WIB
Menakjubkan, Proses Kelahiran Lumba-lumba yang Tertangkap Kamera
Perbesar
Saksikan bagaimana untuk pertama kalinya spesies lumba-lumba ini tertangkap kamera melahirkan anaknya.

Liputan6.com, Kubu Raya - Mamalia laut yang terjaring oleh nelayan di pesisir Desa Padang Tikra I, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada April 2016 dipastikan adalah jenis lumba-lumba tanpa sirip (finless porpoise).

Manajer Program Kalimantan Barat, WWF Indonesia, Albertus Tjiu mengatakan kepastian itu berdasarkan hasil tes DNA yang selama 7 bulan terakhir dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, WWF Indonesia dan Indonesian Biodiversity Research Centre Universitas Udayana.

Albertus Tjiu menjelaskan, lumba-lumba tanpa sirip termasuk ke dalam kelompok Cetacean paling kecil. Umumnya berukuran kurang dari dua meter. Mamalia laut lain yang termasuk ke dalam golongan Cetacean adalah paus, lumba-lumba dan pesut.

"Bahwa hasil tes DNA terhadap jenis lumba-lumba tanpa sirip yang dijumpai di perairan Kubu Raya beberapa waktu lalu, sangat penting, mengingat minimnya data terkait satwa ini di dunia," kata Albertus dalam keterangan tertulis kepada Liputan6.com, Senin, 7 November 2016.

Albertus menerangkan, porpoise berbeda dengan Cetacean lainnya. Hewan itu merupakan hewan pemalu dan bukan hewan akrobatik sehingga jarang terlihat di permukaan, kecuali saat ia ingin bernapas. Sedangkan, lumba-lumba umumnya interaktif, senang melompat tinggi sehingga sering terlihat dekat dengan nelayan dan bisa dilakukan pengamatan.

Maka itu, penelitian Porpoise menjadi sulit dilakukan mengingat minimnya perjumpaan terhadap satwa perairan jenis ini di berbagai lokasi di dunia. Bahkan di Indonesia, belum pernah dilakukan penelitian khusus terhadap spesies ini.

"Bagi kami, penemuan spesies ini di wilayah Kubu Raya menambah informasi penting tentang keberadaan dan sebaran spesies lumba-lumba tanpa sirip di Indonesia. Selain itu, informasi ini juga akan disampaikan pada acara 2nd Southeast Asian Marine Mammal Stranding Network Symposium – Workshop-Training," kata Albertus.

Albertus juga menegaskan, temuan lumba-lumba itu semakin menegaskan bahwa perairan Kubu Raya adalah habitat penting bagi mamalia laut. Sebelumnya, paus terdampar pada Oktober di Kecamatan Padang Tikar dan pesut ditemukan pada 2011 di wilayah itu.

Maka itu, kesinambungan antara upaya konservasi kawasan maupun spesies dari aspek ekologi dan kehidupan masyarakat harus terus berjalan di Kubu Raya.

"Dari 88 jenis Cetacean yang ada di dunia, 34 di antaranya terdapat di Indonesia dan tiga di antaranya bisa dijumpai di wilayah perairan Kabupaten Kubu Raya dengan komposisi jenis yang lengkap," ujar Albertus.

2 dari 2 halaman

Lansekap Kubu

Lumba-Lumba Tanpa Sirip Muncul di Perairan Kubu Raya
Perbesar
Lumba-lumba tanpa sirip disebut sebagai hewan pemalu, berbeda dengan saudaranya. (Liputan6.com/Raden AMP)

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Sustyo Iriyono menyatakan temuan-temuan itu patut dibanggakan karena semakin menunjukkan bahwa Kubu Raya sebagai wilayah yang memiliki keragaman spesies yang tinggi, mulai dari daratan sampai laut.

"Sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat mengenai keberadaan mamalia laut ini perlu dilakukan sebagai rencana aksi bersama, mengingat hewan-hewan ini masuk ke dalam kategori hewan yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan PP No 7 Tahun 1999. Di samping itu, perlu dijaga dan dilindungi habitatnya, sehingga habitat satwa tersebut bisa ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial," kata Sustyo.

Sustyo menjelaskan tingginya keanekaragaman hayati di Kabupaten Kubu Raya memerlukan upaya konservasi yang komprehensif. Sejak 2015, WWF Indonesia telah mendeklarasikan wilayah penting yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi di Kabupaten Kubu Raya dengan sebutan Lansekap Kubu.

Pawan-Kubu Landseascape Leader, WWF-Indonesia, Ian M Hilman menyebut, pengelolaan berbasis lansekap atau bentang alam adalah bagian dari strategi WWF-Indonesia untuk menciptakan efektivitas pengelolaan di suatu wilayah. Sebutan Lansekap Kubu juga ditujukan sebagai upaya untuk menciptakan ikon suatu wilayah sehingga masyarakat luas mudah untuk mengenalinya.

"Pengelolaan berbasis lansekap merupakan upaya WWF-Indonesia dalam mengelola suatu wilayah dengan pendekatan multi-pihak," kata Ian.

Saat ini, WWF Indonesia didukung Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan tiga perusahaan kehutanan berkomitmen untuk bersama-sama menjaga nilai konservasi yang ada di Lansekap Kubu dan dukungan dari IDH sebagai lembaga donor.

Kasubbid Pertanian, Perikanan dan Kelautan Bappeda Kabupaten Kubu Raya Muhammad Riza Iqbal menyatakan Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya akan mendukung upaya penelitian dan pengembangan program lingkungan. "Tentu, apa pun program nantinya yang akan dikembangkan oleh para pihak, sedapat mungkin bisa berjalan seimbang antara kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan," kata dia.

Lanjutkan Membaca ↓