Serangan Misterius Datang Lagi, Kambing-Kambing Kehabisan Darah

Oleh Yanuar H pada 31 Okt 2016, 10:01 WIB
Diperbarui 31 Okt 2016, 10:01 WIB
20160903-Idul-Adha-Jakarta-Qurban-YR
Perbesar
Ilustrasi kambing

Liputan6.com, Yogyakarta - Meski warga sudah menggelar ronda, serangan misterius yang menargetkan kambing ternak warga Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari, Gunungkidul, Yogyakarta, terus terjadi. Serangan peminum darah itu kembali intens sejak Sabtu, 15 Oktober 2016 lalu.

Kepala Desa Giripurwo, Supriyadi mengatakan serangan pertama itu menyebabkan dua kambing mati dan enam luka-luka. Serangan kedua terjadi pada Senin, 24 Oktober 2016 yang menyebabkan satu kambing mati dan tiga luka-luka. Terakhir, serangan menimpa ternak milik empat warga Dusun Temon, Giripurwo, Purwosari pada Kamis, 27 Oktober 2016 dengan dua kambing mati dan lima lainnya terluka.

"Jika diakumulasikan, jumlahnya dalam setahun sekitar seratusan ternak yang semuanya kambing diserang hewan tersebut. Sebagian besar hewan kehabisan darah," kata Supriyadi saat dihubungi Senin (31/10/2016).

Supriyadi menjelaskan, hewan ternak yang mati diserang memiliki tanda yang sama, yaitu luka di bagian leher dan mati kehabisan darah. Warganya sudah berupaya untuk menggiatkan ronda atau memindahkan hewan ternak dekat dengan rumah. Namun, tetap saja korban masih terus terjadi.

"Bahkan, warga sudah sering bolak-balik kandang untuk melihat keadaan ternak, kemungkinan serangan dini hari," ucap dia.

Supriyadi mengaku warga juga sudah memasang jebakan untuk menangkap hewan yang diduga jenis anjing itu. Namun, serangan nyatanya tidak pernah berkurang.

"Kami berharap ada pemburu yang mau membantu," ujar Supriyadi.

Sementara itu, Camat Purwosari Sukis Heriyanto menyebut serangan tersebut diduga dilakukan oleh gerombolan anjing hutan yang bentuknya mirip serigala. Hewan-hewan itu hidup di gua yang ada di sekitar Purwosari.

Ia menduga hewan tersebut menyerang karena kehabisan bahan makanan. Hewan itu memanfaatkan situasi kandang ternak yang diletakkan jauh dari pemukiman.

"Kita sudah berupaya agar masyarakat memindahkan lokasi kandang ke dekat pemukiman," kata Sukis.