Pilot dan Awak Heli Jatuh di Papua Dirawat di Timika

Oleh Katharina Janur pada 30 Okt 2016, 22:01 WIB
Diperbarui 30 Okt 2016, 22:01 WIB
20160909-Puluhan Terjebak dalam Kereta Gantung di Pegunungan Alpen-AFP
Perbesar
Sebuah helikopter regu penyelamat lepas landas menuju jalur Mont Blanc, Pegunungan Alpen, Kamis (8/9). Sedikitnya 33 orang terjebak semalaman di kereta gantung yang mendadak berhenti di ketinggian lebih dari 3.000 meter. (AFP PHOTO/Jean-Pierre CLATOT)

Liputan6.com, Jayapura - Helikopter B-3/PK-INA milik PT Indo Star Aviation dengan rute Timika-Jenggelo yang mengangkat bahan bangunan crash landing atau jatuh saat hendak mendarat, dengan membawa sembako dan bahan bangunan seberat 490 kilogram.

Helikopter yang dipiloti Kapten Putu dan teknisi Helmi berangkat dari Bandara Timika, Papua, Minggu pagi tadi sekitar pukul 09.40 WIT dan tiba di Jenggelo, Kabupaten Nduga, pukul 10.40 WIT dengan disewa oleh PT Amur.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua Komisaris Besar Rudolf Patrige mengatakan, pesawat sudah sempat menurunkan barang bawaan dan kembali take off ke Desa Warem, Distrik Jenggelo, Kabupaten Nduga untuk menurunkan barang yang tersisa.

"Helikopter ini terbang Timika-Jenggelo dua kali penerbangan. Pada penerbangan pertama, helikopter kembali ke Timika dengan membawa 4 orang dan 200 kilogram barang penumpang," ucap Patrige, Minggu (30/10/2016).

Selanjutnya pada penerbangan kedua saat terbang ke Desa Warem, Distrik Jenggelo, helikopter mengalami crash landing, diduga karena angin kencang dari selatan ke utara.

Sesaat setelah kejadian, sekitar pukul 11.40 WIT, Helikopter AS 350 B3 PK-KIA milik PT Komala Indonesia yang dipiloti oleh Kapten Wayan melakukan evakuasi.

"Korban saat ini dirawat di Rumah Sakit Charitas Timika. Kapten Pilot Putu mengalami patah lengan kanan, sedangkan teknisi Helmi tidak mengalami cedera," Kabid Humas Polda Papua memungkasi.