Ekspedisi Difabel Menembus Batas, Redam Gunung Angker di Sulsel

Oleh Eka Hakim pada 30 Okt 2016, 11:27 WIB
Diperbarui 30 Okt 2016, 11:27 WIB
Bus Transjakarta Difabel
Perbesar
Pemprov DKI Jakarta luncurkan Bus Transjakarta difabel, Rabu (19/10/2016). (Delvira Chaerani Hutabarat/Liputan6.com)

Liputan6.com, Makassar - Penyandang cacat yang tergabung dalam Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Perdik) Sulawesi Selatan (Sulsel) berencana melakukan ekspedisi pendakian di pegunungan tertinggi di Sulsel, Latimojong. Gunung tersebut juga dikenal sebagai gunung terangker di kalangan masyarakat Kabupaten Enrekang, Sulsel.

Rencana pendakian di kawasan gunung favorit di Kabupaten Enrekang, Sulsel tersebut dilakukan dalam rangka memperingati hari difabel internasional (HDI) pada 8 Desember 2016 dengan menggagas tema 'Ekspedisi Difabel Menembus Batas.'

Menurut Direktur Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Perdik) Sulsel Abdul Rahman, pendakian dilakukan sebagai bentuk pembuktian kepada masyarakat pada umumnya jika difabel mampu melakukan aktivitas layaknya orang biasa.

"Selama ini orang anggap difabel sebagai manusia lemah karena disfungsi tubuhnya. Sehingga dinilai tak bisa menikmati sebuah petualangan alam yang biasanya mengandalkan keutamaan fisik. Orang muda difabel juga dapat dan mampu menikmati petualangan demi petualangan. Itulah yang menjadi spirit ekspedisi ini," kata dia dalam keterangannya, Minggu (30/10/2016).

Ekspedisi itu, lanjut Rahman, bermula pada 29 Oktober hingga 8 Desember 2016. Dalam ekspedisi tersebut para penyandang difabel tak sendirian.

Beberapa sejumlah lembaga ikut meramaikan di antaranya Makassar Rescue (MR), Kelompok Pecinta Alam (KPA) Capung Nusantara, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar, Forum Pemerhati Lingkungan (FPL) Makassar, BEM STIKS Tamalanrea, Kata Kerja, KPA Sikolong, KPA Pakis dan KEPAL (Kelompok Pencinta Alam dan Lingkungan).

"Semuanya tim inti dan tidak menutup kemungkinan dalam prosesnya ke depan ada beberapa organisasi lainnya lagi yang akan bergabung," ujar Rahman.

Selain pendakian, kata Rahman, para penyandang difabel juga akan road show ke sejumlah media dan kampus. Hal itu untuk menyampaikan gagasan pentingnya inklusi dan aksesibilitas bagi difabel di seluruh sektor penghidupan.

"Kami turut lakukan sosialisasi tentang gagasan 'difabel adalah aset desa' sehingga perlu dilibatkan dalam setiap kegiatan sosial maupun pemerintahan di desa. Sosialisasi ini akan dilakukan di Desa Karangan yang merupakan pos awal sebelum pendakian dilakukan," kata dia.

Sementara koordinator Ekspedisi, Eko Peruge mengungkapkan, pegunungan Latimojong dipilih karena gunung itu merupakan ikon utama sekaligus puncak yang tertinggi di Sulawesi.

"Kami ingin masyarakat tahu bahwa difabel di tengah keterbatasan yang dimilikinya mampu mengatasi semua rintangan yang dimaksud dan bisa mendaki gunung tertinggi di pulau Sulawesi ini. Jika difabel mampu mendaki maka itu berarti ia pun mampu melakukan aktivitas lainnya," ujar dia.

Dengan kegiatan tersebut, Ia berharap, stigma negatif yang selama ini dilekatkan negara maupun masyarakat pada umumnya dapat dihapus dengan upaya-upaya yang telah dibangun bersama.