Perang Melawan Roh Jahat dalam Ritual Geru Ramu

Oleh Ola Keda pada 28 Okt 2016, 19:17 WIB
Diperbarui 28 Okt 2016, 19:17 WIB
Perang Melawan Roh Jahat dalam Ritual Geru Ramu
Perbesar
Ritual perang melawan roh jahat dilaksanakan oleh para tabib yang disebut Molan oleh warga setempat. (dok. istimewa)

Liputan6.com, Larantuka - Ritual Geru Ramu di Desa Riangbaring, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT diadakan setiap tahun sebagai ritual untuk mengambil ramuan-ramuan dari hutan untuk memperbarui kekuatan para tabib yang dipercaya mampu menyembuhkan segala penyakit warga maupun gangguan roh jahat.

"Ritual 'Geru Ramut' juga dilakukan untuk memohon kepada Tuhan dan leluhur agar hasil panen dapat mencukupi kebutuhan semua warga kampung sini," ujar kepala tabib, Fransiskus Koten, kepada Liputan6.com di sela-sela upacara, Kamis, 26 Oktober 2016.

Dalam ritual ini, para tabib yang disebut warga setempat sebagai Molan, akan masuk ke hutan dan mengambil akar-akar dari tanaman di dalam hutan sebagai bahan obat-obatan. Setelah mendapatkan ramuan, mereka akan berperang secara simbolik dengan penguasa roh-roh jahat yang sering mengganggu ketenteraman warga desa.

Untuk melakukan ritual perang melawan roh jahat ini, para tabib menarikan tarian adat bernama 'Wede' sebagai lambang mereka memenangkan perang.

Setelah berperang, para tabib (molan) kemudian melakukan ritual pemberkatan ramuan di rumah adat yang dilanjutkan dengan doa dan makan bersama di rumah adat. Makanan yang disajikan dihidangkan dalam wadah yang terbuat dari kulit pohon sebagai pengganti piring atau Kela dalam bahasa setempat.

Sementara, air minum ditampung dalam tempurung kelapa yang disebut Neak. Sedangkan, sendoknya terbuat dari tempurung atau 'Nuro'.

"Tempat untuk makan dalam upacara ini, tidak boleh menggunakan alat alat dari besi, karena zaman dahulu, nenek moyang kita belum mengenal itu," kata Koten.

Setelah upacara doa dan makan selesai, ramuan-ramuan yang telah didoakan kemudian diolah. Selanjutnya, air ramuan itu dibagikan kepada semua warga kampung untuk diminum. Masyarakat setempat percaya air ramuan itu sebagai pengusir roh jahat dan mampu menyelamatkan seluruh warga desa dari segala gangguan.

"Kami percaya dengan minum air ramuan ini kami dilindungi oleh para leluhur dari segala petaka," kata Anderas Lein, warga setempat.