Petik Jeruk Sambil Melihat Gunung Kerinci

Oleh Liputan6 pada 10 Sep 2016, 07:07 WIB
Diperbarui 10 Sep 2016, 07:07 WIB
20160127-Jeruk-Mini-Jakarta-AY
Perbesar
Seorang pedagang berada di kebun jeruk jenis Kumquat dan Chusa yang di impor dari Cina di Jakarta, Rabu (27/1). Permintaan Jeruk asal Cina tersebut meningkat 100 % menjelang imlek. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Solok Selatan - Menikmati keindahan alam berikut kegiatan memetikĀ jeruk langsung dari pohonnya menjadi salah satu alternatif daftar wisata di Solok Selatan, Sumatera Barat. Pengunjung kini bisa menikmati manisnya jeruk Siam Gunung Omeh yang dipetik langsung dari sembari memandang keindahan Gunung Kerinci.

Sebagai salah satu sentra jeruk di Sumatera Barat, daerah pemekaran Kabupaten Solok pada 2004 ini jadi lokasi pengembangan budi daya jeruk, baik dari segi perluasan lahan maupun peningkatan kualitas buah agar mampu bersaing di pasar.

Budi daya jeruk di kabupaten yang berjarak sekitar 135 kilometer dari Kota Padang ini pertama kali dikembangkan secara swadaya oleh petani di daerah Pekonina, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Paun Duo pada 2001 dengan luas mencapai sembilan hektare.

Melihat potensi tersebut pemerintah ikut andil dalam pengembangan budidaya jeruk di kabupaten bagian timur Sumatera Barat (Sumbar) ini melalui program penguatan modal usaha kelompok (PMUK) pada 2006.

Pada tahun awal pemerintah menggelontorkan bantuan dalam bentuk bibit jeruk seluas 48 hektare yang dipusatkan di Pekonina dan sebagian di Kecamatan Sangir.

"Pengembangan budi daya jeruk pada tahun-tahun awal tidak semudah membalikkan telapak tangan," kata Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan, Vera Septaria, dilansir Antara, Jumat, 9 September 2016.

Selain sumber daya manusia petani yang belum memiliki cukup ilmu dalam membudidayakan jeruk, saat itu penyuluh pertanian yang memiliki keilmuan di bidang hortikultura juga tidak ada.

Namun keterbatasan tersebut bukannya menjadikan pemerintah daerah dan petani setempat patah arang, ini dibuktikan bahwa pada 2012 jeruk asal Pekonina mulai dikenal pasar karena memiliki kekhasan dari segi rasa.

Bukan saja pasar lokal sejumlah pedagang asal Jakarta mulai memesan jeruk dari Pekonina tersebut. "Waktu itu ada pedagang asal Jakarta minta dikirim setiap minggu, karena tidak sanggup ya akhirnya batal," ujar dia.

Penambahan luas budi daya jeruk terus dilakukan pemerintah hingga kini. Luas kebun jeruk di daerah pemekaran tersebut sudah mencapai 400 hektare yang tersebar pada empat kecamatan, yakni Koto Parik Gadang Diateh, Sungai Pagu, Pauh Duo dan Sangir.

Vera mengatakan pada Juni hingga Agustus 2016, merupakan panen besar jeruk. Sekitar 60 hingga 70 persen jeruk yang ditanam dalam kurun dua tahun terakhir telah berbuah dengan hasil per pohon mencapai 15 hingga 20 kilogram.

"Di kelompok tani Suka Maju di Jorong Panai, Pasir Talang, dari 200 batang jeruk yang ada atau sekitar setengah hektare panen mencapai lima ton," tutur dia.

Vera menyebutkan sejumlah kebun buah, baik jeruk, buah naga atau manggis berada di lokasi yang pemandangan alam indah, seperti kebun jeruk yang berada Karang Putih, Nagari Lubuk Gadang Selatan, Kecamatan Sangir.

Pesona Gunung Kerinci

Lokasi kebun tersebut berada di perbukitan. Pengunjung bisa menikmati pesona Gunung kerinci dari ke jauh dan asrinya Hutan Nagari Simancuang serta bisa melihat matahari terbit dan tenggelam saat langit cerah.

"Akses jalannya memang belum diaspal semua tapi bisa dilewati sepeda motor dan kendaraan roda empat," sebut dia.

Wisata Petik Solok Selatan mencoba memberikan nilai lebih kepada kebun buah yang ada di daerah itu dengan mengemasnya menjadi destinasi wisata petik.

Pengembangan wisata petik ini untuk mendukung destinasi wisata yang sedang dikembangkan, seperti objek wisata budaya Kawasan Seribu Rumah Gadang, air terjun Tangsi Ampek, dan jalur pendakian Gunung Kerinci melalui daerah itu yang kini tengah dibuka oleh kelompok pencinta alam bersama Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Kepala Dipertanakan Solok Selatan Del Irwan menyebutkan wisata petik tersebut tidak terpusat pada satu lokasi saja melainkan di daerah-daerah sentra pengembangan perkebunan buah.

"Kami akan cari informasi dari petani atau kelompok tani kebun mana yang akan panen sehingga bisa mengarahkan wisatawan ke lokasi tersebut," ucap dia.

Dalam waktu dekat pihaknya akan menyosialisasikan rencana pengembangan wisata petik ini kepada petani. Kemudian ditindaklanjuti dengan melengkapi fasilitas-fasilitas penunjang.

Dongkrak Kunjungan Wisata

Wisata petik ini, bertujuan untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke daerah itu. Saat ini, wisatawan yang berkunjung ke Solok Selatan masih sebatas menikmati sensasi tidur di rumah gadang dan menikmati pemandangan alam.

"Solok Selatan telah memiliki objek wisata yang spesifik, namun dengan dikembangkan wisata petik pengunjung diharapkan juga bisa membawa oleh-oleh dari Solok Selatan," kata dia.

Seorang petani jeruk di Jorong Panai, Nagari Pasir Talang, Kecamatan Sungai Pagu, Adrial mengatakan selain di rumah, pembeli langsung membeli ke kebun jeruk yang berada di seberang Sungai Batang Suliti.

Kebun jeruk seluas hampir setengah hektare yang ia kelola bersama anak dan saudara ini kini tengah berbuah. Ia sengaja mengatur produktivitas buah agar tidak berbuah secara musiman.

Adrial menyebutkan, harga jeruk hasil kebunnya kisaran Rp 12.000 hingga Rp 20.000 per kilogram. Harga ini sesuai dengan ukuran jeruk.

"Harga yang terendah untuk harga ukuran kecil atau grade C dan harga tertinggi untuk ukuran besar atau grade A," sebut dia.

Wakil Ketua DPRD Solok Selatan Armen Syahjohan mengatakan pengembangan pariwisata harus memberikan dampak penyebaran peningkatan ekonomi masyarakat secara merata. "Jangan hanya terpusat dalam satu tempat saja."