Cinta Sehidup Semati Bung Tomo dan Sulistina

Oleh Dian Kurniawan pada 31 Agu 2016, 19:01 WIB
Diperbarui 31 Agu 2016, 19:01 WIB
20160831-bung tomo-jakarta-nikah
Perbesar
Bung Tomo dan istri saat menikah. (Istimewa)

Liputan6.com, Surabaya - Jenazah Sulistina Sutomo akhirnya tiba di Masjid Al Akbar Surabaya pada pukul 15.10 WIB. Istri Bung Tomo itu langsung disalatkan oleh jemaah, di antaranya Gubernur Jawa Timur Soekarwo, para kepala SKPD Kota Surabaya dan veteran perang, seusai salat Ashar.

"Beliau ini sosok istri pejuang yang berpengaruh dan beliau sendiri juga seorang pejuang dari PMI," tutur gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo kepada wartawan di lokasi, Rabu (31/8/2016).

Sulistina akan kembali bersanding dengan sang suami. Kali ini, mereka berdampingan dalam peristirahatan terakhir. Jenazah Sulistina disemayamkan tepat di samping makam sang suami, Bung Tomo, seakan menjadi simbol cinta sehidup semati.

Sulistina meninggal dunia di usia 91 tahun pada Rabu dinihari, 31 Agustus 2016, pukul 01.42 WIB setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit di Jakarta. "Bisa dipastikan bahwa beliau adalah sosok yang selalu setia menemani Bung Tomo di saat suka dan duka," kata Sekretaris RAR Isa Ansori di Surabaya, dilansir Antara.

Hal senada disampaikan anggota RAR Hany Akasah. Jurnalis itu sempat membuat catatan saat ngobrol dengan perempuan yang disapa Lies itu beberapa waktu lalu.

"Pasangan suami istri Bung Tomo dan Lies adalah pasangan romantis. Bahkan semboyan tresno jalaran soko kulino pun sukses dilakukan Bung Tomo yang menikahi Lies di Malang pada tahun 1947," kata Hany.

Makam Bung Tomo dan Sulistina. (Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Ia mengatakan awal pertemuan Lies dengan Bung Tomo pada 1945 terjadi saat Lies bekerja di Palang Merah Indonesia (PMI). Lies yang berasal dari Malang dikirim khusus ke Surabaya untuk merawat para pejuang yang gugur dan terluka dalam peristiwa bersejarah 10 November.

Di situlah ia berkenalan pertama kali dengan Bung Tomo. Lies cukup salah tingkah dengan gerak-gerik pria kelahiran Kampung Blauran, Surabaya, yang saat itu sudah menjadi idola rakyat.

Bung Tomo selalu cari perhatian ketika Lies bekerja merawat para pejuang yang terluka di tenda-tenda pertolongan.

Perjuangan Bung Tomo menaklukkan istrinya tak berhenti ketika itu saja. Bung Tomo terus merajut romantismenya dalam setiap surat-surat yang dikirim ketika bertugas keluar kota.

Saking cintanya dengan surat Bung Tomo, Lies pun menulis buku berjudul "Romantisme Bung Tomo, Kumpulan Surat dan Dokumen Pribadi Pejuang Revolusi Kemerdekaan" pada 2006 lalu.

Lies sempat mengatakan ada ajaran Bung Tomo yang sering didengungkan kepada keluarga dan masyarakat waktu itu, yakni jujur dan berjuang.

"Jika kita jujur, sehingga tidak merugikan orang lain, sehingga bisa memakmurkan orang lain," kata Hany menirukan perkataan Lies saat itu.

Sebagai istri yang tahu betul bagaimana perjuangan suaminya, Lies mengingat suaminya hanya ingin rakyat Indonesia makmur dan sejahtera. Karena itu, ia hendak membangun Taman Perdamaian Dunia di Jawa Timur untuk merealisasikan apa yang diinginkan sang suami. Namun, impian itu belum juga terwujud.

"Almarhumah Ibu Sulistina ingin  mendirikan museum di Trowulan Mojokerto Taman Perdamaian," ujar Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Setelah salat, jenazah diberangkatkan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Islam Ngagel Rejo untuk disemayamkan di samping makam sang suami, Bung Tomo. Selamat jalan, Ibu.