Perjuangan Putri Sulung TKI Wasri, Putus Sekolah demi Ketiga Adik

Oleh Fajar Eko Nugroho pada 31 Agu 2016, 10:01 WIB
Diperbarui 31 Agu 2016, 10:01 WIB
Wasri
Perbesar
Keluarga almarhumah Wasri TKI asal Kluwut, Bulakamba, Brebes, yang meninggal dunia di Malaysia. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Liputan6.com, Brebes - Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Wasri, tenaga kerja Indonesia (TKI) yang diduga tewas dianiaya di Malaysia. Sehari setelah pemakaman jenazah Wasri, kediaman almarhumah di Desa Kluwut, Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, masih ramai dikunjungi beberapa kerabat dan tetangga.

Anak pertama TKI Wasri, Diana (15), masih berada di kediamannya bersama neneknya, Darti (50); dan ketiga adiknya. Adik-adiknya bernama Wirningsih (12) kelas enam sekolah dasar (SD), Ayu Wulandari (10) kelas empat SD, dan Riyadi (4).

Diana belum kembali ke Jakarta untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai baby sitter atau pengasuh bayi. Jauh-jauh hari sebelum Wasri bekerja sebagai TKI di Malaysia, Diana sudah memutuskan meninggalkan sekolah dan memilih bekerja untuk membantu menyekolahkan ketiga adiknya.

"Saya keluar sekolah saat kelas lima SD, karena enggak ada yang membiayai dan tiga adik saya juga butuh uang untuk sekolah. Makanya, saya putuskan keluar dan bekerja," ucap Diana kepada Liputan6.com di kediamannya, Brebes, Selasa 30 Agustus 2016.

Alasan Diana meninggalkan bangku sekolah karena tidak tega dan kasihan jika harus melihat ketiga adiknya tidak sekolah lantaran masalah biaya.

"Enggak apa-apa saya enggak sekolah, yang penting ketiga adik saya bisa terus sekolah. Memang sih saya pengin sekolah lagi, tapi kondisinya tidak memungkinkan," tutur dia.

Sebelum menjadi baby sitter di Jakarta, Diana pernah menjadi pekerja lepas pelayan warung makanan di Brebes. "Apa yang saya lakukan ini untuk membantu ibu, karena juga nenek kan di sini sendirian dan sudah tua. Apalagi belum lama ini kakek sudah meninggal dunia," kata dia.

Diana, putri pertama almarhumah Wasri TKI asal Kluwut, Bulakamba, Brebes, yang meninggal dunia di Malaysia. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Diana sedih dengan kepergian sang ibunda, Wasri. Kendati demikian, ia tidak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan. Terlebih, masih banyak yang harus diperjuangkan karena kehidupan terus berlanjut.

"Saya sudah ikhlas ibu sudah enggak ada. Sekarang ini tanggung jawabnya saya sebagai anak tertua bisa membantu adik-adik saya tetap sekolah dan bertahan hidup. Apa pun saya lakukan demi mereka," ucap perempuan berhijab itu.

Ayah Diana sendiri telah meninggalkan keluarganya dan menikah lagi dengan wanita lain sekitar tiga setengah tahun yang lalu. Karena terdesak masalah ekonomi, Wasri memutuskan menjadi TKI bekerja di luar negeri untuk berjuang mencari uang demi menopang keempat anaknya.

Permohonan ke Jokowi

Sembari menundukkan kepalanya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca, Diana berharap ada perhatian dari pemerintah terkait musibah yang dialami ibundanya.  

"Tolong Pak Presiden Jokowi perhatikan nasib ibu saya yang sudah meninggal. Ibu meninggal sebagai TKI yang bekerja sudah tiga tahun dan belum pernah pulang. Saya mohon Pak Presiden, hak-hak ibu saya diberikan karena ketiga adik saya masih kecil-kecil," ujar Diana.

"Mereka masih butuh banyak biaya untuk sekolah dan hidup sampai tumbuh besar. Tolong ya Pak Jokowi, karena saya sayang sekali sama adik-adik. Saya juga sudah berusaha Pak untuk bekerja buat mereka (adik-adik)," dia menambahkan.

Dengan keterbatasan dan kondisi ekonomi keluarga Wasri, Diana masih bersyukur karena ada nenek yang menjadi pelindungnya. Selama bekerja di Jakarta, Diana cukup tenang lantaran ketiga adiknya ada yang menjaga dan merawat di rumah.

"Di rumah kan masih ada nenek, jadi kalau saya tinggal bekerja masih ada yang memberi perhatian dan menjaga. Makanya, pikiran saya menjadi tenang," ujar putri sulung Wasri itu.