Pemulangan Peti Jenazah TKI Wasri Memancing Rasa Curiga

Oleh Fajar Eko Nugroho pada 30 Agu 2016, 20:08 WIB
Diperbarui 30 Agu 2016, 20:08 WIB
Janggal, Peti Jenazah TKI Wasri Diserahkan Petugas Bandara
Perbesar
Selain peti jenazah, ada uang Rp 2 juta dan 75 ringgit di antara barang-barang tersisa milik Wasri. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Liputan6.com, Brebes - Sejumlah kejanggalan menyelimuti kasus tewasnya Wasri (31), tenaga kerja Indonesia (TKI), warga Desa Kluwut RT 3 RW 10 Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, yang bekerja di Malaysia.

Menurut Tarlan (31), kerabat Wasri, pemulangan jenazah Wasri ke kampung halamannya tidak diantar oleh agen ataupun perwakilan PJTKI yang memberangkatkan Wasri.

Ia berkisah, ia dan seorang kerabat berangkat ke Jakarta untuk menjemput jenazah Wasri di Bandara Soekarno Hatta pada Sabtu, 27 Agustus 2016. Informasi penjemputan jenazah itu juga baru disampaikan dua hari sebelum jenazah Wasri tiba di Jakarta.

"Dua hari sebelum jenazah Wasri tiba di tanah air, memang agennya di sini (Brebes) bernama Alan sudah memberitahukan secara lisan. Katanya diminta jemput jenazah ke bandara, datangnya sekitar pukul 18.00 WIB," ucap Tarlan kepada Liputan6.com, di kediaman Wasri di Brebes, Jateng, Selasa (30/8/2016).  

Alan merupakan agen penyalur TKI yang memberangkatkan Wasri untuk bekerja di Malaysia sebagai asisten rumah tangga. Namun, batang hidung Alan tak terlihat saat keluarga menjemput jenazah ibu dari empat anak itu hingga dikebumikan pada Minggu, 28 Agustus 2016.

"Setelah memberitahukan secara lisan kabar duka, agen itu (Alan) tidak diketahui keberadaannya. Keluarga hanya diberikan petunjuk untuk menjemput Wasri ke Bandara Soekarno Hatta. Serta juga sudah disiapkan mobil ambulans jenazah untuk mengantarkan ke rumah," tutur dia.  

Saat tiba di bandara, keluarga menerima jenazah Wasri dari petugas bandara. Saat penyerahan itu, ada sejumlah dokumen dan barang-barang milik korban, seperti paspor, surat keterangan kematian dari rumah sakit, dua unit telepon seluler, tas tangan, tas pakaian serta dompet berisi uang tunai Rp 2 juta dan 75 ringgit.  

Meski demikian, tidak ada seorang pun perwakilan dari agen penyalurnya dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang mengawal kedatangan jenazah Wasri.  

"Yang nyerahin jenazahnya saja petugas bandaranya, nggak ada dari pihak agen penyalur ataupun staf Kemenlu. Dari situlah, kami keluarga mulai curiga dan ada yang nggak beres dalam proses pemulangan jenazah Wasri," ucap dia.