Mengenang Hari Paling Berdarah di Pontianak

Oleh Liputan6 pada 28 Jun 2016, 18:45 WIB
Diperbarui 28 Jun 2016, 18:45 WIB
PM Shinzo Abe Berdoa di Taman Makam Pahlawan Kalibata
Perbesar
PM Jepang, Shinzo Abe saat berdoa di Taman Makam Pahlawan, Jakarta, Rabu (22/4/2015). PM Abe berdoa untuk Eto Sichio, warga Jepang yang membantu perjuangan rakyat Indonesia saat perang kemerdekaan. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Liputan6.com, Pontianak - Pontianak, Kalimantan Barat hari ini berkabung. Pemerintah dan masyarakat Pontianak memperingati Hari Berkabung Daerah (HBD) untuk mengenang peristiwa Mandor Berdarah.

Ini adalah peristiwa pembantaian sekitar 21.037 masyarakat Kalbar oleh tentara Jepang pada 72 tahun silam atau tanggal 28 Juni 1944.

"Peringatan HBD atau peristiwa Mandor berdarah tidak hanya dilakukan seremonial saja, melainkan dimaknai dalam bentuk membangun Kota Pontianak dan Kalbar dengan semangat perjuangan para pahlawan kita," kata Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, saat memimpin upacara peringatan HBD di Pontianak, Kalbar, Selasa (28/6/2016).

Ia juga mengajak masyarakat Kota Pontianak untuk bersama-sama meneladani perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan. Caranya bersama-sama membangun Kota Pontianak dengan tetap menjunjung nilai-nilai persatuan dan kesatuan.

"Meskipun Kota Pontianak penduduknya heterogen, tetapi kita bisa hidup berdampingan dan saling toleransi. Saya berharap kita semua tetap menjaga suasana kondusif yang telah terjaga selama ini," ujar dia seperti dilansir Antara.

Selain itu, Edi juga mengajak masyarakat agar terus memupuk rasa nasionalisme demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Serta menjunjung tinggi semangat kepahlawanan dalam melaksanakan dan menyukseskan pembangunan di Pontianak.

"Dengan tidak memandang perbedaan suku, agama, ras dan golongan, sehingga nantinya masyarakat Kota Pontianak dapat menjadi masyarakat yang unggul dan maju dalam segala aspek," tutur dia.

Banyak korban gugur di tangan penjajah Jepang pada peristiwa Mandor, mulai dari kaum cendekia, para raja, sultan, dan tokoh masyarakat yang dianggap berpengaruh hingga masyarakat biasa, serta dari berbagai etnis dan agama.

"Oleh karena itu, sudah sepatutnya nilai-nilai persatuan dalam perjuangan dari para pahlawan tersebut dapat kita teladani bersama," kata Edi.

Peristiwa Mandor adalah sebuah sejarah masa kelam yang pernah terjadi di Kalbar. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1943 sampai 1944 di daerah Mandor Kabupaten Landak.

Sejarah mencatat, sekitar 21.037 orang jadi korban pembantaian tentara Jepang. Namun versi Jepang menyebutkan korban pembantaian sekitar 1.000 orang.

Mandor Berdarah adalah wujud perlawanan terhadap Jepang yang saat itu ingin menguasai kekayaan alam Kalimantan Barat. Peristiwa Mandor tersebut ditetapkan sebagai Hari Berkabung Daerah melalui Peraturan Daerah No. 5/2007 yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Kalbar.