Ini Titik Nol Kilometer Kota Malang, Sejak Era Majapahit?

Oleh Zainul Arifin pada 05 Jun 2016, 15:00 WIB
Diperbarui 05 Jun 2016, 15:00 WIB
20160605-Titik Nol Kota Malang
Perbesar
Titik Nol Kota Malang di jalan yang ada sejak Majapahit (Liputan6.com / Zainul Arifin)

Liputan6.com, Malang - Setiap daerah umumnya memiliki titik nol kilometer yang berfungsi sebagai penanda jarak dari pusat kota ke daerah. Biasanya, titik nol bisa berupa prasasti, monumen, atau bangunan.
 
Di Kota Malang, Jawa Timur, titik nol terletak di bawah jembatan penyeberangan Jalan Merdeka Utara, sebelah utara Alun-alun Merdeka. Berbentuk patok kecil dengan cat warna hijau, kuning, dan biru setinggi kurang dari satu meter dan memiliki tiga sisi.

Bagian atas bertulis Baya (Surabaya) 89 menunjukkan jarak ke Surabaya sejauh 89 kilometer. Di bawah sisi kanan tertulis Pw.Sari (Purwosari) 28 atau sejauh 28 kilometer, dan sisi kiri tertulis M.Lang 0.
 
Namun, masih banyak warga Kota Malang yang tak mengetahui bahwa tugu kecil yang sering mereka lalui saat berjalan kaki itu merupakan titik nol kilometer. Padahal, dari tugu ini pula jarak tempuh Malang ke Surabaya ditarik.

“Setahu saya titik nol itu ada di sudut jembatan Brantas. Tetapi ada juga yang bilang di depan alun – alun Merdeka. Entah mana yang benar,” kata Hari, seorang warga Malang, Minggu (5/6/2016).
 
Pendapat berbeda dikatakan Agus Demit, seorang warga Malang lainnya. Menurutnya, titik nol Kota Malang berupa monumen jam yang ada di Jalan Kayutangan. “Sepengetahuan saya ya monumen jam itu titik nol,” ucap Agus.
 
Pemerintah Kota Malang sendiri berencana akan mengembangkan titik nol di bawah jembatan penyeberangan Jalan Merdeka Utara, sebelah utara Alun-alun Merdeka. Perawatan dan pemeliharaan titik nol selama ini di bawah kendali Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Tapi nantinya, setelah dikembangkan maka pengelolaan dan pemeliharaannya akan dilimpahkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
 
“Pengembangan ini sesuai keinginan Wali Kota Malang yang ingin titik nol menjadi obyek daya tarik wisata dan edukasi. Perencanaan pengembangannya ada di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni.
 
Pemerhati cagar budaya di Kota Malang, Dwi Cahyono, mengatakan titik nol kilometer di bawah jembatan penyeberangan Jalan Merdeka Utara, sebelah utara Alun-alun Merdeka telah ditetapkan sejak era kolonial Belanda.
 
“Titik nol itu sejak pembangunan Alun-alun Merdeka kali pertama oleh Belanda sekitar tahun 1870 an,” ucap Dwi Cahyono.
 
Pria yang juga Ketua Yayasan Inggil ini menambahkan, pada masa kolonial itu pula titik nol sudah digunakan sebagai penanda jarak antar daerah. Mulai dari Malang ke Pasuruan atau Malang ke Surabaya dan seterusnya. Bahkan jalan raya di titik nol itu diyakini sudah ada sejak masa Majapahit yang kemudian diteruskan oleh Belanda.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya