Tolak PLTU Cirebon, Aktivis Panjat Crane Pelabuhan Batu Bara

Oleh Panji Prayitno pada 15 Mei 2016, 19:50 WIB
Diperbarui 15 Mei 2016, 19:50 WIB
Tolak PLTU Cirebon, Aktivis Panjat Crane Pelabuhan Batubara
Perbesar
PLTU Cirebon dinilai bisa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup dan sosial, khususnya kesehatan masyarakat.

Liputan6.com, Cirebon - Sejumlah aktivis koalisi Break Free yang terdiri dari Greenpeace, Walhi dan Jatam, hari ini menggelar aksi damai di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon, Jawa Barat.

Gabungan aktivis lingkungan hidup itu melakukan aksinya dengan menaiki crane pelabuhan batu bara. Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes untuk menghentikan aktivitas bongkar muat batu bara di (PLTU) Cirebon.

Protes ini, menurut Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Arif Fiyanto, bertujuan untuk melakukan desakan lebih lanjut kepada pemerintah dan perusahaan.

Sekaligus, lanjut Arif, menyoroti rencana ekspansi PLTU Cirebon yang akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup dan sosial, khususnya kesehatan masyarakat.

Aksi itu dimulai sejak pukul 03.00 WIB dini hari, para aktivis membentangkan spanduk raksasa bertuliskan 'Quit Coal' di atas dua crane milik PLTU Cirebon.

"Tulisan 'Quit Coal' berarti pemerintah Indonesia harus segera mengambil tindakan beralih dari batu bara sebagai sumber energi demi kesehatan lingkungan dan keselamatan warga negara," ujar Arif Fiyanto, Minggu (15/5/2016).

 

Penolakan PLTU Cirebon

PLTU Cirebon adalah salah satu dari sekian banyak PLTU yang akan memiliki rencana penambahan unit atau kapasitas di bawah proyek 35.000 MW.

Namun rencana ekspansi ini mendapat perlawanan yang kuat dari masyarakat setempat. Unit pertama telah beroperasi sejak Juli 2012 dan kerap bermasalah termasuk di antaranya meledak pada September tahun 2014.

"PLTU Cirebon ini didanai oleh investasi Jepang Japanese Bank for International Cooperation (JBIC) dan hingga kini masih terus mendapatkan penolakan dari masyarakat setempat," ujar Arif.

Ia menjelaskan, organisasi lingkungan menyoroti proyek tersebut karena lebih dari 60 persen sumber energi yang digunakan akan berasal dari batu bara, sementara sumber energi terbarukan hanya mendapat porsi sebesar 20 persen. Terlebih pemerintah Indonesia saat ini sedang mengembangkan proyek 35.000 MW listrik.
 
Koordinator Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) Hendrik Siregar mengatakan, pembakaran batu bara PLTU Cirebon akan berkontribusi cepat terhadap kondisi iklim khususnya di Pulau Jawa yang listriknya banyak dipasok oleh PLTU.

"PLTU Cirebon adalah salah satu potret buruk yang mengabaikan suara, hak dan keselamatan rakyat," Hendrik menandaskan.