Anak Yatim Penghuni Gubuk Terisak-isak Terima Bansos

Oleh Dian Kurniawan pada 02 Mei 2016, 17:45 WIB
Diperbarui 02 Mei 2016, 17:45 WIB
Bansos
Perbesar
Anak yatim terisak-isak terima bansos

Liputan6.com, Pasuruan - Sa'adah terharu. Salah satu janda duafa asal Dusun Kalisangit, Desa Krengih, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu memperoleh bantuan sosial (Bansos) program rehabilitasi Rumah Tinggal Layak Huni (Rutilahu) dari Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa.

Janda tersebut hidup bersama seorang anaknya, Sibian, di gubuk yang hanya terbuat dari anyaman bambu dan berlantaikan tanah. Ketika Mensos mendatangi kediamannya, anak yatim berusia 11 tahun itu langsung menangis haru di pelukan Mensos Khofifah.

Mensos menuturkan ia kebetulan menghadiri acara pengajian di Alun-alun Bangil, kemarin. Salah satu orangtua penerima bantuan anak yatim piatu menemuinya dan berkata kalau rumahnya itu tidak layak huni atau terbuat dari gubuk atau gedek.

Ia selanjutnya meminta tolong dan berkoordinasi dengan operator Program Keluarga Harapan (PKH) untuk mendeteksi rumah yang dimaksud di kawasan Rembang.

"Setelah saya melihat fotonya, ternyata benar. Rumah tersebut memang rumah tidak layak huni, dan ibu itu berhak mendapatkan bansos rehabilitasi Rutilahu," ucap Mensos kepada Liputan6.com di Rembang, Pasuruan Jatim, Minggu sore, 1 Mei 2016.

Mensos mengatakan, bantuan tersebut bagian dari rehabilitasi 25 rumah warga miskin khusus di kawasan pedesaan di seluruh Kecamatan Rembang pada tahun ini.

"Bantuan tersebut berupa pembangunan rumah baru bagi rumah warga yang benar-benar miskin. Sementara ada 50 unit rumah di Kabupaten Pasuruan yang mendapat bantuan tersebut," tutur Khofifah.

Mensos Khofifah Indar Parawansa menyalurkan bansos program rehabilitasi Rumah Tinggal Layak Huni (Rutilahu) di Pasuruan, Jawa Timur. (Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Dia menjelaskan, 25 rumah dari Direktorat Penanganan Fakir Miskin Pedesaan dan 25 rumah dari Direktorat Penanganan Fakir Miskin Perkotaan. Masing-masing rumah mendapat bantuan sekitar Rp 15 juta.

"Tahun kemarin indeksnya Rp 10 juta. Tahun ini indeksnya Rp 15 juta," ujar Mensos.

Mensos menyampaikan bahwa bantuan tersebut 70 persen untuk penerima program PKH. Sebab, bantuan PKH tidak mencukupi untuk membangun sebuah rumah. Demi mewujudkannya, menurut Khofifah, harus ada bantuan penunjang dari pihak desa dan kecamatan.

"Bantuan uang Rp 15 juta ini tak mencukupi untuk membangun rumah, makanya harus ada bantuan swadaya dari warga sekitarnya juga. Karena kalau mereka terima bansos PKH dengan kondisi rumah seperti itu, pasti tidak menuntut untuk rehabilitasi rumahnya," kata Mensos Khofifah.

Mensos pun berjanji untuk segera mewujudkan pembangunan rumah di daerah Rembang ini. "Kami berharap satu bulan selesai, sehingga bulan Ramadhan sudah bisa ditempati," kata Khofifah Indar Parawansa.