Pengabdian Penjaja Gula Puan Kerbau pada Warisan Palembang

Oleh Nefri Inge pada 02 Mei 2016, 12:15 WIB
Diperbarui 02 Mei 2016, 12:15 WIB
Penjaja Gula Puan Kerbau
Perbesar
Tak hanya semakin langka, peminat Gula Puan Kerbau juga semakin menurun karena tidak lagi familiar dengan makanan khas Palembang itu. (Liputan6.com/Nefri Inge)

Liputan6.com, Palembang - Tak hanya pempek, Sumatera Selatan juga memiliki panganan khas lain, yakni Gula Puan Kerbau. Berbeda dengan pempek yang semakin laris, jenis makanan tradisional itu justru semakin langka. Bahkan, sebagian besar masyarakat Sumsel tidak lagi mengenali camilan tradisional warisan kerajaan Palembang Darussalam itu.

Seiring nasib Gula Puan yang semakin ditinggalkan, jumlah pedagang Gula Puan itu juga semakin sedikit. Di antara segelintir penjaja Gula Puan, ada Khoibi (45) yang bertahan meski hanya mengantongi sedikit untung.

"Ini sudah bidang kami, sudah turun menurun dari kakek saya agar Gula Puan tidak hilang. Kalau berhenti, tidak akan ada lagi penerus. Karena di Palembang, hanya saya yang berjualan Gula Puan, dibantu dengan keluarga saya," ujar Khoibi (45) kepada Liputan6.com, Senin (2/5/2016).


Sejak 1990, pria kelahiran Desa Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel itu sudah membantu orangtuanya berjualan Gula Puan di pelataran Masjid Agung Palembang setiap hari Jumat.

Peminat Gula Puan yang berbahan susu kerbau itu sangat banyak hingga 1996. Dalam sehari, Khoibi bisa menghabiskan 40 kg Gula Puan. Ia juga bisa meraup untung hingga Rp 29 ribu per kg di tahun itu.

Namun, capaian itu kini tinggal kenangan. Khoibi kini kesulitan untuk menghabiskan 10 kg Gula Puan dalam sehari. Bahkan, ia rela hanya mengantongi untung Rp 6 ribu per kg agar tidak merugi.

"Sekarang, modalnya saja Rp 74.000 per kg. Kalau pembeli tidak menawar harga, saya patok Rp 100.000 per Kg. Tapi kalau sudah nego harga, saya kasih harga Rp 80.000 per kg. Untung yang bisa dikantongi hanya Rp 6.000 per kg," ujar Khoibi.

Selain berjualan setiap hari Jumat di Masjid Agung, bapak empat anak ini juga berkeliling ke pasar-pasar tradisional di Palembang untuk memasok dagangannya. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 5 kg Gula Puan untuk dititipkan di pedagang lainnya.

Pasokan dari Desa

Khoibi mengaku mendapatkan pasokan Gula Puan dari Desa Pampangan, SP Padang, Kabupaten OKI Sumsel. Setiap minggu, ia dikirimi 20 kg Gula Puan. Pasokan itu didapatkan langsung dari peternak kerbau rawa sekaligus produsen Gula Puan.

Khoibi menyatakan minat warga daerah untuk mengolah susu kerbau menjadi Gula Puan juga berkurang drastis. Yang bertahan kini hanyalah tiga kepala keluarga (KK). Salah satunya adalah keluarga Khoibi.

"Kalau produksiĀ Gula Puan menipis, saya sering tidak mendapatkan stok. Jadi, sempat stop berjualan dan fokus berdagang manisan di warung rumah saya," ujar Khoibi.

2 dari 2 halaman

Berjuang Sendiri


Gizi yang terkandung di dalam Gula Puan ini sangat tinggi, tapi makanan tradisional itu tidak bisa bertahan lebih dari seminggu. Jika sudah melewati batas waktu tersebut, Gula Puan akan terasa apek dan berjamur. Karena itu, Khoibi harus berjibaku dengan waktu agar jualannya laku sebelum apek.

Proses pembuatan Gula Puan Kerbau juga cukup lama. Sebanyak 60 cupak susu dicampur dengan 6 kg gula pasir. Selama 7-8 jam, campuran tersebut disangrai hingga kering dan siap disantap. Takaran satu cupak susu berisi empat canting susu kerbau.

Gula Puan kerbau, makanan bangsawan Palembang yang Makin tersisih. (Liputan6.com/Nefri Inge)

Ada dua jenis Gula Puan yang disajikan, yaitu Gula Puan lembut dan kasar. Gula Puan lembut bertekstur lebih lembek dan biasa digunakan sebagai selai roti. Proses pembuatannya juga lebih cepat, sekitar 6,5 jam hingga 7 jam. Sedangkan, Gula Puan kasar dibuat selama 8 jam dan bisa dimakan untuk camilan sehari-hari.

Berjuang Sendiri

Kesulitan Khoibi melestarikan makanan tradisional Sumsel tidak berhenti di situ. Jika dulu ia bisa leluasa menjajakan Gula Puan di pelataran Masjid Agung, Satpol PP kini membatasi waktu jualan sejam saja. Aturan itu berlaku bagi pedagang kecil yang hanya membawa sedikit barang dagangan.

"Sudah sebulanan ini kami diusir, tapi kami meminta waktu satu jam saja untuk berjualan seusai salat Jumat di Mesjid Agung... para warga Palembang tahunya Gula Puan itu dijual saat hari Jumat di Masjid Agung," kata Khoibi.

Usaha Khoibi itu tidak didukung pemerintah setempat. Ia mengaku pemerintah tidak pernah membantunya untuk melestarikan makanan daerah itu agar tidak punah. Di samping itu, banyak masyarakat yang sudah melupakan bahkan tidak mengetahui tentang Gula Puan yang dulunya menjadi makanan para bangsawan Palembang.

"Hanya ada Wali Kota Palembang lama dan Gubernur Sumsel yang beli Gula Puan saja. Masyarakat saja sudah banyak melupakan Gula Puan, apalagi warga daerah bahkan tidak tahu. Hanya orang-orang lama dan keluarganya yang memang mengkonsumsi Gula Puan, yang masih tahu dengan makanan ini," ujar Khoibi.

Di tengah kondisi perekonomian yang serba pas-pasan, Khoibi sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan profesinya ini. Meskipun kesulitan berjualan Gula Puan dan untung yang didapatkan sangat sedikit, tekad Khoibi untuk tetap menyajikan makanan daerah yang nyaris hilang dari peradaban itu tetap kuat.

Lanjutkan Membaca ↓