Jejak Majapahit dan Kampung Tempo Dulu di Surabaya

Oleh Dhimas Prasaja pada 29 Apr 2016, 20:10 WIB
Diperbarui 29 Apr 2016, 20:10 WIB
Jejak Majapahit di Surabaya
Perbesar
Menelusuri jejak Majapahit di Surabaya

Liputan6.com, Surabaya - Sebagai kota kedua terbesar di Tanah Air, Surabaya tentu banyak menyimpan beragam peninggalan bersejarah. Mulai bangunan zaman kolonial Belanda hingga peninggalan kerajaan kuno Majapahit.

Terlebih Kota Surabaya tak lama lagi bakal merayakan Hari Ulang Tahun ke-723 yang jatuh tepat pada 31 Mei mendatang. Sejatinya, tanggal tersebut adalah hari kemenangan pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya terhadap serangan pasukan Mongol utusan Kubilai Khan, kaisar Dinasti Yuan yang menguasai negeri Tiongkok kala itu.

Untuk itulah menjelang HUT Kota Surabaya, Liputan6.com mencoba menapak tilas sejumlah kawasan kampung tempo dulu di Surabaya. Satu di antaranya konon disebut sejumlah warga sekitar merupakan tapal kudanya Kota Surabaya, yakni Kampung Lawas Maspati.

Bangunan bersejarah di Lawas Maspati, kampung lawas di Kota Surabaya, Jawa Timur. (Liputan6.com/Dhimas Prasaja)

Kampung ini terletak di antara Jalan Bubutan saat ini dan Jalan Tembaan, tepatnya sebelah timur. Berjarak hanya sekitar 500 kilometer dari Tugu Pahlawan yang saat ini berdiri tinggi menjulang.

Di Kampung Maspati saat ini juga ada sedikitnya sepuluh bangunan peninggalan zaman Belanda. Serta ada pula penanda (tetenger, bahasa Jawa) bahwa Surabaya adalah bekas wilayah Kerajaan Majapahit, jauh sebelum masa kedatangan bangsa Belanda.

Sabar, Ketua Rukun Warga (RW) Kampung Maspati Gang VI, Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan menuturkan bahwa sekitar wilayah Kampung Lawas Maspati tersebut dulunya adalah bagian dari keraton adipati Majapahit.

Kediaman Adipati dan Tumenggung Majapahit

"Semestinya wilayah kerajaan di Surabaya ini dulu awalnya bukan di Kampung Lawas Maspati saja, di sini memang dulunya adalah tempat tinggal adipati dan tumenggung (Majapahit)," ucap Sabar kepada Liputan6.com, Kamis, 28 April 2016.

Ia menuturkan ada juga namanya Kampung Bubutan, Kawatan, Praban dan Peneleh. Seluruh kampung itu merupakan bagian keraton adipati Majapahit di Surabaya.

"Saya merasa ini adalah era kebangkitan wong kampung, dan kami mengimbau kepada warga agar tebar senyum kepada pengunjung yang memasuki wilayah ini," ujar pria berambut ikal ini.

Saat berkunjung pertama ke Kampung Lawas Maspati Liputan6.com mengalami sapaan ramah warga sekitar.

Lantai rumah peninggalan zaman Belanda di Kampung Lawas Maspati, Kota Surabaya, Jawa Timur. (Liputan6.com/Dhimas Prasaja)
Salah satunya Yusuf penghuni rumah nomor 40 di Gang IV, Kampung Lawas Maspati ini menuturkan lantai bangunan yang ditempatinya itu masih asli peninggalan Belanda. Terlihat dari pilar dan atap yang menjulang tinggi ciri khas rumah jaman kuno peninggalan Belanda. Serta jendela juga pintu yang terbagi menjadi dua bagian.

"Ornamen tegel seperti ini memang ciri khas zaman Belanda, dulu rumah ini adalah tempat membuat roti dan pernah juga jadi dapur umum saat zaman Belanda, saat ini sudah jadi Losmen Asri, bangunannya tahun 1958," tutur Yusuf penghuni Losmen Asri.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Sekolah Ongko Loro dan Rumah Kuno

Setelah mengunjungi kediaman Yusuf, Liputan6.com melihat ada dua punden saat akan menuju rumah Ongko Loro yang saat ini dihuni oleh Subandi.

Subandi mengatakan, punden tersebut belum dinamakan. Hanya saja, ia pernah mendengar cerita dari ayahnya bahwa zaman Belanda di sekitar punden itu bom yang jatuh tidak bisa meledak.

"Ayah saya namanya Marsaid dia pernah cerita sama saya kalau melewati gang itu dirinya saat melihat ke atas ada semacam barang hitam besar jatuh, tapi tidak jadi meledak," ujar Subandi.

Bangunan bersejarah di Lawas Maspati, kampung lawas di Kota Surabaya, Jawa Timur. (Liputan6.com/Dhimas Prasaja)

Sang ayah meninggal dunia saat berusia 125 tahun. Namun rumah yang kini ditempati Subandi telah ditetapkan sebagai destinasi wisata oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Adapun sebelum menuju ke rumah Ongko Loro, Liputan6.com melihat sebuah bangunan rumah kuno yang di atapnya tertulis 1907. Rumah tersebut tertutup rapat dikunci rapat dengan gembok.

Bangunan bersejarah di Lawas Maspati, kampung lawas di Kota Surabaya, Jawa Timur. (Liputan6.com/Dhimas Prasaja)

Tapi ciri khas rumah zaman Belanda terekam sangat apik mulai dari pilar dan lantai atau tegel.

Di atap pintu rumah tersebut tertulis M Soemargono. Diceritakan lagi oleh Subandi bahwa rumah ini memang didirikan sejak tahun 1907.

"Itu memang ciri khas orang zaman dulu mas untuk menandai bahwa rumah ini dibangun pada tahun itu, saya dapat cerita dari ayah juga rumah itu dulu tempat para pemuda pemudi kumpul untuk sekadar menyusun strategi perang," ujar Subandi.
 
"Karena pada jaman kolonial Belanda rumah tersebut difungsikan sebagai Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar dengan masa pendidikan selama tiga tahun dan tersebar di seluruh pelosok desa.

"Maksud dari pendidikan ini adalah dalam rangka sekadar memberantas buta huruf dan mampu berhitung. Bahasa pengantar adalah bahasa daerah dengan guru tamatan dari Holandsche Indische Kweekschool (sekolah guru bantu zaman Belanda)," ujar pria yang akrab disapa Pakde Bandi ini oleh warga sekitar.

Sisa peninggalan zaman Belanda di rumah tersebut sangat jelas terlihat juga mulai dari daun pintunya ada dua, ventilasi udara yang berada di atas pintu didapati ornamen terali besi khas masa kolonial Hindia Belanda.

Jendela dan empat pilar penyangga yang tinggi serta atap rumah Ongko Loro ini masih terlihat jelas. Tepatnya rumah ini nomor 40 dengan warna oranye dengan dua kamar serta luasnya 15 x 6 meter berdiri di atas tanah bekas peninggalan Belanda.

"Dipaku saja sulit mas atapnya itu, jadi bisa dibayangkan, dan juga ini bukti bahwa bangunan ini memang benar benar ini adalah bangunan zaman kolonial Belanda," tutur Bandi.

Usai mengunjungi rumah Ongko Loro, Liputan6.com melihat sekitar Gang IV Kampung Lawas Maspati tersebut. Sepanjang kanan kiri jalan suasana sejuk terasa dengan adanya tanaman toga yang ditanam di setiap rumah warga.

"Sedikitnya disini ada 10 rumah khas bangunan Belanda mas, dan warga juga berusaha membuat suasana nyaman dengan menanami tanaman hijau," tutur Sabar.

Makam Sesepuh Kampung

Perjalanan pun sampai di sebuah bangunan yang dipugar atas kerja sama Pelindo III dan Pemerintah Kota Surabaya. Konon punden tersebut dianggap warga sekitar adalah makam sesepuh di sekitar Maspati.

Bahkan dua punden tersebut diyakini makam salah satu pendiri Kampung Maspati (Babat Alas).

Makam misterius di Lawas Maspati, kampung lawas di Kota Surabaya, Jawa Timur. (Liputan6.com/Dhimas Prasaja)

Menurut tetua kampung, punden tersebut adalah makam pasangan suami istri Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh. Kedua pasangan itu adalah kakek dan nenek dari Joko Berek atau Sawunggaling yang merupakan pahlawan besar di Surabaya.

Hal ini diceritakan oleh Agus Nawawi, juru kunci Makam Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh.

Meskipun ada beragam versi yang berkembang di masyarakat Surabaya terkait Sawunggaling, Agus menjelaskan berdasarkan penglihatan spiritualnya.

"Kakek nenek dari Sawunggaling, serta makam Joko Berek yang akrab disapa Sawunggaling serta ibunya," ia mengungkapkan.


Kisah Sawunggaling dan Putri Jin

Agus menambahkan, sekitar Lidah Wetan juga terdapat makam Raden Ayu Pandan Sari. Konon, anak seorang raja jin yang membantu perjuangan Sawunggaling.

"Saat itu memang kuat ingin menikah dengan Sawunggaling, tetapi Sawunggaling tidak mau menikahi Raden Ayu Pandan Sari. Namun kalau diceritakan sangat panjang sampai terjadinya Babat Alas tanah Surabaya ini," Agus menegaskan.

 Juru kunci makam di Lawas Maspati, kampung lawas di Kota Surabaya, Jawa Timur. (Liputan6.com/Dhimas Prasaja)

Hingga mulai dari munculnya Situbondo itu akibat pengejaran Sawunggaling. Waktu itu Pangeran Situbondo lari ke sana arah timur karena kalah sama Sawunggaling," ujar Agus.

Bahkan pengejaran Sawunggaling itu juga sampai ke daerah Bali. Bahkan dipercaya juga oleh warga, ada juga makam Sawunggaling dan Raden Ayu Pandan Sari di Bali.

"Beberapa waktu lalu juga saat ada kunjungan wisata dari sejumlah warga Bali, salah satu di antara mereka mengatakan di tempat saya juga ada makam Sawunggaling," tutur Agus menirukan wisatawan dari Bali yang datang di Kampung Lawas Maspati saat itu.

Dengan adanya bukti kuat makam Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh tersebut dirinya berkeinginan kuat untuk membuktikan sejarah di sana seperti apa," kata pria berkumis tersebut.

Versi lain menyebutkan makam Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh juga ada di Surabaya tepatnya di daerah Lidah Wetan, Surabaya.

Lebih jauh Agus memaparkan, pada saat datang ke Surabaya mencari bapaknya, Sawunggaling bertemu dengan kerabat Kerajaan Majopahit. Yakni, masa pemerintahan yang dipimpin oleh Adipati Jayeng Rono

Setelah melalui perjuangan panjang hingga akhirnya Sawunggaling menjabat menjadi tumenggung Kerajaan Majapahit, diboyonglah kakek neneknya ke Surabaya.

Sebetulnya, menurut Agus, saat itu ibu Sawunggaling ingin dibawa ke Surabaya. Namun, sang bunda tidak mau karena takut terjadi percekcokan di rumah tangga, akhirnya hanya mbah buyut dan kakeknya saja yang datang ke Surabaya,

"Cerita ini pun saya dapat tokoh masyarakat dulu dan kakek nenek saya," ujar pria yang mengaku sengaja tidak membukakan pintu di rumahnya saat akan memasuki ruang tamu.

Kunjungan Paranormal dan Pasar Gaib

Agus menambahkan, beberapa ahli spiritual atau paranormal pernah mencoba berinteraksi dengan makam di sekitar Maspati tersebut. "Sebenarnya beliaunya itu tidak mau untuk diekspos, waktu melakukan spiritual di makam sudah berpesan beliaunya bilang ojo (jangan) diekspos."

Sebab, dikhawatirkan akan terjadi salah komunikasi. "Karena warga Surabaya sebagian sudah tahu dan meyakini ada makam di sini dan di Lidah Wetan. Biarkan sejarah ini berjalan dengan apa yang sudah ada, tapi ini sudah berjalan dan telanjur," Agus menjelaskan.

Namun sebagai warga, ia tidak memungkiri bahwa seringkali terjadi penampakan.

"Tapi itu saat beberapa waktu lalu ada kunjungan dan sejumlah pengunjung melakukan pemotretan justru beliau nya (Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh) ini menampakkan diri," sebut Agus.

Menurut penglihatan spiritualnya, Agus mengatakan bahwa sebenarnya di depan rumahnya adalah pasar gaib.

"Sebenarnya depan rumah saya ini ada pasar gaib saat ini, sampai di sebelah utara depan rumah saya persis hingga batas Losmen Asri dan di situ jaraknya 500 meter sampai makam yang belum ditemukan makam siapa itu," tutur Agus sembari mengaku tubuhnya berkeringat saat bercerita terkait makam yang ada di Kampung Lawas Maspati itu.

Saat ditanya apa arti kampung tersebut, Agus menjelaskan nama Kampung Maspati ini adalah salah satu kampung kepatihan Kerajaan Majapahit.

"Jadi khusus abdi dalem kalau bahasanya saat ini adalah mess, tapi keluarga yang tinggal di sekitar kampung ini dulu dari keluarga abdi dalem adipati, tempat tinggal keluarga dalem kadipaten langsung," Agus menceritakan lebih lanjut.

Cerita lain menyebutkan Surabaya semula berasal dari Junggaluh, Ujunggaluh atau Hujunggaluh. Ini terungkap pada pemerintahan Adipati Jayengrono.

Kerabat Kerajaan Majapahit ini diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memerintah di Ujunggaluh. Di bawah pemerintahan Jayengrono, perkembangan pesat Ujunggaluh sebagai pelabuhan pantai terus menarik perhatian bangsa lain untuk berniaga di Surabaya.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya