Ribuan Lukisan Purba Tersebar di Tebing Cadas Kaimana

Oleh Liputan6 pada 21 Apr 2016, 08:00 WIB
Diperbarui 21 Apr 2016, 08:00 WIB
Berusia 40.000 Tahun, Sulawesi Punya Lukisan Gua Tertua di Dunia
Perbesar
Lukisan gua di Sulawesi ini dinobatkan sebagai yang paling tua di dunia.

Liputan6.com, Kaimana - Lukisan diperkirakan berusia ribuan tahun dari zaman purbakala tersebar di tebing-tebing batu cadas di pesisir laut Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

Kepala Dinas Pariwisata Kaimana Marthen Feneteruma di Manokwari, Rabu (20/4/2016), menuturkan lukisan itu diperkirakan sudah berusia antara 3 ribu hingga 10 ribu tahun.

"Ada ribuan lukisan kuno di situs Maimai tersebut. Lukisan terpanjang, panjangnya mencapai 1 kilometer," ujar Marthen sebagaimana dilansir Antara, Rabu (20/4/2016).

Situs menakjubkan itu menunjukkan bahwa kreativitas dan seni rupa telah dimiliki nenek moyang masyarakat Kaimana sejak ribuan tahun lalu.

Saat ini situs peninggalan sejarah itu telah dibukukan dan siap diajarkan kepada anak-anak di bangku sekolah.


"Kami sadar akan potensi, termasuk potensi situs sejarah lukisan prasejarah ini. Semua sudah dibukukan dan akan menjadi arsip penting daerah," kata Marthen.

Pembukuan itu dilakukan pemerintah Kaimana bekerja sama dengan lembaga Arkeologi Papua. Kerja sama itu sekaligus untuk melakukan pemetaan situs sejarah lain seperti sisa sejarah perang dunia II.

"Dalam kerja sama itu, kami melakukan sistematisasi pembukuan sejarah suku-suku asli di daerah tersebut. Kami tidak ingin anak-anak kami tidak tahu sejarahnya," ujar dia.

Pemetaan dan pembukuan sejarah penting untuk mendukung pembangunan sektor pariwisata di daerah yang dikenal sebagai senja Kaimana ini.

Di sisi lain, hal itu dilakukan agar informasi sejarah masyarakat dan peradaban manusia di Kaimana tidak terputus.

"Di Kaimana ada tujuh suku, yakni suku Meirasi, Irarutu, Kuri, Uburauw, Medewana, Napiti dan Miere. Masing-masing sudah dibukukan sesuai profil masing-masing," kata dia.

Marthen juga menjelaskan, untuk membangun sektor pariwisata di daerah itu pihaknya mengajak masyarakat sadar potensi. Baik potensi sejarah, peradaban, serta budaya maupun kekayaan dan keindahan alam di wilayah tersebut.

"Pemerintah Kaimana, saat ini tengah menyiapkan masyarakat untuk menjadi pemeran dalam pengelolaan pariwisata. Upaya pemberdayaan akan dilakukan agar masyarakat lebih siap," papar Marthen.