Pasar Ekstrem di Tomohon, Dicaci tapi Dicari

Oleh Yoseph Ikanubun pada 15 Apr 2016, 17:32 WIB
Pasar Ekstrem Satwa Liar

Liputan6.com, Tomohon - Julukan pasar ekstrem pantas disematkan pada Pasar Beriman Tomohon, Sulawesi Utara. Tak seperti pasar tradisional biasa, pasar ini menjajakan sejumlah hewan liar sebagai menu dagangan khas yang tak jarang membuat mata terbelalak.

Beberapa lapak menggantungkan daging ular piton yang masih lengkap dengan sisik lorengnya. Pedagang lain menjual daging kelelawar yang dalam bahasa lokal disebut paniki. Ada pula tikus ekor putih alias kawok yang sempat dipegang Presiden Jokowi dalam kunjungan pada 10 Mei 2014 lalu.

Baik kawok maupun paniki dijual utuh, mulai dari kepala, sayap, kaki hingga ekor. Ada pula daging celeng atau babi hutan, anjing hingga kucing yang sudah di-blower hingga tidak tampak lagi bulunya.

"Biasanya, kalau hari Sabtu disebut pasar lengkap. Semua jenis hewan dagangan dijual di Pasar Beriman Tomohon, terutama jenis ular, tikus, dan paniki atau kelelawar," ujar Fransiskus Talokon, warga Kelurahan Paslaten, Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon, Jumat (15/4/2016) pagi.

Fransiskus mengaku tidak tahu persis dari mana asal hewan-hewan itu. Namun, pasar ekstrem itu bertahan karena banyak warga memburu dagangan tak biasa itu.

"Kalau seperti anjing atau tikus hutan, pedagang mendapatkan dari Tomohon saja. Tapi untuk ular dan monyet, saya kurang tahu dari mana mereka mendapatkan binatang-binatang itu," ujar Fransiskus.

Informasi yang dihimpun menyebutkan sejumlah binatang seperti babi hutan dan anjing didatangkan secara besar-besaran dari Gorontalo atau Palu. Sebab, stok di Kota Tomohon tidak mencukupi permintaan pasar.

"Apalagi di momen seperti perayaan Natal atau pengucapan syukur," ujar Fransiskus.

Donny, salah satu pedagang di Pasar Beriman, menjelaskan bahwa ular diambil dari wilayah Minahasa Selatan. "Karena di sana masih banyak hutan," ujar Donny.

Untuk harga berbeda-beda. Donny menyebutkan setumpuk tikus ekor putih dibanderol Rp 30 ribu. Dalam setumpuk tikus ekor putih itu biasanya terdiri atas dua hingga tiga ekor tikus.

"Sedangkan untuk daging ular, rata-rata Rp 60 ribu per kilogram, hampir sama dengan anjing dan babi hutan. Tergantung juga permintaan pasar dan stok yang kami dapat," ujar dia.  

Yang paling jarang ditemui pembeli di pasar ini adalah daging monyet atau yaki. Donny mengaku kini pihaknya kesulitan mendapatkan suplai yaki. "Karena memang sudah ada larangan dan protes dari kelompok pencinta hewan langka," ujar dia.

2 of 2

Dihadang Aktivis


Keberadaan pasar ekstrem Tomohon itu memang menimbulkan polemik. Komunitas pencinta hewan langka rutin menggelar diskusi untuk membangun opini publik sekaligus menggalang dukungan untuk pelarangan penjualan hewan-hewan itu.

"Kami memang mengkampanyekan stop makan yaki. Ini hewan yang dilindungi," ujar Simon, dari Yayasan Selamatkan Yaki dalam sebuah diskusi belum lama ini.

Paniki di pasar ekstrem Tomohon. (Liputan6.com/Yoseph Ikanubun)

Gerakan itu mendapat dukungan publik untuk yaki, tapi tidak untuk hewan lainnya seperti anjing, kucing, tikus ekor putih, ular dan paniki. Sejumlah pihak menilai, hewan-hewan itu belum termasuk dilindungi serta masih mudah didapatkan.

Di tengah pro-kontra itu, masyarakat setempat, terutama di Tomohon dan Minahasa, meyakini jika pesta terasa tak lengkap jika tidak ada menu ekstrem tersebut. Bahkan, sejumlah rumah makan mengandalkan menu ekstrem itu sebagai jualan mereka.

Pangsa pasar ektrem itu tidak hanya melayani warga Tomohon, melainkan juga daerah sekitar seperti Kabupaten Minahasa dan Kota Manado. Alhasil, saat pasar lengkap setiap hari Sabtu, Pasar Beriman Tomohon dipadati pembeli dari berbagai daerah.

"Yang paling banyak dicari adalah menu ular piton dan yaki. Tapi untuk yaki sudah kekurangan stok," keluh salah seorang pengusaha rumah makan di Kecamatan Langowan, Kabupaten Minahasa.

Lanjutkan Membaca ↓