Cerita Pedih Warga Pesisir Sorong Maraknya Bom dan Racun Ikan

Oleh Muslim AR pada 05 Apr 2016, 16:01 WIB
Diperbarui 05 Apr 2016, 16:01 WIB
Cerita Pedih Nelayan di Sorong
Perbesar
Para nelayan di pasar ikan Jempur, Komplek PPI Klaligi, Sorong, Papua Barat

Liputan6.com, Sorong - Pemerintah telah sukses menekan aksi kapal asing ilegal yang mengeruk ikan di perairan Indonesia. Namun begitu, para nelayan masih mengeluhkan adanya pengeboman dan racun ikan di perairan Sorong, Papua. Hal itu lantaran lemahnya pengawasan dari pemerintah setempat.

Akibat penggunaan bom itu, karang-karang di beberapa lokasi menjadi cekung dan hilang. Ikan yang berhabitat di kawasan itu ikut hilang.

"Sudah susah, tara (tidak) ada ikan. Banyak cekukan dan lubang di karang-karang. Kita orang terpaksa melaut jauh lagi," ujar Kristian (40), seorang nelayan di Kampung Malawei, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong Papua Barat, kepada Liputan6.com, Senin (4/4/2016). 

Kristian yang memakai sampan kecil dengan semang (cadik) itu harus melaut hingga 20 mil. Padahal pada 1990, ia dan nelayan lainnya tak harus melaut sejauh itu.

Ia hanya pasrah menunggu bantuan pemerintah yang lama akan sampai. Sebab, ia masuk dalam urutan penerima bantuan gelombang kedua.

"Dong (sudah) jauh melaut, pulang sore seperti ini, tapi tara ada ikan, cuma seember saja," ujar Kristian yang baru saja menambatkan sampannya.

Hal serupa dialami Beni. Nelayan yang khusus memancing ikan laut dalam ini mengaku kesusahan. Dengan modal melaut selama empat hari lebih, hasil tangkapan yang semakin sedikit membuatnya harus berjudi dengan hasil tangkapannya.

Kala hasil tangkapan banyak, Beni akan menyimpan keuntungannya untuk modal melaut lagi. Jika tangkapannya sedikit, ia kadang harus menambah jauh jarak yang ia tempuh untuk mencari ikan.

"Kalau banyak, banyak sekali, saya simpan untuk bama (bahan makanan), minyak, dan rokok untuk melaut lagi," kata Beni.


Ajak Anak Melaut

Hal yang sama terjadi pada Frangky. Bapak empat anak itu terkadang harus mengajak anaknya ke laut demi tambahan tangkapan. Nyawanya terancam jika pergi sendiri, sementara wilayah beroperasi Frangky semakin jauh.

"Kalau sudah jauh, saya bawa anak yang sedang kuliah. Kalau mereka libur," kata Frangky.

Pengeboman dan penggunaan racun menjadi masalah utama bagi nelayan Sorong. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Ruddy R Laku mengeluhkan hal yang sama. Pengeboman dan penggunaan racun tak mampu diawasi dengan maksimal karena kurangnya SDM.

"Sudah banyak yang kita penjarakan, bahkan ada anggota TNI yang menembak para pengebom saat mereka ingin kabur, si pengebom mati, TNI-nya enam tahun dipenjara," kata Ruddy R Laku di kantornya, Senin (4/4/2016).

Bukannya jera, para pengebom dan nelayan yang menggunakan racun malah semakin marak. Dengan pembuatan bom yang mudah serta hasil berlimpah dan cepat, para nelayan berani ambil risiko.

"Sekali mengebom itu bisa dapat puluhan juta, kalau memancing untungnya sedikit kerjanya lama. Banyak nelayan nakal yang pilih cara mengebom," kata Ruddy.

Penggunaan bom ikan dan racun sangat berbahaya bagi ekosistem dan kelestarian biota bawah laut, juga membahayakan nyawa si nelayan. Jika telat dan terjadi kesalahan dalam mengebom, cacat seumur hidup dan nyawa jadi taruhannya.

"Ada yang mati karena salah melempar bom, terakhir itu yang putus kedua tangannya karena telat melempar bom. Yang putus tangannya ini kami jadikan penyuluh bagi nelayan lainnya untuk tak mengebom lagi, tapi masih banyak saja yang nakal," kata Ruddy.

Lain halnya dengan penggunaan racun, para nelayan terancam nyawanya jika salah membaca arus laut. Racun yang disebar tersebut mengikuti arus laut, jika salah arah. Nelayan yang menangkap ikan di hilirnya arus bisa keracunan. 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya