Strategi Tangkal Api di Jambi

Oleh Bangun Santoso pada 31 Mar 2016, 15:03 WIB
Diperbarui 31 Mar 2016, 15:03 WIB
20160321- Mahasiswa Yogya Tuntut Pemerintah Hukum Berat Pembakar Hutan- Boy Harjanto
Perbesar
Mahasiswa membawa spanduk saat aksi peringatan Hari Hutan Dunia di Tugu ,Yogyakarta, Senin (21/3). Mahasiswa menuntut pemerintah untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan dan menghukum berat pelakunya. (Foto: Boy Harjanto)

Liputan6.com, Jambi - Hujan yang mengguyur Jambi saat ini, tidak melemahkan ancaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut. Sejumlah strategi menangkal sumber api disiapkan sebelum memasuki musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Mei 2016.

Wakil Komandan Satgas Karhutla Provinsi Jambi Desmawan Putra mengatakan, salah satu langkah yang ditempuh memantapkan antisipasi. Setiap daerah harus siap dari segi personel dan sarana prasarana pendukung lainnya sebelum terjadi karhutla.

Langkah dan upaya lain dalam pencegahan karhutla yakni setiap kabupaten/kota harus meningkatkan koordinasi dengan satgas tingkat provinsi.

"Koordinasi antisipasi karhutla di Jambi sudah mulai dilaksanakan sejak Rabu kemarin," kata Desmawan di Jambi, Rabu, 30 Maret 2016.


Satgas yang terdiri dari semua unsur forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) itu akan berupaya sedini mungkin mengantisipasi karhutla. Apalagi, Jambi merupakan daerah kaya lahan gambut yang sangat mudah tersulut api.

Maka itu, Satgas Karhutla secara rutin menyisir lahan gambut yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Muara Jambi, dan Tanjung Jabung Barat. Sebelumnya, Gubernur Jambi Zumi Zola sempat mengusulkan bantuan eskavator satu unit untuk satu kecamatan saat rapat nasional penanganan karhutla.

"Bahkan ada yang mempersiapkan helikopter untuk melakukan pemantauan udara," kata Desmawan.

Sementara dari pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi, daerah itu akan memasuki musim kemarau pada Mei 2016.

"Puncak musim kemarau terjadi pada Agustus-September 2016," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Jambi Kurnia Ningsih.

Provinsi Jambi pada 2015 lalu menjadi salah satu daerah terparah bencana kebakaran lahan dan hutan di Indonesia. Lebih dari 30 ribu hektare hutan, lahan dan perkebunan terbakar.

Sebanyak 90 ribu jiwa terpapar kabut asap dan hampir tiga bulan Bandara Sultan Thaha Syaifuddin tutup. Sejumlah sekolah juga terpaksa diliburkan.