Batik Sampit Makin Favorit

Oleh Liputan6 pada 21 Mar 2016, 17:15 WIB
Diperbarui 21 Mar 2016, 17:15 WIB
Batik Sampit
Perbesar
Pengrajin memperagakan keterampilannya membuat batik tulis dalam Peringatan Hari Batik Nasional di Museum Tekstil, Jakarta, Jumat (2/10/2015). Perayaan tersebut juga menampilkan produk batik dari berbagai daerah di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Sampit - Batik Sampit, batik khas Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, semakin diminati masyarakat. Motifnya sangat menarik dan lebih mudah dikreasikan.

"Semakin banyak yang menyukai batik Sampit. Ada beberapa motif yang sudah dipatenkan yaitu motif gayung birang, anggrek tewu, ikan jelawat, dan karamunting," kata Renggana Dwi Putra, salah seorang pecinta batik Sampit, seperti dikutip Antara, Senin (21/3/2016).

Selain dipakai pegawai negeri sipil pada hari tertentu, masyarakat umum juga makin menyukai batik Sampit. Dengan motif yang memang menunjukkan ikon daerah seperti anggrek tewu atau anggrek tebu, ikan jelawat dan lainnya, batik Sampit kini terus dikembangkan.

Bupati Supian Hadi meluncurkan batik Sampit saat Sampit Expo 2013. Supian bahkan ikut terlibat langsung dalam pengembangan motif batik Sampit dan itu ditunjukkannya melalui kreasi baju-baju batik Sampit yang sering dikenakannya saat menghadiri berbagai acara hingga kini.

Pemerintah daerah juga terus mendukung promosi batik Sampit. Salah satunya dengan mendukung eksistensi gerai batik Sampit.


Renggana atau akrab disapa Angga, menilai, batik Sampit juga cocok dan sangat menarik dipadupadankan untuk berbagai keperluan. Seperti saat pemilihan putra dan putri pariwisata Kotawaringin Timur yang saat sedang berlangsung, batik Sampit juga banyak ditampilkan para peserta.

"Untuk acara santai maupun resmi, batik Sampit bisa dikreasikan dan selalu menarik," ucap Angga yang juga koordinator putra dan putri pariwisata Kotawaringin Timur 2016.

Selain indah dan menarik, motif-motif batik Sampit diketahui juga memiliki makna. Tidak berlebihan jika batik Sampit juga melambangkan kepribadian masyarakat lokal di daerah ini.

Dari sinopsis yang dibuat Sanggar Seni Habaring Hurung Sampit dijelaskan, motif pada batik Sampit adalah hasil penggabungan antara motif gayung birang yang berarti percikan emas yang tercecer dan motif anggrek tewu atau anggrek tebu.

Kedua motif tersebut berasal dari alam, terutama anggrek tebu yaitu tumbuhan sejenis pakis yang dapat hidup dan berkembang di hutan tropis khusus.

Jenis anggrek itu tumbuh liar di hutan pedalaman wilayah Utara seperti Kecamatan Antang Kalang dan Kuala Kuayan. Sementara, percikan emas adalah gambaran emas hasil dari usaha masyarakat hulu di daerah penambangan atau pendulangan emas.

Tanaman itu bisa tumbuh di mana saja pada semua jenis tanah dan anggrek tebu juga bisa berdampingan dengan tanaman apa saja tanpa mengganggu tanaman lain seperti halnya benalu.

Setelah tumbuh, anggrek tebu akan besar dan lebih dominan dari tanaman lain di sekitarnya. Setelah berbunga, anggrek ini akan memberikan keindahan terhadap alam di sekitarnya.

Filosofi inilah yang diambil dengan harapan masyarakat Kotawaringin Timur juga bisa terus tumbuh seperti anggrek tebu. Bisa hidup bersama atau berdampingan tanpa mengganggu orang lain dan akan menjadi kabupaten paling maju di antara kabupaten-kabupaten lain di Kalimantan Tengah.