Metode Biodigester Olah Sampah Versi Kang Emil Panen Dukungan

Oleh Arie Nugraha pada 22 Feb 2016, 15:55 WIB
Diperbarui 22 Feb 2016, 15:55 WIB
Ahok & Ridwan Kamil

Liputan6.com, Bandung - Keputusan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang akan mengolah sampah dengan menggunakan metode biodigester didukung organisasi lingkungan hidup, Walhi Jawa Barat.

Menurut Deputi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat, Dwi Retnastuti, metode pengolahan sampah dengan biodigester ini dapat menghasilkan tenaga listrik tanpa berdampak asap dalam prosesnya.

Pengolahan dengan cara tersebut dianggap lebih ramah terhadap lingkungan dan cukup efektif memusnahkan ribuan ton sampah per harinya di ibu kota provinsi Jawa Barat ini.

"Biodigester itu adalah semacam penangkapan gas metannya ya, nanti dia bisa dijadikan listrik. Jadi dia enggak pake dibakar," ujar Dwi kepada Liputan6.com, Senin (22/2/2016).

 



Jadi, kata Dwi, penguraiannya akan menggunakan bakteri, yang sampahnya kemudian dihancurkan. Selanjutnya, proses itu menghasilkan sebuah gas yang nantinya akan ditampung.

"Gas itu lalu dialirkan ke sebuah pipa, kemudian diubah menjadi listrik itu bisa dilakukan juga. Itu usul perbedaan mendasarnya, yang satu pake dibakar, yang satunya lagi tidak," ujar Dwi.

Dwi juga mengatakan, sistem dengan biodigester itu cocok untuk mengolah sampah yang ada. Ia beralasan sebagian besar sampah di Indonesia adalah sampah basah yang hampir seluruhnya berupa sampah organik.

Dia menyebutkan jika pengolahan sampah basah itu dibakar, baik menggunakan atau tidak menggunakan insinerator agar menghasilkan energi listrik, harus dibantu dengan bahan bakar minyak, seperti jenis solar.

"Cara ini jelas akan menghasilkan dampak polusi lainnya," kata Dwi.

Sebelumnya, Walhi Jawa Barat tegas menolak rencana kebijakan pemerintah terkait perintah Presiden Joko Widodo untuk mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 7 daerah di Indonesia dengan insinerator. Salah satunya di Kota Bandung.

Bandung menjadi salah satu daerah yang akan membangun PLTSa berbasis insinerator. Namun, aktivis lingkungan menolak ide tersebut karena teknologi itu sudah ditentang banyak masyarakat dunia.