Minyak Mentah Misterius Tercecer di Tepi Pantai Malang

Oleh Zainul Arifin pada 26 Jan 2016, 15:53 WIB
Diperbarui 26 Jan 2016, 15:53 WIB
20160102-Liburan Berujung Maut-Pantai Bajul Mati-Malang
Perbesar
(Istimewa)

Liputan6.com, Malang - Nelayan di kawasan pantai selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, menemukan bekas tumpahan minyak mentah di sepanjang bibir pantai. Sampai saat ini tak diketahui darimana sumber minyak tersebut.

"Nelayan yang habis pulang melaut mendapati ada bekas tumpahan minyak mentah di pinggir laut," kata Koordinator SAR Mahameru, Andi Susetiyo, di Malang, Jatim, Selasa (26/1/2016).

"Setelah diamati, itu lebih mirip bekas minyak mentah," kata dia.

Noda mirip minyak mentah itu ditemukan di sekitar Pantai Lenggoksono hingga Sendangbiru. Temuan ini sudah dilaporkan ke instansi terkait agar dilakukan penelitian. Namun hingga saat ini belum ada yang merespons.
 
"Ketebalan tumpahan minyak mentah itu sekarang ini sudah berkurang. Butuh tim ahli untuk meneliti. Sepertinya sudah dilaporkan ke instansi terkait, tapi belum ada respons," ujar Andi.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Dari Mana Asalnya?

Sementara Kepala Satuan Polisi Air dan Udara (Polairud) Malang, AKP Nyoto, membenarkan adanya temuan tumpahan minyak mentah di bibir pantai, mulai dari Pantai Tamban hingga ke Sendangbiru itu.
 
"Kalau berasal dari bahan bakar minyak akibat mesin nelayan pecah tidak mungkin. Lebih terlihat seperti minyak mentah. Kami masih melacak dari mana asalnya," kata Nyoto.
 
Tumpahan minyak mentah itu seluruhnya berada di tepi pantai, tak ada yang berada di tengah laut. Selain itu juga tak disertai gejala matinya biota laut, seperti ikan, udang, maupun hewan laut lainnya.

Sementara sepanjang tepi pantai itu juga bukan akses lalu lintas bagi kapal pengangkut bahan bakar minyak atau kapal transportasi massal.
 
"Di jalur laut lepas itu, 800 mil dari garis pantai biasanya dipakai sebagai akses untuk mengangkut bahan padat seperti pasir dan batu bara. Tapi sejak masa Presiden Jokowi, kapal–kapal itu sudah tak boleh lagi melintas untuk pengangkutan di laut," ujar Nyoto.
 
Menurut dia, butuh tim ahli untuk memastikan dari mana minyak mentah itu berasal. Tim Polairud Malang siap jika diminta bekerja sama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan serta TNI AL untuk mencari asal minyak. Namun, itu pun jika noda minyak mentah dinilai sudah mencemari laut.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya