PBNU Gelar Pengamatan Hilal untuk Tentukan Idul Fitri Hari Ini

Oleh Liputan6.com pada 11 Mei 2021, 04:10 WIB
Diperbarui 11 Mei 2021, 04:10 WIB
Pemantauan Hilal Ramadan 1438 H
Perbesar
Petugas melakukan pemantauan hilal di atap gedung Kanwil Kementrian Agama, Jakarta Timur, Jumat (26/5). Pemantauan tersebut untuk menentukan jatuhnya bulan Ramadan 1438 H yang nantinya akan di putuskan melalui sidang Isbat. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Lembaga Falakiyah NU di seluruh Indonesia akan menggelar rukyatul hilal pada Selasa Pahing 29 Ramadhan 1442 H yang bertepatan dengan 11 Mei 2021. Kegiatan ini akan menjadi penentu jatuhnya 1 Syawal 1442 H atau Idul Fitri 1442 H.

“Rukyatul hilal merupakan pengamatan atau observasi terhadap hilal, yaitu lengkungan bulan sabit paling tipis yang berkedudukan pada ketinggian rendah di atas ufuk barat pasca-Matahari terbenam (ghurub) dan bisa diamati,” jelas Ma’rufin Sudibyo, Wakil Sekretaris LFPBNU, seperti dikutip dari NU Online, Senin (10/5).

Cara pengamatan hilal untuk saat ini, jelasnya, terbagi menjadi tiga yakni mulai mengandalkan mata telanjang, mata dibantu alat optik (umumnya teleskop) hingga yang termutakhir adalah alat optik (umumnya teleskop) terhubung sensor/kamera.

Dari ketiga cara ini, lanjutnya, keterlihatan hilal pun terbagi menjadi tiga pula yakni mulai dari kasatmata telanjang (bil fi’li), kasatmata teleskop dan kasat–citra. Terlihat atau tidaknya hilal pun sangat bergantung pada sejumlah faktor.

Mulai dari parameter bulan sendiri (berupa tinggi/irtifa’, elongasi dan magnitudo visual), parameter optik atmosfer (konsentrasi partikulat pencemar, uap air dan sebagainya) dan tingkat sensitivitas mata / sensor kamera.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tanda terlihat hilal

“Dalam ilmu falak modern, terlihatnya hilal sebagai lengkungan bulan sabit sangat tipis adalah produk kombinasi antara kecerlangan bulan sabit terhadap kecerlangan langit senja latar belakang (syafak) dan perbandingan kontras Bulan sabit–langit senja latar belakang terhadap sensitivitas mata / sensor kamera,” jelasnya.

Rukyatul hilal digelar dengan mengamati ufuk barat pada arah di mana Matahari dan Bulan berada. Prakiraan waktu terbenamnya Matahari dan parameter Bulan disajikan oleh hisab sebagai pendukung pelaksanaan rukyatul hilal.

Lembaga Falakiyah PBNU melaksanakan perhitungan dengan hisab jama’i (tahqiqy tadqiky ashri kontemporer) khas Nahdlatul Ulama bagi seluruh Indonesia.

Data hisab awal Syawwal 1442 H Lembaga Falakiyah PBNU telah melakukan hisab (perhitungan ilmu falak) terhadap hilal awal Syawwal 1442 H dengan menggunakan sistem hisab jama’i (tahqiqy tadqiky ashri kontemporer) khas Nahdlatul Ulama.

Perhitungan ditujukan untuk Selasa Pahing 29 Ramadhan 1442 H yang bertepatan dengan tanggal 11 Mei 2021 M.

Markaz nasional ditentukan di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya Jakarta Pusat dengan koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT. Hasil hisab meliputi Ijtima’ pada Rabu 12 Mei 2021 pukul 01:59:22 WIB dengan tinggi hilal – 4º 22’ 28” dan letak Matahari terbenam = 18º 13’ 41” utara titik barat.

Berdasarkan hasil hisab parameter hilal terkecil terjadi di kota Jayapura propinsi Papua (tinggi –5º 28’) dan parameter hilal terbesar terjadi di kota Pelabuhan Ratu propinsi Jawa Barat (tinggi –4º 19’).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021.

Infografis Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021. (Liputan6.com/Trieyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓