Tradisi Warga Mesir Nyalakan Lentera Selama Bulan Ramadhan

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 07 Mei 2021, 20:00 WIB
Diperbarui 07 Mei 2021, 20:00 WIB
20160529-Lampu Fanus jadi Tradisi Unik Menyambut Ramadan di Mesir-Kairo
Perbesar
Lampu fanus, lentera tradisional khas yang dijual selama Ramadan, di distrik Saida Zeinab di Ibu Kota Kairo, 29 Mei 2016. Fanus selain sebagai ungkapan kegembiraan akan tibanya bulan Ramadan, juga melambangkan sumber cahaya. (MOHAMED EL-Shahed/AFP)

Liputan6.com, Kairo - Sebuah sanggar di Kairo yang khusus membuat lentera disibukkan dengan kegiatan produksi. Bagi keluarga-keluarga Mesir, membeli lentera sebagai dekorasi bulan Ramadhan merupakan tradisi yang melekat setiap tahun.

Di sebuah sanggar di Mesir, para pengrajin dengan gesit merangkai lentera-lentera buatan tangan untuk bulan Ramadhan.

Menjelang bulan puasa, dekorasi lentera bisa ditemui di manapun di kota Kairo, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Jumat (6/5/2021).

Sebagian menggunakannya hiasan meja makan, yang lainnya menggantung lentera di pintu masuk toko dan rumah mereka.

"Lentera Khayamia menjadi barang penting di setiap rumah. Orang-orang meletakkannya di dalam rumah, menggantungnya di balkon, jalanan dan mobil. Lentera itu membuat orang-orang merasakan semangat Ramadhan," kata Bahia Mohamed, pemilik sanggar.

"Semua orang membeli khayamia baru setiap tahun, meski mereka masih punya yang lama dari tahun-tahun sebelumnya, karena terlihat bagus dan menimbulkan rasa gembira saat Anda menggunakannya juga sebagai tapla meja, atau menggunakan lentera yang berbentuk meriam atau yang biasa sebagai hiasan meja makan," tambahnya.

Lima tahun lalu, Bahia membangun bengkel lokakarya lentera dan ornamen Ramadhan lainnya.

Tahun lalu, umat Muslim terpaksa terputus dari sebagian besar hal yang membuat bulan Ramadhan terasa istimewa seiring upaya pemerintah setempat menangani pandemi virus corona.

Banyak negara menutup masjid dan melarang salat taraweh berjamaah untuk mencegah kerumunan massa.

Pemerintah berbagai negara mencoba menyeimbangkan pembatasan yang diberlakukan dengan tradisi Ramadhan.

Tahun ini, warga Mesir bisa menikmati Ramadhan dengan pembatasan yang lebih longgar dibanding tahun lalu, dan itu berarti peluang bisnis yang lebih baik bagi para pembuat lentera.

"Alhamdulillah, tahun ini lebih baik dari tahun lalu, ketika orang-orang khawatir tentang virus corona dan jam malam. Tapi tahun ini, Alhamdulillah, tidak ada jam malam seperti tahun lalu dan orang-orang keluar untuk berjalan-jalan, sehingga hasil kerja kami lebih baik dari tahun lalu," kata Naglaa Fathy, salah satu pengrajin di saggar milik Bahia.

Para pengrajin di sanggar itu membuat lentera Khayamia dengan menggunakan corak kain berwarna-warni yang biasa digunakan untuk mendekorasi tenda.

 

2 dari 3 halaman

Efek Pandemi

Lentera Fanous Menyambut Ramadan di Gaza
Perbesar
Hanan al-Madhoun (37) menyelesaikan pembuatan lentera tradisional yang disebut "fanous" di rumahnya di Kota Gaza, menjelang bulan suci Ramadan dan di tengah pandemi corona, pada 1 April 2021. Warga biasanya memasang lentara sebagai dekorasi untuk merayakan dimulainya Ramadan. (MAHMUD HAMS / AFP)

Sejak pandemi virus corona melanda, padepokannya memproduksi lebih banyak jenis produk.

"Ketika virus corona mulai merebak, impor barang-barang keperluan Ramadhan turun. Kami jadi terpikir untuk berinovasi dan membuat hal-hal baru. Kami mulai memproduksi barang-barang yang sebelumnya kami impor. Kami juga mulai belajar membuat patung porselen," kata Bahia Mohamed.

Di pasar jalanan kota Kairo, kios-kios pedagang dipenuhi deretan lentera hias Ramadhan berwarna cerah.

Di salah satu distriknya, Shubra, lentera Ramadhan raksasa berdiri menjulang di sisi jalan, bersebelahan dengan lampu salib dan bulan sabit, yang melambangkan keharmonisan umat beragama di Mesir.

Lentera dan lampu salib-bulan sabit raksasa itu dibuat oleh Amir Ghattas, pemilik toko buku dan pernak-pernik Kristen.

"Ini tahun pertama saya menjual lentera Ramadhan. Saya selalu menjual barang keperluan Natal dan Tahun Baru karena lokasi kami berada di distrik Shubra yang ditinggali banyak umat Kristen Koptik," katanya.

"Saya pikir, karena saya sudah membuat pohon Natal terbesar di Mesir, saya juga harus menghibur saudara-saudari Muslim saya dan membuat lentera terbesar, bukan hanya se-Mesir, tapi se-jazirah Arab. Maka itu, saya membuat lentera berukuran tinggi sekitar 15 meter, dengan hiasan bulan sabit selebar dua meter di puncaknya," lanjut Amir.

Ramadhan tahun ini kembali hadir di tengah meningkatnya gelombang baru virus corona yang melanda sebagian besar negara di dunia.

Identik sebagai saat yang tepat untuk beribadah dan berderma, Ramadhan juga merupakan waktunya orang-orang berkumpul untuk beribadah berjamaah, menggelar buka puasa bersama, memadati kafe-kafe dan saling berkunjung.

"Kami sudah menetap di Jerman selama kurang lebih 20 tahun. Kami tidak bisa berkunjung pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Tahun lalu, sulit untuk datang karena lockdown dan virus corona, jadi susah buat kami untuk datang. Tapi tahun ini, kami bisa berkunjung sebelum Ramadhan agar anak-anak saya bisa melihat langsung suasana Ramadhan yang tidak ada bandingannya di tempat lain di dunia," kata Ghada Hilal, warga Mesir yang bermukim di Jerman dan tengah mengunjungi Kairo.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓