Sudah Terima THR? Yuk Belanja Online Aja

Oleh Tira Santia pada 05 Mei 2021, 14:00 WIB
Diperbarui 05 Mei 2021, 14:00 WIB
Berburu Diskon di Harbolnas
Perbesar
Calon Konsumen membuka aplikasi situs belanja online di Kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019). Konsumen berburu diskon di salah satu situs jual beli online yang menawarkan beragam potongan harga khusus pada hari belanja online nasional (Harbolnas). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Sejak Sabtu 3 Mei 2021 lalu, terjadi lonjakan kerumunan warga yang berbelanja di Pasar Tanah Abang. Meski sebagian besar pengunjung menggunakan masker, namun desak-desakan dan kerumunan warga menyebabkan prokes saling jaga jarak terabaikan. Kerumunan warga juga mulai terlihat di banyak lokasi, terutama di pusat-pusat perbelanjaan, mengingat Tunjangan Hari Raya (THR) sudah mulai dicairkan.

Direktur Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Bambang Gunawan mengaku khawatir dengan terjadinya kerumunan di Pasar Tanah Abang dan di berbagai tempat lainnya. Meskipun di sisi lain, pemerintah juga tengah menggenjot pertumbuhan ekonomi, salah satunya dengan meningkatkan konsumsi masyarakat.

Salah satu alternatif untuk menjaga konsumsi masyarakat tetap tinggi tanpa harus berkerumun adalah belanja di marketplace. Gunawan mengimbau agar masyarakat di tengah situasi penularan pandemi Covid-19 yang masih tinggi, untuk menghindari kerumunan seperti pasar, diganti dengan berbelanja di marketplace.

“Kita mengharapkan warga untuk bijak. Meskipun THR sudah cair dan berbelanja jelang lebaran adalah tradisi tiap tahun, namun penularan Covid-19 juga masih mengkhawatirkan. Solusinya, tidak usah ke pasar, cukup berbelanja menggunakan teknologi saja, semua sudah tersedia sekarang di marketplace,” ujar Gunawan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Gunawan mengingatkan penularan Covid-19 yang masif terjadi di India apabila warga tetap berkerumun di pusat-pusat perbelanjaan, tanpa menjalankan prokes yang ketat. Kebijakan larangan mudik dari pemerintah, kata Gunawan sebaiknya juga dipatuhi masyarakat dengan tidak berbondong-bondong ke pusat-pusat perbelanjaan.

“Meskipun dilarang mudik, bukan berarti dilampiaskan dengan ramai-ramai datang ke pasar. Justru itu sama berbahayanya. Sebaiknya kita bijak, memilih diam di rumah, menghabiskan THR bisa dengan belanja daring, tanpa harus berdesak-desakan di pasar,” tutup Gunawan.

2 dari 3 halaman

Abai Prokes, Kerumunan di Pasar Tanah Abang Malah Ganggu Pemulihan Ekonomi

Kerumunan Pasar Tanah Abang Blok A
Perbesar
Kerumunan warga saat mengunjungi Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Minggu (2/5/2021). Kepadatan pengunjung yang ingin membeli kebutuhan untuk Lebaran tetap terjadi di Blok A dan B Tanah Abang meski petugas gabungan telah berjaga di pintu masuk guna mencegah kerumunan. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Lonjakan pengunjung di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, dinilai memberikan dampak positif terhadap perekonomian. Pada saat bersamaan, dinilai juga sangat berbahaya karena dapat memicu lonjakan kasus Covid-19 dan akhirnya mengganggu pemulihan ekonomi.

Ekonom Senior Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan aktivitas belanja memang tidak boleh dilarang. Namun, pemerintah harus tegas kepada pengelola tempat belanja untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes).

"Adanya kerumunan tanpa prokes bisa memicu second wave, sekaligus membahayakan terganggunya proses pemulihan ekonomi yang saat ini sedang berlangsung," ungkap Piter kepada Liputan6.com pada Senin (3/5/2021).

Piter mengungkapkan, pemerintah sudah tepat melarang penduduk untuk mudik, tetapi sayangnya tidak mengantisipasi terjadi lonjakan pengunjung pusat belanja di Pasar Tanah Abang. Padahal, pemerintah seharusnya sudah mengantisipasi tempat favorit belanja seperti Pasar Tanah Abang sejak awal, agar tidak terjadi penumpukan pengunjung.

Pasar Tanah Abang dilaporkan kembali mengalami lonjakan pengunjung menjelang Lebaran 2021. Berdasarkan data Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, jumlah pengunjung naik dari Sabtu 2 Mei 2021 sebanyak 87 ribu menjadi sekitar 100 ribu pada Minggu 3 Mei 2021.

Kendati demikian, ia menilai pemerintah tidak boleh melarang aktivitas belanja masyarakat. Namun agar hal ini tidak memicu lonjakan kasus Covid-19, maka pemerintah harus memastikan prokes di pusat perbelanjaan berjalan dengan baik.

"Belanja saya kira tetap diizinkan, tetapi pemerintah harus tegas kepada pengelola tempat belanja untuk menerapkan prokes. Belanja tidak boleh dilarang," jelas Piter. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓