Lezatnya Pisang Asap Khas Kutai untuk Berbuka Puasa

Oleh Abdul Jalil pada 26 Apr 2021, 19:10 WIB
Diperbarui 26 Apr 2021, 19:10 WIB
Pisang Asap
Perbesar
Ramsiah sedang mengolah pisang menjadi pisang asap.

Liputan6.com, Kutai Kartanegara - Ngabuburit terbaik di Bulan Ramadan adalah berburu jajanan untuk berbuka. Beragam jenis olahan makanan, baik makanan berat maupun makanan ringan, selalu tersedia.

Berbuka dengan menu olahan berbahan dasar pisang juga tentu sudah biasa. Tapi, apakah anda sudah pernah mencoba berbuka puasa dengan pisang asap?

Ramsiah, seorang ibu rumah tangga di Desa Teluk Muda, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara, mulai mengeluarkan pisang dari kulitanya. Kulit-kulit pisang tampak menjuntai di tandannya tanda isinya sudah diambil.

Pisang yang sudah dikupas tadi dimasukkan ke dalam air untuk dibersihkan. Setelah cukup bersih, Ramsiah kemudian mengangkat baskom berisi pisang ke belakang rumahnya.

Di belakang rumahnya telah dibuat semacam rumah tungku dengan tinggi lebih dari 2 meter. Di sinilah pisang diasapkan untuk kemudian diolah menjadi pisang asap.

“Pengasapan kira-kira butuh 2 jam sampai pisang berubah warna,” kata Ramsiah sebelum menuangkan pisang ke atas tungku pengasapan.

Tungku berbentuk panggung ini sengaja dibuat tinggi agar proses pengasapan bisa lebih steril. Tidak ada gangguan dari binatang maupun kotoran lain.

Selama proses pengasapan, Ramsiah beberapa kali harus memeriksa agar pengasapan merata. Di bawah terik matahari, wanita yang sehari-hari merupakan ibu rumah tangga ini harus bolak-balik ke tungku pengasapan.

Pisang yang digunakan pun bukan pisang sembarangan. Penduduk lokal menyebutnya pisang gregok.

Pisang ini tumbuh subur di pemukiman warga yang merupakan kawasan hutan hujan tropis dataran rendah. Desa Teluk Muda berdiri di sisi aliran Sungai Belayan. Sungai Belayan merupakan anak Sungai Mahakam.

Usai diasapkan hingga berwarna coklat kehitaman, pisang lalu dikemas ke dalam plastik yang kemudian ditempel stiker agar kemasannya menarik. Untuk setiap kemasan beratnya 500 gram.

“Setiap hari bisa 120 sisir pisang saya olah,” katanya.

120 sisir pisang menghasilkan 35 kilogram pisang asap. Harga satu kilogramnya Rp30 ribu.

Peminat pisang ini tak pernah sepi sehingga Ramsiah harus selalu memproduksi secara rutin. Namun kemampuannya mengolah terhalang bahan baku yang tidak setiap hari tersedia.

Untuk disajikan sebagai menu berbuka puasa di Bulan Ramadan, pisang asap bisa langsung dimakan begitu saja atau diolah seperti pisang goreng. Rasanya yang unik karena ada aroma asap, membuat pisang asap mampu menggugah selera jelang berbuka puasa.

“Kami di sini menyebutnya Pisang Rimpi,” tambah Ramsiah.

Pisang asap olahan Ramsiah kini sudah mulai beredar luas. Meski masih di Kabupaten Kutai Kartanegara, namun olahan khas warga pedalaman ini kini bisa dinikmati banyak orang.

Pengemasan yang dilakukan Ramsiah juga sudah sangat baik sehingga bisa menjadi oleh-oleh yang siap makan saat sampai di rumah. Selain menerima pesanan, Ramsiah juga menjual di warung miliknya sendiri.

Warung ini berlokasi di jalan Poros Tabang-Kota Bangun. Selain menjual Pisang Rimpi, warung tersebut juga menjual oleh-oleh khas lainnya berupa ikan asin yang diolah dari ikan endemic setempat.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak juga video pilihan berikut

Lanjutkan Membaca ↓