5 Hikmah di Balik Anjuran Makan Sahur Saat Berpuasa

Oleh Liputan6.com pada 22 Apr 2021, 11:45 WIB
Diperbarui 22 Apr 2021, 11:45 WIB
Ilustrasi puasa, buka puasa, sahur
Perbesar
(Photo by Dan DeAlmeida on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta Makan sahur menjadi salah satu hal yang sangat dianjurkan saat umat islam melakukan ibadah puasa. Dalam islam, mereka yang melakukan makan sahur akan mendapatkan keutamaan dari Allah SWT.

Sekilas, sahur adalah urusan perut semata. Namun, di baliknya ada banyak hikmah dan tujuan-tujuan agung yang bisa kita rasakan.

Orang yang melakukan sahur dianggap lebih hebat dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan makan sahur. Seperti tertulis dalam hadis, Rasulillah SAW:

Diriwayatkan dari Anas ra, Rasulullah SAW bersabda, "Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu mengandung keberkahan." (HR Syaikhani)

Dalam hadis lainnya, pelaksanaan sahur dianjurkan untuk dilakukan di penghujung malam menjelang waktu imsak.

Dari hadis di atas diketahui bahwa sahur memiliki keberkahan. Lantas, apa saja keberkahan yang dimaksud hadis tersebut?

Melansir dari islam.nu.or.id, dalam kitab Is’afu Ahl al-Iman bi Wadza’if Syahri Ramadhan (hal. 59-60), Syekh Hasan al-Masyath menjelaskan secara logis dan sistematis hikmah di balik kesunahan sahur tersebut, antara lain ialah:

 

2 dari 7 halaman

1. Sunnah Rasul sebagai Bentuk Kasih Sayang Kepada Umatnya

Menurutnya, Rasulullah SAW telah menganjurkan sahur, dan sebagai sunahnya, umat Islam pun mengikutinya.

Andai saja Rasulullah SAW tidak sahur, umatnya pun akan demikian karena menganggap ‘tidak sahur’ sebagai sunahnya.

Namun, Nabi mengerti bahwa sahur merupakan bentuk kasih sayang terhadap umatnya, sehingga beliau melakukannya dan dijadikan anjuran bagi orang yang hendak berpuasa.

 

3 dari 7 halaman

2. Agar Tubuh Tak Lemas Saat Berpuasa

Dengan sahur, maka seorang hamba akan lebih memiliki tenaga untuk melakukan aktivitas pada siang hari.

Jangan sampai bulan Ramadhan yang banyak dianjurkan ibadah, justru disia-siakan begitu saja karena seharian tubuh lemas sebab tidak sahur di malam harinya.

 

4 dari 7 halaman

3. Pengakhiran Sahur Agar Bisa Beribadah

Umat islam dianjurkan untuk melakukan makan sahur di akhir malam. Hal tersebut karena jika makan sahur dilakukan pada waktu tengah malam adalah saat kebanyakan orang dalam keadaan tidur pulas.

Jika waktu utama sahur diberlakukan saat itu, khawatir sedikit orang yang bisa memperolehnya karena rasa kantuk yang begitu berat.

Maka dari itu baiknya makan sahur dilakukan diakhir malam, karena dengan begitu orang yang selesai sahur akan menunggu waktu subuh tiba.

Saat-saat menunggu subuh itulah bisa digunakan untuk beribadah, seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an atau pun zikir lainnya.

Dengan kata lain, pengakhiran sahur adalah upaya agar kita bisa beribadah di waktu sepertiga malam. Waktu paling istimewa untuk bermunajat kepada Allah SWT. Terlebih untuk meraih malam lailatul qadar.

Bahkan, secara khusus, Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya menuliskan satu bab yang membahas tentang orang yang sahur dan tidak tidur sampai tiba waktu sholat subuh. Salah satunya adalah hadis yang mengisahkan Sahl bin Sa’d berikut, yang artinya:

Telah menceritakan kepada kami, Isma'il bin Abu Uwais, dari Saudaranya, dari Sulaiman, dari Abu Hazm, bahwa dia mendengar Sahl bin Sa'd berkata, "Suatu kali aku pernah makan sahur bersama keluargaku, kemudian aku bersegera agar dapat melaksanakan shalat Subuh bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

 

5 dari 7 halaman

4. Makan Sahur Tak Akan Dihisab oleh Allah SWT

Alasan lain mengapa orang yang sahur akan memperoleh keberkahan adalah, makanan sahur tidak akan dihisab oleh Allah SWT.

Padahal dalam aturannya, setiap apa yang kita makan akan dihisab oleh-Nya, tetapi orang yang sahur tidak. Dalam hadits Nabi disebutkan, yang artinya:

"Ada tiga hal (makanan) di mana seorang hamba tidak akan dihisab oleh Allah SWT, yaitu makanan sahur, makanan saat berbuka puasa, dan makanan yang dinikmati bersama saudara-saudara yang lain." 

 

6 dari 7 halaman

5. Pembeda Puasa Umat Muslim dengan yang Lainnya

Selanjutnya, sahur juga menjadi pembeda antara umat Muslim dengan Yahudi dan Nasrani. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya:

"Yang membedakan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur."

Terkait hadits di atas, Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan yang artinya,

"Maknanya, yang menjadi pembeda dan keistimewaan antara puasa kita dan puasa mereka (Yahudi dan Nasrani) adalah sahur. Karena sesungguhnya mereka tidak sahur, sedangkan kita disunahkan untuk sahur." (Syarah Muslim Imam Nawawi, juz 7, hal. 207)

 

Dinda Permata

7 dari 7 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓