Tren Takjil Bukber Saat Pagebluk Corona

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 17 Mei 2020, 19:00 WIB
Diperbarui 18 Mei 2020, 05:46 WIB
takjil corona
Perbesar
Tahu bakso Semarangan, berbeda dengan tahu bakso pada umumnya, ada sentuhan cita rasa loenpia di dalamnya. (foto: Liputan6.com/edhie prayitno ige)

Liputan6.com, Semarang - Pembatasan kegiatan masyarakat di Kota Semarang tak menyurutkan silaturahmi melalui buka bersama. Hanya saja tentu bentuknya berbeda dan lebih menitikberatkan pada kata ‘bersama’. Artinya memaknai 'bersama' dari sisi momentum waktu.

Bagi masyarakat menengah, gelaran buka bersama dilakukan dengan pertemuan daring. Tentu melalui berbagai aplikasi komunikasi yang ada. Namun menariknya, antar peserta seringkali saring berkirim takjil buka puasa.

Eta, salah satu orang yang sering mengadakan bukber daring menyebutkan, bahwa secara teknis, persiapan buka bersama dilakukan sejak siang. Rata-rata para peserta memesan sejumlah snack dan mengirim kepada salah satu peserta lain.

“Nah, agar takjil tak menumpuk, biasanya melalui grup percakapan kami sudah saling koordinasi bahwa si a akan mengirim apa. Semua dikirim ke peserta bukber. Jadi ketika Magrib semua menunya sama,” kata Eta, Sabtu, (17/05/2020).

Diakui bahwa dengan model bukber daring tentu biaya untuk pengadaan takjil menjadi besar. Namun menurut dia, itu bisa dikomunikasikan agar tak jadi beban.

“Jika ada yang keberatan atau tak ada biaya, akan menghubungi secara pribadi dan menyebutkan kesulitannya,” kata Eta.

Dengan pola seperti itu, transformasi dari perjumpaan darat menuju komunikasi virtual bisa lebih halus. Menurut Eta, ini perlu dilakukan agar ke depan tak ada kegagapan saat terjadi pergeseran peradaban.

Winarni, salah satu peserta, menyebutkan bahwa untuk snack takjil tak harus mahal. Bisa berupa apa saja dan lebih mengutamakan kebersamaan. Ia sendiri sudah mengikuti tiga kali bukber daring.

“Memang biaya membengkak, terutama pada pos pengantaran. Kalau bukber yang saya ikuti, rata-rata hanya berisi maksimal 10 orang,” kata Winarni.

 

2 dari 3 halaman

Menu Terfavorit

takjil corona
Perbesar
Tahu Petis Semarang dengan citarasa petis yang berbeda. (foto: Liputan6.com /edhie prayitno ige)

Lalu, apa menu yang kini sedang jadi favorit sebagai takjil?

Tak ada menu khusus. Tapi banyak yang memilih tahu bakso Semarangan. Ini berbeda dengan tahu bakso pada umumnya atau tahu bakso Ungaran. Tahu bakso Semarangan isi baksonya sangat padat. Ia disajikan dengan sambal kecap cabai rawit ekstra pedas.

Selain itu, dalam penyajiannya juga menyertakan daun bawang. Ini berbeda dengan daun kucai. Daun bawang sudah dikenal secara tradisional bermanfaat bagi tubuh. Mulai dari kandungan vitamin K untuk pembekuan darah, mengandung zat besi yang bermanfaat menjaga tingkat haemoglobin, hingga memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Supeno Jati, salah satu pedagang tahu bakso Semarangan dari Raja Oleh-Oleh, menyebutkan ada konsumen yang memesan dalam jumlah besar, tapi pengiriman juga di sejumlah alamat. Ia mengaku tak tahu jika itu sebagai menu bukber daring.

“Ada sih yang sekali pesan untuk banyak alamat. Jadi tiap alamat jumlahnya enggak banyak, mungkin maksimal hanya lima. Jika satu tahu bakso harganya Rp2.500,- berarti satu alamat hanya Rp12.500,-. Tapi tiap alamat ongkosnya justru beda,” kata Jati.

Ia menjelaskan bahwa dagangannya yang paling digemari masih lunpia. Namun belakangan, ada dua menu yang menyodok. Tahu bakso Semarangan dan tahu petis.

“Tahu bakso Semarangan memang masih kecil omzetnya. Saya pernah kirim ke 15 alamat berbeda, tapi di tiap alamat hanya tiga biji. Jadi lebih mahal ongkos kirimnya,” kata Jati.

Jati adalah penemu modifikasi tahu bakso semarangan. Berawal saat mendapatkan pesanan lunpia dalam jumlah besar. Namun ia terlalu banyak kulakan daun bawang. Untuk disimpan, sangat tidak mungkin karena rentan membusuk.

“Kalaupun tak membusuk, juga sudah kurang segar. Lalapan itu kalau disimpan di kulkas kurang bagus,” katanya.

Alhasil saat ada pelanggan membeli tahu baksonya, ia beri bonus daun bawang sebagai lalapan. Daun bawang ini biasa dijadikan lalapan di negeri Tiongkok ketika melahap lumpia atau loenpia. Loenpia Semarang adalah hasil tawar-menawar budaya Jawa–Tiongkok. Kata lumpia berasal dari dialek Hokkian yang berbunyi ‘Lun Pia‘ yang berarti kue bulat. Dan dalam Bahasa Khek atau Bahasa Hakka, Lumpia disebut Pokpia. Dalam bahasa Inggris, Lumpia dikenal dengan nama spring roll.

Saat pelanggan diberi bonus lalapan daun bawang itu, ternyata malah ketagihan. Jati kemudian bereksperimen dengan menambah sedikit bumbu loenpia dalam bakso dan tepungnya.

“Saya kemudian berani menyebut tahu bakso Semarangan. Beda dengan tahu bakso Ungaran. Cobalah,” kata Jati.

Ramadan saat terjadi pagebluk dan minta tinggal di rumah, bisa saja menjadi sebuah energi positif bereksperimen dalam eksplorasi menu atau takjil. Minat?

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut

Lanjutkan Membaca ↓