Puasa Ternyata Banyak Bermanfaat Bagi Wanita

Oleh Henry pada 15 Mei 2020, 01:40 WIB
Diperbarui 15 Mei 2020, 01:40 WIB
Makan sahur - buka puasa (iStock)

Liputan6.com, Jakarta - Tak hanya untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadan, puasa juga membawa banyak manfaat bagi tubuh. Karena itu, sebagian orang tetap berpuasa di hari-hari tertentu di luar Ramadan.

Sejumlah penelitian juga mendukung fakta tersebut. Sebuah penelitian terbaru bahkan menunjukkan ada perbedaan yang signifikan terhadap kesehatan wanita saat puasa yang menahan diri dari makan selama enam jam ketika dibandingkan dengan pria.

Sebuah tim Australia dari Universitas Sydney ingin melihat bagaimana puasa berdampak pada kesehatan tikus secara keseluruhan. Seperti diketahui, puasa dapat mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2, suatu kondisi yang umumnya dikaitkan dengan obesitas.

Mereka memperkirakan kalau puasa memaksa tubuh untuk menggunakan energi yang tersimpan dari lemak dan gula yang disimpan. Hal ini bisa membantu menurunkan berat badan dan juga membantu kadar glukosa dan kolesterol darah.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Physiology, tim membagi hewan menjadi kelompok jantan dan betina. Mereka dipuasakan selama enam jam pada malam hari (saat tikus lebih aktif). Proses ini dilakukan selama empat minggu.

"Perbedaan utama antara jenis kelamin ditemukan di hati dengan penyimpanan lemak dan penggunaan dalam hati berbeda pada pria dan wanita," terang kandidat doktoral Universitas Sydney Therese Freire, seperti dilansir dari laman physoc.org.

2 dari 2 halaman

Kesehatan Hati

[Bintang] Jadwal Sholat, Imsakiyah dan Buka Puasa Hari ke-21, 6 Juni 2018
Meskipun tengah disibukkan dengan persiapan mudik, jangan lupa sama jadwal sholat, imsakiyah dan buka puasa. (Ilustrasi: Pexels.com)

Temuan itu menunjukkan bahwa puasa membawa lebih banyak manfaat untuk wanita dibandingkan pria, khususnya bagi kesehatan hati.

Seperti diketahui, hati adalah bagian integral dari tubuh dan hati yang sehat mengurangi risiko diabetes tipe 2, penyakit ginjal, dan tekanan darah tinggi.

Tahap selanjutnya adalah menerapkan studi yang sama pada manusia untuk memeriksa apakah pola yang sama terjadi.

Penulis senior penelitian Samantha Solon-Biet mengatakan: "Dengan menyoroti beragam respons terhadap puasa pada tikus jantan dan betina, kami menunjukkan pentingnya menyertakan kedua jenis kelamin dalam studi praklinis".

Lanjutkan Membaca ↓