Cerita Profesor Indonesia Andalkan Rendang dan Sambal Goreng Kentang untuk Sahur dan Buka Puasa di India

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 13 Mei 2020, 09:00 WIB
Diperbarui 13 Mei 2020, 09:00 WIB
Taj Mahal, India. (dok. Bharath Reddy/Unsplash.com/Adhita Diansyavira)
Perbesar
Taj Mahal, India. (dok. Bharath Reddy/Unsplash.com/Adhita Diansyavira)

Liputan6.com, Jakarta Menjalankan puasa Ramadan di negeri orang tentu terasa berbeda dari di Tanah Air. Tak hanya soal durasi puasa yang jadi lebih singkat atau lebih panjang, melainkan juga hidangan sahur dan berbuka yang mungkin berbeda dari menu di Indonesia. Hal itu pun dirasakan Direktur WHO SEARO Bidang Penanggulangan Penyakit Menular Prof Tjandra Yoga Aditama.

Tjandra mengaku mengandalkan rendang dan sambal goreng kentang-ati untuk santapan sahur maupun buka puasa pada Ramadan kali ini. Bagi Tjandra, ini adalah tahun kelima ia menjalani Ramadan di India, sekaigus menjadi pengalaman puasa yang berbeda. Pasalnya, Tjandra yang berkantor di New Dehli harus bertahan dalam situasi lockdown terkait pandemi Corona COVID-19.

"Tahun ini kelima kalinya saya puasa Ramadan di India, sejak September 2015 bertugas di WHO SEARO. Puasa kali ini cukup besar perbedaannya daripada tahun-tahun yang lalu. Tentunya karena COVID-19 sedang melanda," ujar Tjandra membuka percakapan melalui pesan singkat kepada Health Liputan6.com.

Tjandra menuturkan, sebelumnya dia biasa pulang ke Jakarta jelang Ramadan. Dia mengaku rutin pulang sebulan sekali ke Jakarta. Namun tahun ini, kebiasaan itu tak bisa dilakukan.

"Biasanya setiap tahun, sebelum puasa atau hari-hari pertama puasa saya (pulang) ke Jakarta. Saya memang sebulan sekali ke Jakarta. Di India tinggal sendiri saja. Balik lagi ke India ya bawa persediaan makanan untuk sebulan puasa."

Makanan yang wajib dibawa dari Tanah Air untuk menjalani sebulan puasa Ramadan meliputi 50 bungkus kecil es buah serta puluhan bungkus kecil rendang, sambal goreng ati dan teri kacang untuk menu buka puasa dan sahur.

Ya, sebagai pelepas dahaya, es buah menjadi sajian yang selalu dinikmatinya kala berbuka dan sahur. Tidak ada menu lain. Tak juga menu makanan India.

"Saya selalu buka puasa dan sahur dengan minum es buah. Setiap satu bungkus yang sudah dikemas dari Jakarta ya untuk satu kali makan, sehingga cukup untuk sebulan puasa. Bahkan beberapa minggu sesudahnya," lanjut Tjandra.

 

2 dari 3 halaman

Pupus Harapan Pulang ke Jakarta

India
Perbesar
Cerita Prof Tjandra Yoga Aditama menikmati bunga musim semi di India di tengah Lockdown 2.0. (Dok Prof Tjandra Yoga Aditama)

Sayangnya, India sedang menjalani lockdown tahap kedua ketika Tjandra menceritakan pengalamannya pada Health-Liputan6.com. Tak ayal, seluruh akses penerbangan tutup. Tjandra pun tidak bisa pulang ke Jakarta untuk membawa perbekalan makan sebulan puasa.

"Tahun ini India totally lockdown sejak 25 Maret 2020. Praktis semua tutup, bandara dan penerbangan juga tutup. Rencana saya pulang ke Jakarta tanggal 10-14 April 2020 jadi batal," ujar Tjandra, yang pernah menjabat Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI.

"Tadinya saya masih berharap karena (sebelumnya) lockdown sampai 14 April, jadi mungkin 15 April bisa ambil bekal ke Jakarta. Ternyata, dilanjutkan dengan lockdown 2.0 sampai 3 Mei 2020. Pupuslah sudah harapan."

Secercah harapan datang, Tjandra masih mempunyai persediaan rendang, sambal goreng ati kentang, dan es buah di lemari es.

"Terus terang saya tidak bisa masak sama sekali, kecuali menghidupkan rice cooker buat masak nasi, ketel masak air listrik serta microwave. Sehari sebelum puasa (hari Kamis), saya melakukan skrining di lemari es. Alhamdullilah, saya berhasil menemukan 8 bungkus kecil sambal goreng ati kentang masakan rumah dari Jakarta," Tjandra menambahkan.

"Ada juga 2 plastik rendang yang dikasih guru ngaji di Jakarta beberapa bulan yang lalu, 4 bungkus rendang dalam kemasan (prepacked), dan 2 bungkus kecil es buah."

 

3 dari 3 halaman

Persediaan Makanan untuk 15-20 Hari Puasa

Cara Membuat Es Buah
Perbesar
(sumber: Unsplash)

Rendang, sambal goreng ati kentang, dan es buah yang masih ada di lemari es cukup 15-20 hari puasa Ramadan. Untuk memesan makanan pun sekarang sulit. Tidak ada orang yang bisa antar makanan. Bahkan tidak ada tukang antar koran dan tukang pos.

"Semua restoran di New Delhi juga tutup. Setidaknya 15-20 hari puasa, saya masih akan aman dan bisa tetap makan makanan Indonesia," terang Tjandra yang juga mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

"Mudah-mudahan saja tidak dilanjutkan lockdown 3.0 (lockdown tahap ketiga), sehingga restoran buka dan saya bisa berbuka dengan masakan India. Yang jelas, hari pertama puasa, Jumat (24/4/2020) kemarin, saya bisa berbuka dengan es buah. Nanti sore juga masih es buah dari Jakarta. Tapi besok-besok nampaknya minum jus kotak India saja."

Tjandra teringat tahun-tahun lalu bisa buka puasa di luar rumah. "Tahun-tahun yang lalu buka puasa juga dirumah. Kadang ada acara di Masjid KBRI atau buka puasa di restoran. Kadang kebetulan ada acara yang ada makan malamnya. Tahun ini tentu hanya akan selalu di rumah saja," katanya.

Momen ngabuburit dilakukan Tjandra dengan berjalan-jalan di dalam kompleks rumahnya. Situasi pun sepi dan kosong.

"Kadang saya mencuri kesempatan untuk jalan sore di dalam kompleks. Jalanan kosong melompong, saya biasanya jalan sore sambil bawa plastik, sehingga disangka baru dari toko beli buah atau roti," tutupnya sembari mengirimkan foto selfie dirinya dengan latar belakang jalanan yang kosong.

India
Perbesar
Hari-hari puasa Ramadan Prof Tjandra Yoga Aditama di India saat lockdown 2.0 mengandalkan rendang dan sambal goreng ati. (Dok Prof Tjandra Yoga Aditama)
Lanjutkan Membaca ↓