Bagaimana Puasa Ramadan di Angkasa Luar? Ini Curhat Astronaut Pertama Saudi

Oleh Liputan6.com pada 12 Mei 2020, 00:20 WIB
Diperbarui 12 Mei 2020, 00:20 WIB
Nebula Kepiting yang diambil oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble. (NASA, ESA, J. Hester, A. Loll (ASU))

Liputan6.com, Florida - "Seven Days in Space" merupakan buku yang menceritakan pengalaman para astronaut yang menghabiskan waktu mereka dalam ekspedisi ke angkasa luar tahun 1985.

Yang menarik adalah penulis memberikan detail menarik terkait pengalamannya di angkasa luar, yang membentuknya sebagai pemimpin hari ini.

Penulis dari buku tersebut tak lain adalah Pangeran Sultan Bin Salman, pemimpin dari Dewan Direksi Komisi Antariksa Saudi. Dirinya menceritakan perjalanana selama di angkasa luar yang bertepatan dengan Ramadan.

Ia membeberkan bahwa pengalaman tersebut membuatnya merasa lebih dekat kepada Tuhan, seperti yang dikutip dari Saudi Gazette, Selasa (12/5/2020). 

Keberangkatan Pangeran Sultan Bin Salman dan beberapa astronaut lainnya dikirim ke angkasa luar mencetak sejarah sebagai astronaut Arab dan Muslim yang pertama. Selain itu mereka juga melakukan puasa dan membaca Al-Quran. 

Dalam bukunya itu, mantan anggota NASA pada 36 tahun lalu itu turut menceritakan pengalaman selama di angkasa luar.

2 dari 2 halaman

Bagaimana Melakukan Puasa di Angkasa Luar?

Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, astronot muslim pertama
Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, astronot muslim pertama (Wikipedia)

Dalam bukunya ini, Pangeran Sultan menuliskan bahwa dirinya melakukan bersyukur bisa merasakan Ramadan pertama di angkasa luar yang bertepatan dengan Ramadan hari ke-29.

Sebelum menjalankan tugasnya, pangeran sejatinya telah diberi masukan oleh Imam Besar dari Arab Saudi, Sheikh Abdulaziz Bin Baz untuk tak berpuasa, dan dapat menggantinya selepas misi.

Kendati demikian, sang pangeran memutuskan untuk berpuasa selama menjalankan tugas sebagai astronaut dan tetap menjaga komitmen untuk berpuasa seperti masa latihan dan persiapan untuk pergi ke angkasa luar di NASA Johnson Space Center, Houston. 

Para pekerja NASA saat itu telah memberitahu Pangeran Sultan bahwa selama masa latihan, mereka akan memperhatikan kesehatannya bersama astronaut Abdul Monsen Al Bassam selama minggu awal Ramadan. 

NASA telah mengatakan kepada mereka untuk tidak melanjutkan puasa jika ada gangguan kesehatan selama latihan. Namun, masa latihan tersebut selesai tanpa ada gangguan kesehatan dan Pangeran Sultan mendapat izin untuk melanjutkan puasanya selama tugas. 

Pangeran Sultan mengatakan bahwa dirinya terkagum oleh Allah yang memberinya berkat dan kekuatan, agar dirinya berpuasa selama satu bulan tanpa keluhan kesehatan.  

Dirinya mengingat bahwa ada beberapa hari di mana berpuasa tanpa Sahur, meski begitu dirinya tidak melupakan ibadah lainnya seperti membaca Al-Qur'an yang dilakukannya tiap hari. 

Dalam hari pertamanya dalam misi "Discovery", Pangeran Sultan juga berbagi pengalaman bahwa dirinya sempat kehabisan tenaga akibat kurang tidur. Tak hanya itu perbedaan grafitasi dan perubahan cairan dalam tubuh juga mempengaruhi kesehatan manusia. Meski begitu, dirinya tidak pernah menyerah. 

"Saya berpuasa dengan jam waktu Florida, tempat di mana kita diluncurkan ke angkasa luar. Hal terakhir yang saya lakukan sebelum menjalankan misi adalah berdoa saat subuh seraya memohon kepada Allah untuk memberkati orang-orang terkasih, dan seluruh saudara Muslim yang menjalankan tugas," ujarnya. 

"Saya memohon kepada Allah untuk memberikan kesuksesan bagi kita yang menjalankan misi, supaya kita mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang telah mempercayai kami. Doa subuh membuat saya lebih tenang dan optimis."

Selama di di angkasa luar, sang pangeran berdoa di dalam pesawat antariksa. 

"Anda cuma punya ruang 6 kaki (1.83 meter)  dan kaki Anda membutuhkan alat pengikat yang khusus karena gravitasinya 0," ujarnya. 

"Namun untuk melakukan sujud, itu tidaklah mungkin. Karena pada posisi sujud dalam kondisi seperti itu dapat membuat Anda pusing," tambahnya.

Untuk me mbaca Al-Qur'an, Pangeran Sultan mengatakan bahwa dirinya membawa Al-Qur'an kecil dalam kantongnya yang dapat dibaca setiap hari selama misi. 

"Alla memberikan berkat kepada saya untuk bisa membaca seluruh isi kitab Qur'an dalam lima hari. Setelah melakukan kegiatan saya, termasuk uji coba scientific, fotografi dan peluncuran Arabsat, Saya memberikan waktu luang saya untuk membaca kitab," ujarnya. 

Sang pangeran mengingat bahwa dirinya menjadi sedikit emosional bahkan menangis ketika dirinya membuat panggilan kepada sang ayah, Raja Salam, dari angkasa luar. Dirinya menceritakan bahwa dirinya berhasil membaca seluruh kitab Qur'an. 

Pangeran Sultan juga memiliki bacaan surat Al-Qur’an dalam bentuk rekaman yang didengarnya sebelum tidur. 

Membaca Al-Qur’an membuat sang pangeran untuk merenung tentang kehebatan Sang Pencipta dan misteri dari ciptaannya. Ia bersyukur bisa khatam Al-Quran dalam misinya di angkasa luar.

"Dari waktu ke waktu, saya melihat dari jendela untuk menyaksikan kehebatan Allah atas ciptaannya."   

 

Reporter: Yohana Belinda

Lanjutkan Membaca ↓