Alasan Keluhan Mag Membaik dengan Puasa Ramadan

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 05 Mei 2020, 03:30 WIB
Diperbarui 05 Mei 2020, 03:30 WIB
Ilustrasi Sakit Mag (iStockphoto)
Perbesar
Mengapa sakit mag selalu dikaitkan dengan orang yang suka telat makan siang

Liputan6.com, Jakarta Puasa Ramadan berdampak positif bagi kesehatan, salah satunya bagi individu yang memiliki keluhan mag. Kondisi mereka akan membaik dengan berpuasa Ramadan.

Dokter spesialis penyakit dalam Ari Fahrial Syam menyampaikan, beberapa alasan pasien dengan sakit mag akan membaik jika berpuasa Ramadan.

"Dalam praktik sehari-hari, bahkan pada minggu pertama pasien sudah melaporkan bahwa keluhan magnya membaik selama puasa Ramadan. Karena makannya menjadi teratur pada saat sahur dan berbuka, mengurangi camilan-camilan tidak sehat yang bisa saja dikonsumsi pada siang hari, mengurangi konsumsi rokok dan pengendalian diri," terang Ari melalui pesan singkat yang dikirimkan kepada Health Liputan6.com.

Ia menyebut, pasien GERD juga akan membaik keluhan magnya saat menjalankan puasa Ramadan. GERD adalah penyakit asam lambung yang saat ini menjadi tren masyarakat modern.

 

 

2 dari 3 halaman

Pasien GERD Membaik

Berdasarkan jurnal berjudul The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptomps in Patients with Gastroesophageal Reflux Disease yang ditulis Radhiyatam Mardhiyah, kelompok pasien yang berpuasa Ramadan terdapat perubahan nilai GERD-Q (suatu parameter untuk menilai ringan buruknya GERD).

Jumlah pasien yang mengalami perubahan (semakin membaik keluhan) sebanyak 55 pasien (85 persen). Bahkan pada 23 persen pasien GERD kondisi semakin membaik.

"Hasil penelitian dilaporkan 4 tahun yang lalu oleh peserta pendidikan dokter spesialis penyakit FKUI-RSCM. Penelitian ini sendiri dilakukan pada bulan Ramadan dengan peneliti Dr. Radhiyatam Mardhiyah, yang mana kebetulan saya menjadi salah satu pembimbing dalam penelitian Dr. Radhiyatam tersebut," lanjut Ari.

3 dari 3 halaman

Faktor yang Memperberat GERD

Hasil penelitian melalui survei mendapatkan 50 persen responden mengalami GERD sesuai skoring kuisioner GERD (GERD-Q). Penelitian juga menunjukkan bahwa jumlah kasus penyakit GERD semakin lama makin meningkat di tengah masyarakat.

Penelitian di beberapa Puskesmas di Jakarta mendapat angka kejadian GERD berkisar 3 persen. Pasien dengan GERD datang dengan keluhan utama berupa rasa panas di dada, seperti terbakar (heart burn) dan asam lambung yang naik ke atas (regurgitasi).

"Faktor risiko diidentifikasi sebagai faktor yang dapat mencetuskan atau memperberat terjadinya GERD antara lain obesitas, kebiasaan merokok, kebiasaan meminum alkohol, konsumsi makanan mengandung cokelat, keju dan berlemak, asam, pedas serta stres," Ari menambahkan.

"GERD menjadi perhatian karena penyakit ini berhubungan dengan penurunan berbagai kualitas hidup pasien yang mengalaminya walau penyakit ini tidak akan menyebabkan kematian mendadak. Memang di awal gejala pasien yang menderita GERD mirip seperti pasien yang sedang mengalami serangan jantung."

Ia menekankan, penyakit GERD tidak akan menyebabkan komplikasi pada jantung. Pasien yang diteliti merupakan pasien GERD yang berobat di Poli Gastroenterologi RSCM. Sebanyak 130 pasien diteliti pengaruh gejala penyakit GERDnya selama puasa Ramadan.

 

Lanjutkan Membaca ↓