Jejak Sunan Kalijaga di Blora, Bikin Batu Bata hingga Kandang Bebek

Oleh Liputan6.com pada 05 Mei 2020, 22:20 WIB
Diperbarui 05 Mei 2020, 22:20 WIB
Miniatur Masjid Agung Demak
Perbesar
Miniatur Masjid Agung Demak dari 50 kilogram buah kurma (Istimewa)

Liputan6.com, Blora Banyak kisah menarik di balik perjuangan wali terdahulu untuk menyebarkan agama Islam. Jejak-jejaknya antara lain tersebar di banyak masjid tua. Salah satunya Masjid Agung Demak.

Banyak orang belum tahu, konon Masjid Agung Demak dibangun dari batu bata yang dibuat di Blora, Jawa Tengah. Batu bata itu dibuat sendiri oleh Sunan Kalijaga, saat dirinya berkelana di sebuah tempat terpencil bernama Dukuh Karang Legi, Desa Patalan, Blora.

"Itu blumbang untuk membuat batu batanya Sunan Kalijaga," ujar Supardi, Warga Karang Legi, kepada Liputan6.com, sambil menunjukkan sebuah benda di lokasi makam keramat, Kamis (30/4/2020).

Supardi mengatakan, blumbang itu kini menjadi barang yang dikeramatkan warga sekitar. Awalnya, kata dia, batu bata yang dibuat Sunan Kalijaga sebetulnya untuk membangun masjid di Karang Legi.

"Karena tidak jadi untuk bangun masjid di Karang Legi, batu bata kemudian dilempar untuk masjid Demak," katanya.

Supardi menambahkan, zaman Wali Songo yang tidak mungkin serba menjadi mungkin. Dia bilang, batu bata Sunan Kalijaga dahulu kala pada abad ke XV juga diperkirakan untuk kebutuhan bangunan menara Kudus.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Petilasan Karang Legi dan Misteri Blumbang Batu Bata Sunan Kalijaga

Petilasan Karang Legi
Perbesar
Lokasi pembangunan masjid yang hendak dibangun Sunan Kalijaga di Blora. (Liputan6.com/Ahmad Adirin)

Senada yang di sampaikan Supardi, Mbah Joyo, tokoh masyarakat setempat. Menurut dia, dahulu kala Sunan Kalijaga tidak jadi membangun masjid di Karang Legi lantaran kedahuluan ayam berkokok.

"Batu batanya terus untuk masjid Demak, di sini sudah tidak ada yang utuh," kata dia.

Mbah Joyo bercerita, seringkali banyak warga dari berbagai daerah datang ke petilasan Sunan Kalijogo. Dikatakannya, baik warga Solo hingga warga luar kota lainnya pun pernah datang.

"Di sini (lokasi petilasan) sudah tidak ada batu bata yang utuh. Jika menemukan yang utuh mau ada yang beli berapa pun permintaannya," ucap warga yang mengaku juru kunci kuburan Karang Legi itu.

Menurut dua, batu bata yang dibuat Sunan Kalijaga saat ini di Karang Legi adanya hanya pecahan atau puing-puing saja dan yang utuh dahulu untuk Masjid Agung Demak.

"Cerita turun temurunnya seperti itu. Untuk Masjid Agung Demak," kata dia.

Dirinya menambahkan, ada beberapa titik yang dikeramatkannya di area makam Dukuh Karang Legi.

"Lokasi blumbang untuk buat batu bata, kemudian tempat yang tidak jadi dibangun masjid, lalu tempat kandang bebek yang pernah dipelihara oleh Sunan Kalijaga. Itu dikeramatkan," ucap dia menyebutkan.

"Tidak boleh sembarangan," Mbah Joyo menambahkan.

Saat Liputan6.com berkunjung, di lokasi petilasan itu tampak bebatuan alam, serta batu bata model kuno yang tinggal puing-puing.

Terdapat satu batu bata yang masih bisa diukur dengan memakai peralatan meteran. Ukurannya tampak cukup besar dibandingkan batu bata sekarang. Dengan panjang 28 centimeter, lebar 19 sentimeter dan memiliki ketebalan 10 sentimeter.

Artefak yang ditemukan di Petilasan Sunan Kalijaga di Blora, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com.Ahmad Adirin)
Perbesar
Artefak yang ditemukan di Petilasan Sunan Kalijaga di Blora, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com.Ahmad Adirin)

Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh Wali Songo (Wali Sembilan) yang diyakini pernah singgah di Dusun Karang Legi sekitar abad ke-XV dan hendak mendirikan sebuah bangunan di lokasi tersebut.

"Dalam pengembaraan spiritual Sunan Kalijaga setelah sampai di Dusun Karang Legi ini, nampaknya hendak membangun sebuah tempat peribadatan (masjid) namun tidak jadi,” ujar pemerhati sejarah Blora, Eko Arifianto saat bersama Liputan6.com mengunjungi petilasan tersebut, Kamis (30/4/2020).

Konon, semula Sunan Kalijaga hendak membangun masjid ini namun batal. Tak jelas penyebab Sunan Kalijaga tidak jadi membangun masjid di tempat ini.

Berdasarkan pengamatan di lokasi, tampak bebatuan alam bahan bangunan serta batu bata model kuno yang tinggal terisa puing-puing.

Terdapat satu batu bata yang masih bisa diukur. Ukurannya tampak cukup besar dibandingkan batu bata sekarang, dengan panjang 28 sentimeter, lebar 19 sentimeter dan tebal 10 sentimeter.

Ada beberapa titik lokasi yang hingga saat ini dikeramatkan warga setempat secara turun temurun. Antara lain lokasi yang tidak jadi dibangun masjid, blumbang cemek (tempat produksi batu bata). Di tempat ini pula, ada bekas kandang bebek yang pernah dipelihara oleh Sunan Kalijaga.

 

Penulis : Ahmad Adirin

Lanjutkan Membaca ↓