Manfaat Puasa: Sehatkan Tubuh, Mental, dan Mencegah Risiko Kanker

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 18 Apr 2020, 06:15 WIB
Diperbarui 18 Apr 2020, 06:15 WIB
Puasa Ramadan (iStockphoto)
Perbesar
Ilustrasi Puasa Ramadan (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Telaah medis membuktikan puasa memberi banyak manfaat kesehatan, tak hanya baik bagi fisik, melainkan juga mental.

Ahli gizi Claire Mahy mengatakan, puasa memungkinkan usus untuk membersihkan dan memperkuat lapisannya. Ini juga merangsang proses yang disebut autofagi, yakni ketika sel membersihkan diri dan menghilangkan partikel yang rusak dan berbahaya.

Para ilmuwan juga mempelajari hubungan antara diet, kesehatan usus, dan kesehatan mental. Michael Mosley, penulis buku The Fast Diet mengatakan puasa ini bisa menyebabkan pelepasan BDNF (brain-derived neurotrophic factor atau faktor neurotopik yang diturunkan dari otak) yang berada di otak.

"Puasa telah terbukti melindungi sel-sel otak dan dapat mengurangi depresi, kecemasan, serta risiko mengembangkan demensia," kata Mosley seperti dikutip dari Aljazeera.

Selain bagi kesehatan mental, puasa yang dilakukan dengan benar bisa membantu membakar lemak dan menambah massa otot.

Ahli gizi Nazmin Islam mengatakan, penurunan berat badan yang berkelanjutan bisa dilakukan dengan berpuasa selama bulan Ramadan. Namun, efeknya bisa hilang ketika seseorang kembali ke kebiasaan makan lamanya.

"Namun, manfaatnya lebih besar daripada yang kontra. Dalam jangka panjang, puasa, jika dilakukan dengan benar, bisa meningkatkan sistem pencernaan seseorang dan metabolisme secara keseluruhan," kata Nazmin menambahkan.

 

 

2 dari 2 halaman

Cegah Kanker

Ketika ditemui Health Liputan6.com, Ketut Suastika, ahli endokrinologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana mengatakan puasa juga bisa dilakukan di luar bulan Ramadan. Beberapa tradisi seperti puasa Senin dan Kamis juga memiliki manfaat.

"Karena kalau kita terus makan banyak, secara teori, seseorang akan cepat menua dan cepat meninggal," kata Ketut beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ketika seseorang makan terus-menerus, tubuh akan mengeluarkan insulin dalam jumlah yang banyak. Tidak hanya mempengaruhi gula darah, tetapi dia juga memicu penuaan sel dan berpotensi menyebabkan kanker.

"Jadi puasa itu bagus karena sel-sel tidak cepat tua dan mencegah risiko kanker. Tidak bagus ketika orang memiliki kondisi diabetes tertentu misalnya, tapi pada orang normal, itu bagus," Ketut menegaskan.

"Kalau hari biasa seminggu sekali puasa sehari penuh tidak apa-apa. Asal kuat saja menahan lapar. Karena dari lemak akan diubah jadi karbohidrat lagi," pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓