Jelang Idul Fitri, Bulan Sabit Merah UEA Luncurkan Bantuan di Yaman

Oleh Siti Khotimah pada 04 Jun 2019, 13:00 WIB
Diperbarui 06 Jun 2019, 11:13 WIB
Konvoi Truk Bantuan PBB Masuki Ghouta Timur

Liputan6.com, Hadramaut - Organisasi Bulan Sabit Merah UEA, The Emirates Red Crescent (ERC) meluncurkan bantuan khusus Idul Fitri di Hadramaut, Yaman.

Bantuan yang dimaksud adalah 1.000 voucher bagi masyarakat kurang mampu dan mereka yang telah kehilangan pencari nafkah utama dalam keluarga. Dengan kupon itu, mereka akan dapat membeli barang-barang di berbagai sentra perbelanjaan Hadramaut, Yaman.

Melansir Emirates News Agency pada Senin (3/6/2019), tim ERC juga mengunjungi daerah pedesaan di sekitar kantor gubernur di Hadramaut, Yaman. Organisasi itu membagikan pakaian untuk Idul Fitri kepada sejumlah individu dan keluarga.

Tujuan utama di balik kampanye itu adalah untuk memberikan pakaian Idul Fitri kepada anak yatim, orang cacat, dan keluarga denan sumber pendapatan terbatas, kata Hamed Rashid Al Shamsi dan perwakilan ERC di Hadramaut. Selain untuk meringankan kesulitan keuangan mereka, program itu juga bertujuan membawa kegembiraan untuk masyarakat saat Idul Fitri.

2 dari 2 halaman

Apa yang Terjadi di Yaman?

Salah seorang anggota pasukan militan Houthi yang berperang dengan pemerintah Yaman (AFP Photo)
Salah seorang anggota pasukan militan Houthi yang berperang dengan pemerintah Yaman (AFP Photo)

Yaman tengah menjadi medan perang saudara antara kubu Houthi dan Hadi yang masing-masing mengaku sebagai pemerintahan yang sah. Konflik berkecamuk setidaknya sejak 22 Maret 2015 lalu.

Sejak saat itu, setidaknya 6.800 warga sipil tewas dan sekitar 10.700 lainnya terluka. Menurut PBB, ribuan lainnya telah meninggal karena sebab yang dapat dicegah seperti kekurangan gizi, penyakit dan kesehatan yang buruk.

Dalam konreks korban usia dini, sekitar 7.300 anak-anak telah terbunuh atau terluka parah, menurut laporan PBB. Sementara itu, sekitar 360.000 lainnya dalam kelompok usia yang sama, menderita kekurangan gizi akut yang kian mengkhawatirkan.

Dikutip dari CBS News, setengah dari lima juta anak balita di Yaman turut dilaporkan mengalami pertumbuhan yang terhambat, dan kabar buruknya, hal itu sulit diubah.

"Dalam konflik apa pun, anak-anak menderita lebih dulu. Dan yang terburuk," kata Henrietta Fore, direktur eksekutif UNICEF, lembaga PBB yang khusus mengurusi isu anak-anak.

Dalam pidatornya di depan Dewan Keamanan AS pada Rabu 15 Mei, Fore mengatakan bahwa perang mengakibatkan ketersediaan air bersih di Yaman menipis, di mana berdampak pada tingkat dehidrasi yang tinggi pada anak-anak.

"Yaman adalah ujian bagi kemanusiaan kita," kata Fore prihatin. "Dan sekarang, kita gagal dalam ujian ini."

Menurut kepala urusan kemanusiaan AS, Mark Lowcock, sebanyak sepuluh juta orang Yamankini bergantung pada pangan darurat untuk bertahan hidup, Bantuan makanan tiba di negara itu, tetapi tidak sebanyak yang dibutuhkan, katanya.

"Seratus tiga puluh petugas kemanusiasn bekerja bersama untuk melayani 9,8 juta orang dengan makanan, air, perawatan kesehatan dan bantuan lainnya sejak awal Januari lalu,: kata Lowcock.

Namun dia mengingatkan bahwa situasinya tetap putus asa. "Momok kelaparan masih tampak," katanya pada pertemuan Dewan Keamanan.

Lanjutkan Membaca ↓