Mudik Bukan Sekadar Pulang ke Udik

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 01 Jun 2019, 11:00 WIB
mudik

Liputan6.com, Semarang - Hari Raya Idul Fitri di Indonesia menjadi sebuah katarsis bagi masyarakat. Terutama mereka yang kesehariannya suntuk dengan rutinitas yang bersentuhan materialisme. Itulah sebabnya, Idul Fitri senantiasa disambut dengan gemuruh dan gegap gempita. 

Etalase kecerdasan manusia Indonesia sangat mencolok ketika kultur yang ada mampu mengakomodasi budaya baru untuk kemudian melahirkan tradisi khas. Mudik adalah salah satunya.

Budayawan dan novelis Umar Khayam (almarhum) pernah menyebut bahwa tradisi Lebaran untuk merayakan Idul Fitri merupakan langkah kuda akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.

Budayawan Emha Ainun Nadjib bercerita bahwa alam bawah sadar tradisi mudik adalah perpaduan sikap kritis, kerinduan asal muasal seseorang dibesarkan, dan juga ikhtiar manusia Indonesia meraih kehidupan dunia yang lebih baik. Cak Nun menyebut bahwa setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta.

"Kalau hanya sekadar Innalilahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, tentu sudah selesai karena sekarang teknologi memungkinkan untuk kembali tidak secara fisik. Telepon, sms, dan berbagai platform media komunikasi mampu memfasilitasi itu," kata Cak Nun.

Namun, ia mengingatkan bahwa siklus yang ditetapkan Allah memang melingkar. Dicontohkan bahwa jika seseorang dari Gunungkidul merantau ke Jakarta, dan hendak kembali ke Gunungkidul, pasti akan melalui jalan melingkar.

"Jadi mudik itu tidak asal kembali pas Hari Raya Idul Fitri," katanya.

Simak video petunjuk mudik di Jateng berikut:

 

2 of 4

Bukan soal Malas

20160711-Emha-Ainun-Nadjib-BH
Emha Ainun Nadjib (Liputan6.com/Boy Harjanto)

Lalu, apa yang menjadi faktor bahwa tradisi mudik ini menjadi terlembaga, bahkan negara dalam hal ini pemerintah merasa perlu turun tangan mempersiapkan?

Pemicunya adalah faktor urbanisasi. Nyaris 85% uang yang beredar di Indonesia berada di Jakarta. Maka untuk ikhtiar kehidupan dunia, masyarakat kemudian mendatangi Ibu Kota. Di sana mereka akan bekerja keras agar bisa membuktikan bahwa pilihannya tidak salah.

"Ini bukan soal rajin atau malas bekerja di kampung. Tapi pemerintah sendiri memberikan contoh bahwa mereka yang hidup di kota seringkali tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan hasil berlimpah. Lihatlah ijin-ijin usaha yang ada, apakah yang menandatangani itu bekerja keras?" Cak Nun mempertanyakan.

Itulah sebabnya Cak Nun menyebut bahwa mudik sesungguhnya merupakan manifestasi sikap kritis juga dan memenuhi garis melingkar sebagaimana hidup yang akan menyongsong kematian juga melalui jalan melingkar.

Budayawan Semarang Prie GS juga menyebutkan hal yang sama. Menurut dia, mudik Lebaran bukanlah pulang kampung. Mudik itu sejatinya adalah sebuah pertemuan dengan sejarahnya.

"Pengalaman masa kecil, nilai-nilai kearifan yang ia terima saat masih kecil dan berproses menjadi dewasa, semua akan dirindui dan akhirnya mendorong seseorang untuk mudik," kata Prie.

Campur tangan kapital dan industri akhirnya menjadikan tradisi mudik menjadi ladang baru mencari duit. Secara satire Prie mengungkapkan bahwa saat seseorang mendengar kata mudik, yang terbayang bukan lagi kampung halaman dengan segala romantikanya.

"Yang terbayang adalah kemacetan," kata Prie.

 

 

3 of 4

Pamer Sukses = Sia-Sia

mudik2018-prie gs
Prie GS, masyarakat masih butuh simbol untuk membangkitkan imajinasi dan menciptakan ideal-ideal, Mudik salah satunya. (foto: Liputan6.com/edhie prayitno ige)

Bagi yang memiliki kearifan transenden, sebenarnya mudik merupakan sebuah pemanasan untuk kembali ke Allah. Setiap manusia dipastikan mati. Kembali ke penciptanya. Adapun mudik merupakan katarsis atau penyucian rohani.

Bagaimana dengan para pemudik memberi arti pada tradisi ini?

Cahyono, seorang perwira Angkatan Udara asal Magelang, menyebut bahwa meskipun orang tua sudah meninggal, ia akan mempertahankan tradisi mudik. Selain untuk mengenalkan tanah air Indonesia, juga untuk menghormati jalinan persaudaraan dengan saudara, teman, tetangga, dan semua yang berada di kampung.

"Meskipun sudah meninggal, bakti kita sebagai anak masih bisa ditunjukkan dengan mendoakan orang tua di makamnya," kata Cahyono.

Fransiska yang tinggal di Depok juga menyebut hal yang sama. Mudik itu tak mengenal agama. Lebaran di Indonesia adalah milik masyarakat. Itulah sebabnya meskipun bukan muslim, Fransiska selalu menyempatkan diri untuk mudik.

"Tak ada niat sedikit pun untuk pamer kesuksesan. Apalagi sukses materi. Karena semua perantau sudah sukses, sehingga tak saling mengagumi," kata Fransiska.

Kelancaran pelaksanaan tradisi mudik ini mengharuskan negara hadir untuk memfasilitasi. Semua ditata dengan baik. Sehingga ketika mudik ini menghasilkan hambatan atau tidak lancar, maka dengan mudah dituding negara tidak siap memfasilitasi pelaksanaan tradisi ini.

Seperti kasus Brebes Exit (Brexit) yang menyebabkan kematian pemudik karena terjebak macet berpuluh jam. Pemerintah selaku penanggungjawab penyediaan infrastruktur jalan, tentu tak mau begitu saja disalahkan.

Penyebab kemacetan ini konon sudah ketemu, yakni kesalahan masa lalu. Kosa kata masa lalu itu ketika disebut semua akan melayangkan ingatan ke masa-masa yang telah berlalu. Sekadar masa presiden yang telah lalu? Rasanya terlalu dekat karena presiden yang lalu hanyalah pewaris kekuasaan presiden yang juga telah lalu.

"Begitu seterusnya. Mudik yang harusnya menjadi katarsis, diubah menjadi sebuah masalah dan dirumuskan solusinya secara teknis," kata Prie.

4 of 4

Saksikan video menarik di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓