Ramadan Tak Mengendurkan Semangat Rakyat Sudan untuk Menuntut Reformasi

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 14 Mei 2019, 21:20 WIB
Demonstran di Sudan menunggu berbuka puasa, tepat di tempat mereka melaksanakan aksi protes duduk di Khartoum (AFP PHOTO)

Liputan6.com, Khartoum - Lebih dari sebulan sejak presiden Sudan Omar al-Bashir dikudeta oleh militer pada 11 April 2019, kerumunan massa masih berkemah - siang dan malam - di depan markas tentara di ibukota, Khartoum, bahkan hingga hari ke-10 Ramadan.

Mereka merasa dewan militer menunda-nunda untuk menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan sipil - dan bertekad bahwa energi selama melaksanakan aksi protes duduk tidak berkurang selama Ramadan, ketika rakyat Sudan yang mayoritas Islam tidak makan atau minum antara fajar dan matahari terbenam.

Sebuah nuansa Ramadan dapat dirasakan di sekitar lokasi protes berlangsung setelah matahari terbenam ketika orang-orang berkumpul untuk berbuka puasa.

Beberapa saat setelah doa untuk berbuka puasa, para pengunjuk rasa mulai meneriakkan: "Sebuah pemerintahan sipil atau revolusi selamanya," jurnalis BBC di Khartoum, Zeinab Mohammed melaporan, dikutip pada Rabu (15/5/2019).

Nyanyian lain yang sering diikuti adalah: "Aku tidak akan kembali, aku punya tuntutan."

Ribuan orang mulai berdatangan - beberapa membawa makanan dan minuman sendiri dari rumah, yang lain memasak sendiri dalam wajan besar di ruang duduk. Semua pangan khusus bagi mereka yang melaksanakan puasa.

Makanan juga disediakan oleh perempuan yang melakukan panggilan di media sosial agar sukarelawan pergi ke rumah mereka untuk mengambil panganan.

Banyak perusahaan juga mengambil botol air atau makanan di truk-truk besar, jadi tidak ada seorang pun yang melaksanakan aksi protes duduk di Khartoum, Sudan merasa lapar atau haus di malam hari.

2 of 2

Ingin Perubahan

Ilustrasi krisis dan revolusi Sudan (AFP PHOTO)
Ilustrasi krisis dan revolusi Sudan (AFP PHOTO)

Ketika waktu untukĀ orasi dimulai, aktivis dan orang-orang biasa, yang tidak pernah bermimpi berbicara di depan umum, bangkit untuk berbicara kepada orang banyak, meski dahaga terasa selama puasa.

Mereka berbicara tentang dugaan kekejaman yang dilakukan oleh tentara dan milisi yang dekat dengan rezim lama - dan bagaimana keluarga mereka terpengaruh oleh hal itu.

Mikrofon di tangan, mereka menceritakan hal-hal yang belum pernah didengar banyak orang.

Banyak pembicara berasal dari daerah yang dilanda perang seperti Darfur atau Kordofan Selatan.

Beberapa orang menceritakan bagaimana mereka menjadi korban pembangunan bendungan di utara dan diusir dari rumah mereka.

Keluarga pengunjuk rasa yang terbunuh selama demonstrasi jelang kudeta Omar al-Bashir juga berbicara.

Sepanjang malam orang berbicara, meningkatkan kesadaran --ingin membuat protes mereka tetap diperhitungkan untuk sesuatu di masa depan.

Lebih banyak orang sekarang menghabiskan malam di tempat aksi protes duduk, apakah mereka duduk di kafe udara terbuka atau tidur di tanah atau rumput di dekat jalur kereta api terdekat.

Semuanya menunjukkan betapa cepatnya perkembangan di Sudan - dan para pemrotes ingin memastikan bahwa perubahan lebih lanjut berjalan sesuai keinginan mereka.

Lanjutkan Membaca ↓