Kondisi Ini Bisa Dialami Pasien Diabetes yang Nekat Puasa Tanpa Saran Dokter

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 09 Mei 2019, 06:15 WIB
Diperbarui 10 Mei 2019, 00:15 WIB
Ini 5 Mitos yang Sering Bikin Tidak Percaya Diri Saat Puasa

Liputan6.com, Jakarta Idealnya, orang dengan diabetes seharusnya melakukan konsultasi dengan dokter sebelum berpuasa Ramadan. Apabila nekat melakukannya, masalah kesehatan bagi beberapa orang dengan kondisi berisiko tinggi bisa saja muncul.

Juwalita Surapsari, dokter spesialis gizi klinik mengatakan seseorang dengan diabetes memiliki respon insulin yang turun. Insulin merupakan hormon yang keluar saat seseorang makan. Gunanya mengangkut gula dalam darah ke sel untuk dimetabolisme.

"Pada orang yang masih kacau, gula darahnya bisa turun atau tinggi, berarti insulinnya tidak efektif. Kalau dia nekat berpuasa, maka gula darahnya semakin tidak terkontrol lagi," kata Juwalita dalam temu media di Jakarta beberapa waktu yang lalu, ditulis Rabu (8/5/2019).

Ketika gula darah tidak terkontrol, darah menjadi jenuh dengan gula. Ini membuat gula menarik cairan seperti air. Sehingga, orang diabetes yang gulanya tinggi biasanya akan lebih sering buang air kecil.

"Kalau lebih banyak buang air kecil berarti status cairan dalam tubuhnya akan menurun atau dehidrasi," kata dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Pondok Indah, Jakarta ini.

Jika ini terjadi, maka otak juga akan terpengaruh. Khususnya pada orang tua, dehidrasi berat bisa membuat pasien pingsan.

 

2 of 3

Kondisi Aman Puasa Pada Orang dengan Diabetes

Karena itu, orang diabetes diminta untuk menemui dokter apabila ingin melaksanakan puasa di bulan Ramadan. Ketahui juga berbagai gejala yang pernah dialami. Misalnya, apabila mengalami hipoglikemia atau gula darah rendah berulang dalam tiga bulan terakhir.

Selain itu, Juwalita mengatakan, rajinlah memeriksa kondisi gula darah. Terutama jika Anda memiliki alat cek gula darah mandiri.

Orang dengan diabetes sendiri boleh puasa ketika dia memiliki risiko rendah. Dalam temu media secara terpisah, Ketut Suastika, pakar endokrinologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, mengungkapkan beberapa klasifikasi terkait risiko puasa bagi orang dengan diabetes.

Dalam klasifikasi ini, pasien diabetes yang boleh puasa adalah mereka yang mampu mengendalikan kondisi diabetes melitusnya, serta diterapi dengan pola hidup yang baik atau dengan pengobatan berjenis metformin, acarbose, terapi inkretin (penghambat DPP-4 atau GLP-1 RA), Sulfonilurea generasi kedua, penghambat SGLT, TZD atau insulin basal, serta individu yang sehat.

Apabila Anda sudah masuk dalam kategori di atas, puasa bisa dilakukan. Tentunya, dengan memperhatikan pola makan dan pengobatan serta gaya hidup dan aktivitas yang dilakukan sesuai anjuran dokter.

3 of 3

Simak juga video menarik berikut ini

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by