Letusan Meriam Jadi Penanda Waktu Ramadan 2019 di Dubai

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 03 Mei 2019, 21:20 WIB
Diperbarui 03 Mei 2019, 21:20 WIB
Ilustrasi Ramadan
Perbesar
Ilustrasi Ramadan (sumber: iStock)

Liputan6.com, Dubai - Sejumlah meriam disiapkan oleh otoritas Dubai, Uni Emirat Arab yang akan difungsikan sebagai penanda waktu selama Ramadan 2019.

Dua letusan meriam akan terdengar pada awal dan akhir bulan suci, guna menandai dimulainya dan selesainya bulan puasa Ramadan.

Sementara setiap harinya selama satu bulan Ramadan penuh, satu letusan meriam akan dilakukan untuk menandai waktu iftar, demikian seperti dikutip dari Gulf News, Jumat (3/5/2019).

Mayor Abdullah Tarish dari Departemen Umum Organisasi Keamanan dan Perlindungan Darurat, mengatakan Polisi Dubai sedang mempersiapkan meriam yang akan mengumumkan penampakan (hilal) jelang Ramadan 2019, seperti yang telah menjadi tradisi sejak awal 1960-an.

Tarish mengatakan departemen memiliki enam meriam, termasuk empat inti dan dua cadangan, yang akan digunakan jika terjadi kerusakan.

Meriam buatan Inggris itu memiliki rasio kekuatan suara sebesar 170 desibel, agar suara mampu menjangkau sebagian besar komunitas perumahan di Dubai sebelum pembangunan kota membatasi jangkauannya.

Sekelompok petugas telah ditugaskan untuk memastikan meriam tersebut diangkut ke tempat-tempat yang dipilih di Burj Khalifa, tempat sholat Idul Fitri di Al Mankhool dan Al Baraha, Madinat Jumeirah dan di Dubai City Walk jelang Ramadan 2019.

2 dari 2 halaman

Astronom: Awal Ramadan Mulai 6 Mei

Ilustrasi Ramadan. (Pixabay)
Perbesar
Ilustrasi Ramadan. (Pixabay)

Sementara itu, International Astronomical Centre atau Pusat Astronomi Internasional telah memperkirakan awal Ramadan. Menurut pengamatan mereka, dimulainya bulan suci umat Muslim itu jatuh pada 6 Mei di sebagian besar negara-negara pemeluk Islam.

"Mengamati bulan sabit akan mustahil dari Asia Timur dan Tenggara serta Eropa Selatan dan sebagian besar negara-negara Arab pada Minggu, 5 Mei," kata Direktur Pusat Astronomi, Mohammad Shawkat seperti dikutip dari Gulf News, Jumat 2 Mei 2019.

Mohammad Shawkat kemudian menegaskan bahwa akan mungkin untuk melihat bulan hanya dengan teleskop.

"Melihat bulan akan sulit di negara-negara Afrika Barat dan Selatan dan sebagian besar AS, sementara itu akan relatif lebih mudah di Amerika Tengah," tambahnya.

Sebelumnya, seorang astronom Kuwait juga menyebut bahwa bulan puasa Ramadan akan dimulai pada Senin 6 Mei.

Adel Al Saadoon mengatakan bulan sabit yang menandai awal bulan yang dimuliakan oleh umat Islam akan mudah terlihat pada Minggu 5 Mei. Namun ia tak menyebut detail di mana lokasi penampakan bulan akan mudah terlihat.

"Itu bisa dilihat dengan mudah tanpa perlu teleskop," tambahnya. "Bulan Ramadan akan berlangsung 29 hari tahun ini."

Ramadan adalah bulan kesembilan dari kalender Islam berbasis 12 bulan bulan yang diikuti oleh umat Islam. Bulan hijriyah berlangsung selama 29 atau 30 hari tergantung pada penampakan bulan sabit untuk total 354 hari dalam setahun.

Lanjutkan Membaca ↓